<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562</id><updated>2012-01-20T20:26:14.931+08:00</updated><category term='Berita Jembrana'/><category term='Teater'/><category term='Tourism'/><category term='Buku'/><category term='Agenda'/><category term='Lomba'/><category term='Politik'/><category term='Renungan'/><category term='Ketenagakerjaan'/><category term='Hukum'/><category term='Pendidikan'/><category term='Agama'/><category term='Uncategorized'/><category term='Sosial'/><category term='Perempuan'/><category term='Musik'/><category term='Press Release'/><category term='Media'/><category term='Semi Privasi'/><title type='text'>Sudut Mata</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>62</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7949963695724692015</id><published>2012-01-20T20:26:00.001+08:00</published><updated>2012-01-20T20:26:14.946+08:00</updated><title type='text'>Gong Xi Fa Cai</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eLZjX93M5tU/Txlc-F0-PLI/AAAAAAAAAsY/_YjUTYzxx_s/s1600/3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-eLZjX93M5tU/Txlc-F0-PLI/AAAAAAAAAsY/_YjUTYzxx_s/s400/3.jpg" width="279" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Design: Wendra Wijaya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Selamat Tahun Baru Imlek, 23 Januari 2012. Selamat sejahtera di bumi dan di langit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7949963695724692015?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7949963695724692015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2012/01/gong-xi-fa-cai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7949963695724692015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7949963695724692015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2012/01/gong-xi-fa-cai.html' title='Gong Xi Fa Cai'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-eLZjX93M5tU/Txlc-F0-PLI/AAAAAAAAAsY/_YjUTYzxx_s/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-326083087792050659</id><published>2011-09-23T17:43:00.001+08:00</published><updated>2011-09-24T10:09:11.161+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teater'/><title type='text'>Revitalisasi Komunikasi dan Menghidupi Teater</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;SETIAP&lt;/b&gt; kesenian, dengan berbagai ragam bentuk dan jenisnya, tak dapat dipungkiri membawa misi dan muatan untuk membuka mata batin siapa saja yang menikmatinya. Sengaja saya gunakan istilah menikmati di sini untuk membedakannya dengan pemahaman menonton, kecuali sesni hanya sebagai hiburan. Secara kasuistik, orang-orang yang datang (dan berharap) menikmati sebuah pertunjukan, seringkali terperangkap pada kealpaan untuk menangkap muatan yang ditanamkan dalam sebuah pertunjukan. Maka, mereka tak lebih hanya berada pada posisi menonton –dengan berbagai kegamangan dan tanda tanya, bukan menyaksikan apalagi menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kemudian, kesenian dan pelaku seni berlaku dinamis. Perubahan demi perubahan terjadi sebagai keniscayaan zaman. Ya, salah satu keunggulan dari manusia adalah keikhlasan untuk senantiasa berubah, berkembang, sekaligus mencatat kehilangan demi kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wX0vyFlBJCM/TnxUs3QkfwI/AAAAAAAAArY/Ww6kEam-93k/s1600/tantri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-wX0vyFlBJCM/TnxUs3QkfwI/AAAAAAAAArY/Ww6kEam-93k/s400/tantri.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perkembangan dan keikhlasan atas setiap kehilangan terasa benar ketika Parade Teater Bali 2011 digelar. Berbagai revitalisasi bentuk dalam pertunjukan teater secara gamblang ditunjukkan, meski sebenarnya beberapa perubahan tersebut telah terjadi sejak lama. Contoh sederhana, Tantri karya Putu Satria Kusuma dari Kampung Seni Banyuning-Singaraja, misalnya, mengoyak-ngoyak kedalaman penikmatnya dengan konsep teater kampung yang menyilangkan nilai tradisi dan kontemporer. Atau lihat pula Bali Eksperimental Teater-Jembrana dengan Rezim-nya yang menghilangkan kata untuk menghapus jarak bahasa dengan audience. Mereka hanya menggunakan gerak, suara, dan bunyi untuk menggantikan bahasa verbal yang pada umumnya dipergunakan dalam teater konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini terjadi pula pada kelompok lainnya yang berpartisipasi dalam Parade Teater Bali 2011: Teater Kini Berseri (Kisah Cinta dan Lain-Lain), Teater Sastra Welang (Orang Kasar), Teater Kampus Seribu Jendela (Kereta Kencana), Teater Jineng Smasta (Nyi Ontosoroh), Teater Lah 24 (Antigone), dan Teater Bendrat (Pesta Para Pencuri), yang mengambil bentuk berbeda satu sama lain, bermain-main dengan ragam artistik simbolik, dagelan, memunculkan satir dalam panggung pertunjukan. Namun demikian, seluruhnya, tetap berujung pada satu titik: terjadinya interaksi dua arah, bersamaan dengan tafsiran kreatif sebagai reaksi atas dinamika semesta kehidupan, dalam berbagai eksplorasi bentuk, gerak, dan dialektika. Ini sejalan dengan pemahaman teater oleh Bernard Beckerman dalam bukunya &lt;i&gt;Dynamics of Drama&lt;/i&gt;, yang mendefinisikannya sebagai, yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Dilematis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teater tumbuh dan berkembang, jelas karena faktor seniman yang menghidupinya. Menghidupi, dalam pemaknaannya tentu tak lepas dari berbagai faktor kendala dan persoalan yang dihadapi. Secara jujur juga harus diungkapkan, kebanyakan kelompok teater masih kewalahan dalam setiap akses pendanaan untuk menunjang pementasan. Sebuah persoalan klasik, yang berpengaruh begitu besar terhadap sebuah pertunjukan. Maka seniman pun berada pada posisi dilematis dalam menghidupi kelompok teaternya sendiri, terengah-engah dalam pergulatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tetap saja, pertunjukan teater sebagai ekspresi estetik artistik berjalan walau hanya dengan dana yang minim dan pas-pasan. Dalam posisi seperti ini, seniman, hampir dapat dipastikan, tidak akan mendapatkan kepuasan total dalam kerja seninya. Berbagai letupan inspirasi dan keinginan jarang sekali menemukan pelampiasannya. Secara sadar atau tidak, mereka seringkali “merasa gagal” menerjemahkan konsep artistik pemanggungan yang tersimpan di dalam ruang imajinasi yang liar, sehingga hanya bisa mengelus dada dengan melakukan eksplorasi yang disesuaikan dengan dana yang dimiliki sebelum karya dilempar ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah tantangan. Disamping meningkatkan kualitas pertunjukan, tentu saja, formulasi yang bisa diberikan, misalnya dengan membuka ruang-ruang dialog yang lebih komunikatif melalui pembebasan bahasa-bahasa simbol di atas panggung pertunjukan bisa dilakukan, tanpa harus mengabaikan kedalaman makna sebagai respon teks atas konteks. Langkah lain, misalnya, dengan merespon isu-isu kekinian, baik secara lugas liar maupun artistik simbolik yang dekat dengan keseharian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di tengah gempuran industrialisasi hiburan, teater (termasuk juga bentuk kesenian lainnya) juga harus mampu merespon setiap tantangan zaman yang dihadapinya. Jika tidak, hanya satu yang hampir bisa dipastikan akan terjadi: teater kembali mendekam di ruang-ruang sunyi, sepi, dan menyendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/guzwier"&gt;Foto: Agus Wiryadhi Saidi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-326083087792050659?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/326083087792050659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/revitalisasi-komunikasi-dan-menghidupi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/326083087792050659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/326083087792050659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/revitalisasi-komunikasi-dan-menghidupi.html' title='Revitalisasi Komunikasi dan Menghidupi Teater'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wX0vyFlBJCM/TnxUs3QkfwI/AAAAAAAAArY/Ww6kEam-93k/s72-c/tantri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6353762046015158237</id><published>2011-09-15T15:26:00.001+08:00</published><updated>2011-12-07T20:15:26.088+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teater'/><title type='text'>Rezim: Sebuah Bangunan (Tak Lagi) Menjadi Rumah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Sebuah bangunan, dalam pengertiannya baik secara harfiah maupun ketika menjadi simbolik, semestinya mampu menjadi rumah bagi apa saja. Menjadi ruang, menjadi waktu, menjadi apa pun yang memberi rasa aman serta nyaman bagi apa dan siapa saja yang berdiam di dalamnya. Lalu bagaimana jadinya ketika bangunan itu tak lagi menjadi rumah?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-M0NbSE45PN8/TnGobqMLRtI/AAAAAAAAArU/1BusLcLmxbU/s1600/9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-M0NbSE45PN8/TnGobqMLRtI/AAAAAAAAArU/1BusLcLmxbU/s400/9.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rezim, sebuah naskah yang (barangkali) tak pernah dituliskan oleh Nanaq da Kansas sebagai pencipta karya menghadirkan suasana tersebut dalam Parade Teater se-Bali 2011, Sabtu (10/9). Berbagai luapan emosi: amarah, kecintaan, kerinduan, kebencian, tumpang tindih dan berbaur, bahkan terkesan sangat absurd karena ketiadaan dialog sama sekali. Setidaknya, begitulah ingatan saya ketika menyaksikan pementasan Rezim oleh Bali Eksperimental Teater (BET) yang didirikan Nanoq  pada tahun 1993 di Negara, Jembrana-Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Batasan pengertian “rezim” dalam pementasan ini bisa saja adalah serangkaian peraturan, baik formal (konstitusi) dan informal (hukum adat, norma-norma budaya atau sosial, dll) yang mengatur pelaksanaan suatu pemerintahan dan interaksinya dengan masyarakat. Secara teoretis, “Rezim” dalam pementasan ini tidak mengandung implikasi apa pun tentang pemerintahan tertentu yang dirujuknya. Sebab, pada dasarnya, rezim adalah sebuah istilah yang netral, walaupun istilah ini sering juga digunakan dalam budaya populer dengan pengertian negatif atau menghina sebagai rujukan kepada pemerintah yang dianggap menindas dan tidak demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan diawali dengan senandung lagu Indonesia Pusaka oleh seorang perempuan yang menimang sapu lidi dari belakang kerumunan penonton di kejauhan. Nadanya getir, bahkan mengundang reaksi orang-orang yang menyebar diantara penonton. Mereka, orang-orang itu, perlahan terpancing untuk turut melagukannya. Masih dengan kegetiran yang sama, perlahan mereka bangkit, kemudian berkerumun di belakang Lisna Effendi, perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letupan-letupan emosi dimulai ketika orang-orang itu mulai mengubur sapu lidi dengan tumpukan batako yang banyak ada di sekitar panggung. Kemudian, ledakan pun terdengar. Perempuan itu kembali bernyanyi, kali ini lebih merupakan senandung. Mengaduk-aduk setiap pertarungan-pertarungan dan konflik yang mengada dalam sebuah wajan aluminium. Ya, wajan itu tak lebih sebagai konstruksi, juga bangunan yang dibuat sebagai panggung, tak lebih adalah konstruksi. Hanya konstruksi, ia tak berhasil menjadi rumah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba perempuan itu meringis. Ia berteriak! Seorang lelaki terlahir lahir dari rahimnya. Sementara di belakangnya, lelaki lain telah bersiaga dengan sebilah pedang. Garang, lelaki itu menusuk, mencabik setiap apa pun yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, apa yang ditampilkan BET dalam Parade Teater se Bali 2011 tidaklah banyak mengalami perubahan, kecuali sedikit tambal sulam di beberapa bagian, entah itu penggunaan properti maupun babakan-babakan adegan dalam visualisasinya. Meski masih “setia” menggunakan telur, tali, dan pedang sebagai media bermainnya dalam Rezim, kali ini Nanoq juga menggunakan kelapa-kelapa kering yang digantung dan lebih menyerupai kepala manusia, (yang barangkali) sebagai simbol manusia dan kemanusiaan yang berada dalam wilayah ketertindasan. Tidak hanya itu, Nanoq juga menggunakan lelakut (orang-orangan sawah –pen), beras, jagung, dan air dalam pertunjukannya kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Mencekam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suasana sunyi yang mencekam memang mendominasi pertunjukan malam itu. Salah seorang penonton, Sista Nirmala dalam sebuah komentarnya di facebook mengaku merinding menyaksikan Rezim yang dimainkan Lisna Effendi dan warga dusun senja. Selain itu, kebosanan yang berkepanjangan juga melanda para penonton pada adegan-adegan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nanoq, ia memang sengaja menciptakan kebosanan sebagai representasi Rezim. Itu juga merupakan letupan emosi yang memang diinginkannya sebagai sutradara, selain ketercekaman, kesunyian, amarah, termasuk juga rasa paling purba dalam kehidupan manusia; cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan-tumpukan rasa inilah yang sebenarnya ada dalam sebuah rezim, mengada di kehidupan dan keseharian kita sebagai seorang manusia dalam sebuah peradaban. Yang membuat perbedaan hanyalah, bagian rasa yang mana yang akan mendominasi ketika bernaung di bawahnya, hanya kita yang mampu memosisikannya. Semuanya dikembalikan kepada penonton, kepada kita semua. Apakah yang akan kita pilih ketika sebuah bangunan tak lagi menjadi rumah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu Padamu Negeri terdengar. Orang-orang bergegas, berusaha merobohkan bangunan. Lampu padam. Itu saja!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6353762046015158237?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6353762046015158237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/rezim-sebuah-bangunan-tak-lagi-menjadi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6353762046015158237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6353762046015158237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/rezim-sebuah-bangunan-tak-lagi-menjadi.html' title='Rezim: Sebuah Bangunan (Tak Lagi) Menjadi Rumah'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-M0NbSE45PN8/TnGobqMLRtI/AAAAAAAAArU/1BusLcLmxbU/s72-c/9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-569881278914025386</id><published>2011-09-03T17:38:00.002+08:00</published><updated>2011-09-03T17:42:01.271+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Ayu Laksmi-Svara Semesta: Memersatukan Keberagaman Lewat Suara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika agama, suku bangsa, bahasa, maupun berbagai keberagaman masih menimbulkan pergesekan-pergesekan, maka suaralah yang akan menyatukan. Suara sebagai karya pertama Sang Pencipta yang dimiliki semua mahluk hidup (sarwa prani) mengingatkan akan kesamaan dasar secara substansial alasan sebuah kelahiran. Bahwa, setiap mahluk yang dilahirkan atau diciptakan memiliki fungsi dan perannya masing-masing dalam semesta kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GJ5WtQ_Nj6Y/TmHzyOr5YII/AAAAAAAAArI/nD8K2G_phm4/s1600/1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://3.bp.blogspot.com/-GJ5WtQ_Nj6Y/TmHzyOr5YII/AAAAAAAAArI/nD8K2G_phm4/s400/1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Ayu Laksmi dan penari I Nyoman Sura menerjemahkan makna tembang Maha Asa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Foto: I Gusti Dibal&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di sinilah Svara Semesta –komposisi karya-karya Ayu Laksmi menjadi penting. Apa yang dipresentasikan dalam Svara Semesta merupakan simbol-simbol lembut yang memberi motivasi dan menggugah kesadaran akan perbedaan. Kesadaran akan desa, kala, patra, kesadaran untuk mempersatukan anak-anak semesta. Bukan lewat agama, melainkan penyatuan melalui spiritualisme. Merekatkan anak-anak semesta, ketika bencana demi bencana, peperangan, dan kekuasaan begitu memerihkan hidup. Melakukan doa untuk semesta, doa untuk masa ini, dan kelahiran nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Karya-karya dalam Svara Semesta merupakan penerjemahan kelembutan rasa melalui pertalian perasaan-perasaan estetika yang menyatukan getaran hati melalui suara keindahan. Ia akan membawa, mendirikan atau menghidupkan kembali sesuatu yang pernah ada. Mengembalikannya ke tempat semula, posisi yang sesungguhnya. Menyegarkan atau mempertemukan kembali sesuatu yang pernah hilang,” tutur Ayu Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Svara Semesta bukanlah album rohani meski tak dapat dipungkiri bernafaskan spiritualisme. Kearifan lokal yang menjadi ruh setiap karya Laksmi secara sadar dikelola untuk membuka ruang bagi pesan-pesan cinta kasih kepada sesama manusia, semesta, dan Sang Pencipta yang sengaja ditanam Laksmi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada akhirnya, suaralah yang akan mempersatukan. Suara tak terkekang bahasa, sehingga bisa diterima seluruh lapisan dengan berbagai latar belakang budaya, suku bangsa, warna kulit, dan bahasa yang berbeda,” demikian Laksmi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-569881278914025386?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/569881278914025386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/ayu-laksmi-svara-semesta-memersatukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/569881278914025386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/569881278914025386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/09/ayu-laksmi-svara-semesta-memersatukan.html' title='Ayu Laksmi-Svara Semesta: Memersatukan Keberagaman Lewat Suara'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GJ5WtQ_Nj6Y/TmHzyOr5YII/AAAAAAAAArI/nD8K2G_phm4/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Denpasar, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-8.65629 115.22209900000007</georss:point><georss:box>-8.733804000000001 115.17150600000006 -8.578776 115.27269200000008</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5133166981482505649</id><published>2011-04-10T23:09:00.001+08:00</published><updated>2011-04-10T23:11:31.567+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Koin Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P8imLt84-f8/TaHH4W4pILI/AAAAAAAAAqs/yUWA7R2G538/s1600/koin+sastra.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://4.bp.blogspot.com/-P8imLt84-f8/TaHH4W4pILI/AAAAAAAAAqs/yUWA7R2G538/s400/koin+sastra.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin merupakan salah satu dari sedikit "monumen sastra" yang dimiliki bangsa ini. Kini Perpustakaan dan museum sastra ini terancam gulung tikar akibat kesulitan menutupi biaya operasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Demi melestarikan eksistensi situs budaya ini, marilah bersama-sama kita sisihkan uang koin untuk membantu pelestarian salah satu aset kebudayaan bangsa Indonesia yang paling berharga. Penggalangan dana Koin Sastra ini akan melibatkan puluhan artis dan seniman, yang akan diselenggarakan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Rabu, 13 April 2011&lt;br /&gt;Waktu        : 19.00 Wib&lt;br /&gt;Tempat       : Bentara Budaya Jakarta, Jln. Palmerah Selatan 17, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkan Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, selamatkan sejarah budaya bangsa Indonesia. Bawalah cinta, dari kita untuk Indonesia. Selamat berjumpa!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5133166981482505649?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5133166981482505649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/04/koin-sastra.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5133166981482505649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5133166981482505649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/04/koin-sastra.html' title='Koin Sastra'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-P8imLt84-f8/TaHH4W4pILI/AAAAAAAAAqs/yUWA7R2G538/s72-c/koin+sastra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8729213494869872838</id><published>2011-03-05T16:16:00.005+08:00</published><updated>2011-03-05T20:44:49.331+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Bayang-Bayang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM &lt;/span&gt;malam, aku memandangmu. Dari kejauhan. Sama sepertimu. Hanya saja, kita sama-sama berdiam. Membiarkan gerak angin mendekap namaku, namamu. Melambungkan, menghempasnya sekaligus. Seperti lenguh yang kau ciptakan di akhir percakapan. Lalu sunyi, kembali bekerja. Dalam hatimu, hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iEiLmOCgJzs/TXHy4MWMtoI/AAAAAAAAAqg/rpnBfb7d6OA/s1600/and_my_shadow_b.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iEiLmOCgJzs/TXHy4MWMtoI/AAAAAAAAAqg/rpnBfb7d6OA/s400/and_my_shadow_b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580508460489684610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kau masih saja bungkam. Mengunci bahasa-bahasa yang kian memberontak, yang lahir dari tubuhmu. Mengurungnya dalam sekat tak bernama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin mengenangmu. Menyusuri jejakmu pada lintasan berdebu, pohon-pohon tua, trotoar-trotoar, dan riuh pedagang di emper-emper pertokoan. Ketika itu, hari-hari masih bernama, meski tetap bersetia dengan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;Kisah kita adalah malam: gelap yang tertikam dalam-dalam kesunyian. Sunyi yang melahirkan suara-suara di kedalaman.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Seperti suaramu, membawaku melebur dalam tubuhmu, lalu menjelma bayang. Berlalu, dan pergi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8729213494869872838?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8729213494869872838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/03/bayang-bayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8729213494869872838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8729213494869872838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/03/bayang-bayang.html' title='Bayang-Bayang'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iEiLmOCgJzs/TXHy4MWMtoI/AAAAAAAAAqg/rpnBfb7d6OA/s72-c/and_my_shadow_b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-649888578218076155</id><published>2011-03-03T13:13:00.004+08:00</published><updated>2011-03-03T13:20:33.240+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Tragically Romantic Something El: Cinta dalam Secangkir Kopi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-SXbSFbG6les/TW8kA51eGtI/AAAAAAAAAqY/t8Pi7LuD4j8/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 269px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-SXbSFbG6les/TW8kA51eGtI/AAAAAAAAAqY/t8Pi7LuD4j8/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579718061279025874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CINTA &lt;/span&gt;merupakan rasa paling purba dalam kehidupan manusia. Ia hadir dan mengalir, sebagai sebentuk energi yang menguatkan sekaligus melemahkan, membuka kesadaran sekaligus membutakannya. Definisi cinta seperti inilah yang diterjemahkan Something El dalam album perdananya, Tragically Romantic, yang diluncurkan di Newseum, Jakarta, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragically Romantic berisikan 11 kisah sederhana tentang cinta berbahasa Indonesia dan Inggris. Tema yang relatif “ringan” ini justru menjadikan karya-karya Something El menjadi lebih sublim, karena memiliki kedekatan history dengan siapa saja. Dalam hal ini, Something El yang digawangi Lutphi Alman dan Ladrina Bagan, dapat dikatakan cukup cerdas dalam memandang realitas yang terjadi di sekitar, sekaligus mengolahnya dalam ramuan musik yang sederhana, segar, namun tak lepas dari latar belakang kisah yang mendasari proses penciptaan karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cinta itu ajaib, dan seringkali tak terduga. Banyak hal bisa terjadi ketika diliputi rasa cinta. Bahkan tak jarang, cinta yang dirasakan tak sejalan dengan realitas yang tengah dihadapi. Begitu banyak aturan dan dinding-dinding yang menyekat sebuah kisah cinta. Pertanyaan-pertanyaan tentang cinta seringkali menghinggapi benak setiap insan. Salah satu lagu Something El berjudul Adakah yang Salah yang sekaligus menjadi single Tragically Romantic berupaya menerjemahkan realitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;adakah yang salah dengan cintaku&lt;br /&gt;adakah yang salah dengan rasaku&lt;br /&gt;aku suka dia, dia pun juga&lt;br /&gt;tapi tak boleh bersama&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Atau simak pula dalam lagu Love’d. Keajaiban cinta nampak pada lagu berbahasa Inggris yang mengisahkan tentang seorang anak mencintai calon ayah tirinya sendiri. Meski masih terbilang tabu, hal-hal seperti ini sebenarnya tengah dan telah terjadi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;yes, i know tomorrow&lt;br /&gt;i should call you daddy&lt;br /&gt;coz my mom loves you&lt;br /&gt;and you will marry her&lt;br /&gt;but oh daddy i really in love with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;when i say i'm in love that is you&lt;br /&gt;i'm in love with you&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Kesederhanaan lirik menjadi salah satu kekuatan Something El. Mereka berusaha mendekatkan diri dengan para pendengarnya, “mengulas” realitas dengan bahasa yang ringan, takaran musik simple akustik yang sederhana nan segar, sehingga tak perlu mengernyitkan kening untuk lebih memahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati dari lagu, lirik, dan garapan musikalitasnya, Something El berhasil membebaskan diri dari godaan meng-indah-indahkan sebuah karya. Karena pada prinsipnya, sebuah karya yang baik adalah buah daya tanpa upaya melakukan pengingkaran-pengingkaran atas keberadaannya. Dalam konteks ini adalah, bagaimana keikhlasan untuk membiarkan karya-karya yang tercipta tetap terjaga utuh, dengan mengabaikan selera mayoritas pasar sehingga tidak terjebak dalam industrialisasi yang kini tengah berlangsung dalam dunia industri musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladrina Bagan (vocal), mengatakan cinta dalam karya Something El merupakan sebuah perpaduan yang dapat dikatakan sempurna, dengan racikan yang tepat pula segar. Jika bisa diibaratkan, kisah cinta dalam Tragically Romantic Something El merupakan kombinasi rasa sempurna dalam secangkir kopi: sedikit pahit, namun diminati dan tetap mampu dinikmati setiap saat. Ia merupakan harmonisasi perbedaan yang saling bersinergi sehingga menghasilkan “rasa” yang diinginkan, tergantung kepiawaian dalam menempatkan, meramu dan menerjemahkan setiap rasa yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Lutphi Alman (gitar/kibord) berkeyakinan, setiap musik memiliki penikmatnya tersendiri. Ia pun tak ragu meramu musik sesuka hati, menuangkan idealisme dan rasa yang muncul ketika pembuatan lagu maupun saat proses rekaman berlangsung, dengan membuka diri meleburnya setiap genre musik yang ada dalam karya-karya Something El.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto dari &lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=186526418051379&amp;amp;set=a.186526091384745.34942.100000820674371"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-649888578218076155?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/649888578218076155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/03/tragically-romantic-something-el-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/649888578218076155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/649888578218076155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/03/tragically-romantic-something-el-cinta.html' title='Tragically Romantic Something El: Cinta dalam Secangkir Kopi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-SXbSFbG6les/TW8kA51eGtI/AAAAAAAAAqY/t8Pi7LuD4j8/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-1513386367204859614</id><published>2011-02-25T16:38:00.005+08:00</published><updated>2011-04-01T23:42:23.297+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>PAST 2011</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bPR_14PQM74/TWdsD3ZCQbI/AAAAAAAAAqQ/xzr0H5rCGP0/s1600/Seorang%2BRemaja%2BMembaca%2BPuisi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577545477186011570" src="http://3.bp.blogspot.com/-bPR_14PQM74/TWdsD3ZCQbI/AAAAAAAAAqQ/xzr0H5rCGP0/s400/Seorang%2BRemaja%2BMembaca%2BPuisi.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya sastra menghadirkan dan memberikan kebebasan dalam upaya penggalian teks terhadap konteks. Demikian pula dengan sebuah puisi, ia menjadi semacam ruang dialogis dalam upaya untuk menemukan unsur-unsur terdalam dari kekayaan sebuah bait, baris, kata, bahkan sebuah tanda baca: entah berupa fragmentasi puisi ataupun musik puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mendukung penggalian kreativitas dalam rangka meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra, Komunitas Kertas Budaya kembali menyelenggarakan Lomba Fragmentasi Puisi dan Musik Puisi pada Pekan Apresiasi Sastra dan Teater (PAST) Jembrana 2011, yang akan berlangsung pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Rabu, 20 April s/d Sabtu, 23 April 2011&lt;br /&gt;Pukul   : 09.00 – selesai&lt;br /&gt;Tempat  : Wantilan Pura Jagatnatha dan Panggung Terbuka Jembrana Tower&lt;br /&gt;Negara, Jembrana - Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran sudah dibuka sejak 1 Februari 2011. Setiap peserta dimasing-masing kompetisi kreativitas dikenakan biaya Rp 100 ribu sebagai pengganti biaya cetak materi dan makanan ringan saat acara berlangsung. Selamat menjelajah kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-1513386367204859614?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/1513386367204859614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/past-2011_25.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1513386367204859614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1513386367204859614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/past-2011_25.html' title='PAST 2011'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bPR_14PQM74/TWdsD3ZCQbI/AAAAAAAAAqQ/xzr0H5rCGP0/s72-c/Seorang%2BRemaja%2BMembaca%2BPuisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2167353379541829469</id><published>2011-02-03T01:28:00.010+08:00</published><updated>2011-02-07T23:38:41.910+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Ladrina Bagan; Penjelajahan Kreativitas Tiga Kota</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LADRINA &lt;/span&gt;Bagan, lahir pada tanggal 31 Januari 1990 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan nama Leyla Adrianti Hermina Bagan. Lahir sebagai buah cinta pasangan Akhmad Johansyah Bagan dan Yenny Pranoto, sejak kecil ia telah dibiasakan bersentuhan dengan dunia seni. Ladrina kecil bernyanyi dan menulis, mengekspresikan setiap apa pun yang terjadi di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dewasa, Ladrina mulai serius bermusik bersama enam perempuan kreatif The Jumping Balloons di Purwekerto di usia 17 tahun. Dengan mengusung konsep indepop vintage, ia berhasil mencuri perhatian publik dengan karakternya yang riang, bahkan terkesan centil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmXy5xyGVI/AAAAAAAAAps/dh_omhGe9_E/s1600/by%2Bbayu%2Bbergas.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmXy5xyGVI/AAAAAAAAAps/dh_omhGe9_E/s400/by%2Bbayu%2Bbergas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569149314979207506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersama The Jumping Balloons, Ladrina mulai menciptakan lagu. Keterbatasannya memainkan alat musik tak menjadi hambatan bagi mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini untuk berkarya. Sebagian besar karyanya tercipta secara spontan, dan mengalir. Ia membiarkan seluruhnya berjalan apa adanya sebagai bentuk penghormatan atas budaya proses, melebur dalam maha seni kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peristiwa ditangkap dan diterjemahkan Ladrina dalam karya-karyanya: tentang mitos sore hari, tentang putri, tentang cinta, tentang karya, tentang hidup. Ketertarikan dan kemampuannya menulis memudahkan Ladrina menciptakan syair lagu yang kuat dan sederhana. Ia menjelajah keluasan kata dalam penciptaan lirik sehingga karya-karyanya lebih sublim, menjadi milik siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelajahan kreatif bermusik dilakukan Ladrina saat membentuk Innerva di tahun 2008. Bersama salah seorang temannya, Kirey, yang kuliah di ISI Yogjakarta, ia mulai memainkan musik bernafaskan ethnic-electrik-shoegaze, aliran musik yang sangat disukainya. Jarak Purwokerto-Yogjakarta tidaklah menghalangi mereka dalam peleburan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya pun terekam dan mulai mengisi ruang-ruang dengar publik. Single pertama Innerva berjudul Child &amp;amp; Evil  menjadi pintu awal pertemuannya dengan Lutphi yang kemudian bekerja sama dengannya di Something el. Kembali ia membuktikan bahwa jarak bukanlah dinding pembatas yang menyekat peleburan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmYSJQzHHI/AAAAAAAAAp0/9lpGgk3mxqo/s1600/39132_1333861793815_1449168205_30787885_6434273_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmYSJQzHHI/AAAAAAAAAp0/9lpGgk3mxqo/s400/39132_1333861793815_1449168205_30787885_6434273_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569149851711773810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pertemuan Ladrina dan Lutphi yang dimediasi jejaring sosial seperti facebook dan yahoo massanger  akhinya menumbuhkan kesepakatan kreatif untuk bekerja sama dalam musik. Meski awalnya Lutphi bersikeras untuk menggarap solo album untuk Ladrina, toh akhirnya ia sepakat membentuk Something El dengan format simple acoustic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan senantiasa mengalir, bergerak tanpa rencana. Berkreativitas di tiga band di tiga kota yang berbeda: The Jumping Balloons (Purwokerto), Innerva (Yogjakarta-Purwokerto), dan Something El (Jakarta-Purwokerto), sempat menumbuhkan pesimisme dalam diri Ladrina Bagan untuk menjalani proses kreatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Lutphi di Something El, Ladrina Bagan belajar berproses lebih sistematis dan terencana, bersama-sama melebur ide kreatif dan kemampuan maksimum menjadi sebuah racikan dalam takaran dinamik yang tepat dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui rilisan perdana Something El berjudul Tragically Romantic yang bermaterikan sebelas lagu dengan komposisi dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, Ladrina mencoba menapak dan berpetualang di samudra show-biz yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmZIni3yGI/AAAAAAAAAp8/i6cr_mFThR4/s1600/Somethingel.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmZIni3yGI/AAAAAAAAAp8/i6cr_mFThR4/s400/Somethingel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569150787553577058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ekspresif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang kreatif dan ekspresif, keinginan Ladrina untuk melakukan eksplorasi seni tidaklah bisa dibendung. Di tahun 2010, di sela-sela persiapan launching album Something el, tawaran menggarap album solo diraih perempuan berdarah Dayak-Jawa ini dengan mengutamakan kebebasan berekspresi, sekaligus menawarkan kebebasan publik untuk memilih dan menikmati setiap karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penjelajahan ruh yang tak berbatas, Ladrina –yang menempatkan Adele, Inggrid Michaelson, Corrine Bailey Rae, dan Ayu Laksmi sebagai sosok inspiratif– menggali musikalitas dengan menyajikan delapan lagu yang akan menjadi materi solo albumnya. Dengan mengabaikan “kesakralan” sebuah genre, ia mencoba menjajal kemampuannya dengan menyanyikan lagu-lagu pop, blues, gloomy, acoustic, metal, dan lain-lain dalam album tanpa identitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladrina Bagan, hidup demikian sederhana dan indah. Letupan-letupan emosi dan imajinasinya tidak hanya dituangkan ke dalam musik, melainkan juga lewat sastra, lukisan, film pendek, hingga fotografi, yang dikreasikan dengan artistik dan kreatif. Kehidupan Ladrina yang disandarkan pada aktivitas berkesenian telah mendekatkan dirinya kepada apa saja. Sensitivitas dan kepedulian terhadap kemanusiaan pun melabuhkannya menjadi  Manager Kasus HIV, menjadi pendamping dan konselor bagi para penderita HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian memang senantiasa mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati pula, di usia yang relatif muda, ia berusaha mengembalikan setiap apa pun yang didapatkannya dari kehidupan, bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Untuk mendengar new track Ladrina Bagan, kunjungi &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.facebook.com/pages/Ladrina-Bagan/188176044539745?v=app_2405167945"&gt;Ladrina Bagan's Page&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.reverbnation.com/ladrinabagan"&gt;Reverbnation/Ladrina Bagan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;atas-bawah&lt;/b&gt;: Bayu Bergas, I Putu Dodi Mangkikit&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2167353379541829469?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2167353379541829469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/ladrina-bagan-penjelajahan-kreativitas.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2167353379541829469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2167353379541829469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/ladrina-bagan-penjelajahan-kreativitas.html' title='Ladrina Bagan; Penjelajahan Kreativitas Tiga Kota'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUmXy5xyGVI/AAAAAAAAAps/dh_omhGe9_E/s72-c/by%2Bbayu%2Bbergas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4008908403181583429</id><published>2011-02-01T10:43:00.004+08:00</published><updated>2011-02-01T10:55:19.816+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Perempuan dalam Penjara Tubuh Lelaki</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Ada dua kata kunci yang digeluti Ida Ayu Wayan Arya Satyani sebagai seorang penari, koreografer, penulis lirik, dan sutradara. Pertama, kehidupan sebagai proses upacara untuk “menjadi”; kedua, laku apa pun yang diperankan manusia merupakan persembahan kepada sesama manusia, semesta, dan Tuhan, yang memiliki kedekatan sangat erat dengan tradisi lokal. Dalam drama tari Legong Topeng Ni Dyah Tantri berdurasi hampir  60 menit yang dipentaskan di Panggung Genta Sidhi, Ambara Stage di Desa Mas, Ubud, Sabtu (29/1), ia dibantu rekannya I Made Tegeh Okta Wahyu Mahery (penata tari) dan I Wayan Rumika S.Sn (penata tabuh) menghadirkan kisah ini sebagai pergulatan-pergulatan yang terjadi di dalam dan diluaran seorang perempuan, termasuk pula penjara-penjara dalam tubuh lelaki.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUdzqpt7w4I/AAAAAAAAApc/rdv4VqQt5wQ/s400/pementasan%2B4.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568546640857121666" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam pandangan umum, kisah Ni Dyah Tantri dikenal sebagai dongeng pengantar tidur anak-anak di Bali yang sarat pesan dan makna. Ia menjadi inspirasi bagi gadis-gadis kecil pendengar kisah ini agar kelak tumbuh menjadi luh luwih (perempuan yang utama). Dalam aspek predhana dalam konsep purusha-predhana atau ardhanareswari, keberadaan perempuan sangat berpengaruh pada suatu proses penciptaan. Perempuan adalah garbha (rahim –dunia kecil) bagi suatu kelahiran kondisi (dunia besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kisah ini ditulis pada tahun 1728 oleh Ida Pedanda Nyoman Pidada dan Ida Pedanda Ketut Pidada, dua pedanda bersaudara dari Griya Punia Sidemen, Karangasem. Bertutur indah, menjalin puluhan bahkan ratusan versi kisah tentang binatang yang pandai bicara, layaknya cermin bagi manusia dalam menjalankan tata krama hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legong Topeng Ni Dyah Tantri berkisah tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh Prabu Eswaryadala. Ia seorang raja, didampingi pendeta utama, patih bijak bernama Ki Patih Bandeswarya, dan para punggawa di Kerajaan Patali, negeri makmur dan disegani para raja di wilayah Jambuwarsa. Di masa kekuasaannya, Prabu Eswaryadala mendengar senantiasa tembang yang mengalun merdu: suara-suara hening dalam dirinya sendiri, suara tentang pembebasan batas-batas kekuasaan antara seorang raja dengan rakyatnya. Toh dalam kenyataannya, Prabu Eswaryadala tak mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan. Kekuasaan, hawa nafsu, dan ke-aku-an sebagai seorang raja telah menjadi penjara-penjara bagi tubuhnya: sebuah batasan yang mengikat dan membelenggu dengan mengabaikan kebebasan nurani, bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titah raja adalah kuasa. Dan itu pun digunakan Prabu Eswaryadala untuk mempersunting perawan setiap harinya, kemudian memiliki Ni Dyah Tantri, putri Ki Patih Bandeswarya, pada akhirnya. Tiap malam, bunga negeri berguguran. Ni Dyah Tantri yang mengetahui kesedihan ayahnya akhirnya memutuskan dan meminta agar dirinya yang dihaturkan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam babak ini, menarik dicermati bagaimana Ni Dyah Tantri berusaha menumbuhkan dan memberi pemahaman bersikap kepada Prabu Eswaryadala sebagai seorang raja, dengan kisah-kisah yang diperankan oleh binatang yang divisualisasikan oleh Sekaha Wayang Dwipama. Sebagai sebuah simbolik, Ni Dyah Tantri merupakan bentuk keagungan dan kesempurnaan yang (semestinya) dimiliki seorang perempuan; cantik, cerdas, bijak, serta situasional. Dengan menggunakan dasar pelegongan dan patopengan, Dayu Ani –demikian Ida Ayu Wayan Arya Satyani akrab disapa—menampilkan Legong Topeng Ni Dyah Tantri secara dramatik dan berada pada wilayah abu-abu dengan menggunakan ragam simbolik yang memungkinkan lahirnya ruang penjelajahan makna yang demikian luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Otokritik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dipentaskannya Legong Topeng Ni Dyah Tantri yang sekaligus menjadi penanda Grand Opening Sanggar Genta Sidhi menjadi dua hal yang saling bersilangan. Seorang pemimpin, entah itu dalam skala kecil (bagi dirinya sendiri) maupun dalam kehidupan yang lebih universal, semestinya menikahi tiga aspek meliputi keindahan (sundharam), kebenaran (satyam), serta kesucian (siwam), yang melekat dalam tokoh Ni Dyah Tantri, yang diperankan Ida Ayu Wayan Prihandari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik dicermati di sini “keberanian” Dayu Ani menciptakan karya tersebut. Sebagai seorang perempuan, Dayu Ani tentu sangat menyadari kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam diri seorang perempuan, yang disadari atau tidak, turut berperan menciptakan penjara-penjara yang mengada dalam tubuh setiap lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus jujur bahwa tidak setiap perempuan mampu bersikap cerdas dan situsional. Dalam setiap tindakan, seorang perempuan acapkali lebih mengutamakan perasaan. Ini jelas tidaklah tepat. Perempuan adalah penyeimbang atas sifat dan sikap lelaki. Disini, kecerdasan dalam mengelola permasalahan dalam suatu kondisi wajib dimiliki setiap perempuan. Karya ini juga menjadi semacam pelecut yang mengingatkan diri saya sendiri bagaimana memosisikan diri sebagai perempuan,” tegasnya diantara beberapa penonton yang masih memadati Ambara Stage usai pementasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Desa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Legong Topeng Ni Dyah Tantri melibatkan puluhan penari dan penabuh, yang sebagian besar berasal dari Desa Mas. Diperkuat beberapa sanggar seni seperti Pasraman Saraswati Mahapradnya Desa Penyantur Saren, Budakeling; Sanggar Bajra Sandhi; Sekaha Wayang Dwipama; Ying Lu Na, pemain pipa asal China; serta pemain didgeridoo dan alat-alat tradisi asal Bandung bernama Ajat Lesmana, membuat pementasan tersebut seperti upaya pengumpulan daya dari desa. Ini sejalan dengan tujuan awal pembentukan Sanggar Genta Sidhi untuk mengembalikan kemurnian berbagai laku hidup yang senantiasa bergerak cepat dan dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengembalikan kemurnian hidup berarti harus siap melakoni setiap geraknya dengan sederhana dan kerendahan hati. Kesenian hadir sebagai salah satu daya upaya pembinaan manusia agar lebih mampu menghargai keberadaannya dalam sebuah hubungan jaringan sosial,” ucap Ayu Laksmi yang hadir dalam pagelaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi juga mengalir dari Cok Sawitri, budayawan,. aktor, sutradara, dan penulis asal Sidemen Karangasem. Menurutnya, seniman dalam konteks social capital adalah penggerak tindakan-tindakan estetik yang justru mencerminkan tindakan nyata dari keinginan, semangat kegotongroyongan yang diimpikan oleh negara. Sebuah stage dengan pemanggungan serta kreatornya, adalah penggerak dan tindakan dari gerakan sosial itu. Di masa depan, ia akan menjadi pembanding kekuatan yang kritis terhadap kapitalisasi yang tengah terjadi di segala lini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sanggar Seni Genta Sidhi tentu akan menjadi kontributor pada peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan peristiwa sosial, dan tanpa sadar akan menjadi kontributor pada pemerataan ekonomi. Ini akan terjadi jika ia tidak berkhianat pada prinsip-prinsip hubungan antar individu yang bermartabat dan menghormati harkat, serta menjauhi pemikiran ekonomi secara sempit, dengan memberi penghargaan terhadap human resourses manusia dan kemanusiaannya,” demikian Cok Sawitri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4008908403181583429?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4008908403181583429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/perempuan-dalam-penjara-tubuh-lelaki.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4008908403181583429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4008908403181583429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2011/02/perempuan-dalam-penjara-tubuh-lelaki.html' title='Perempuan dalam Penjara Tubuh Lelaki'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TUdzqpt7w4I/AAAAAAAAApc/rdv4VqQt5wQ/s72-c/pementasan%2B4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2582579832424137187</id><published>2010-12-23T01:12:00.007+08:00</published><updated>2010-12-23T01:27:46.627+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Svara Semesta; Refleksi Kehidupan Ayu Laksmi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Musik dalam kesejatiannya hadir dan mengalir sebagai cermin kebebasan nurani. Serupa doa yang lahir dari keheningan interaksi dialogis terhadap apa saja, ia menjadi bentuk persembahan dan pengagungan. Demikian kesadaran yang menyusup keheningan jiwa Ayu Laksmi. Lewat lagu-lagunya yang terangkum dalam album Svara Semesta, ia memosisikan dirinya sebagai objek atas kompleksitas pergulatan kehidupan manusia.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Album Svara Semesta yang dilaunching di Bentara Budaya Jakarta bermaterikan 11 lagu, dimana sebagian besar merupakan karya yang lahir dari kegelisahannya sendiri. Inilah jawaban atas “menghilangnya” Laksmi dari dunia industri musik Indonesia selama hampir 18 tahun, sesaat setelah album pertamanya Istana yang Hilang dilempar dan tak laku di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kembalinya Laksmi dalam dunia hiburan tentu menjadi sesuatu yang menarik. Kini tak mungkin lagi menemukan dirinya dalam balutan kostum serba hitam dalam karakter seorang rocker. Kehidupan telah merubahnya menjadi sesosok yang anggun, dengan gerai busana putih dan bertelanjang kaki; cermin keinginannya menyatu dengan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TRI05dJ7kyI/AAAAAAAAApQ/YYVlGa_nxE0/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TRI05dJ7kyI/AAAAAAAAApQ/YYVlGa_nxE0/s400/1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553559452184711970" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti diakuinya, Laksmi seolah menemukan titik balik karir bernyanyi di tahun 2004. Ia mulai menyadari bahwa kearifan lokal yang dikandung tanah leluhurnya (Bali) begitu kaya dan merupakan sumber inspirasi yang demikian besar. Kidung sakral sebagai warisan leluhur akhirnya dipilih dalam balutan world music. Budayawan Taufiq Rahzen melihat hal ini sebagai keinginan menghadirkan kembali sesuatu yang “lama” menjadi “baru”. Pernyataan ini berdasar setelah mendengar komposisi Wirama Totaka berbahasa Jawa Kuno yang dikutip dari Kakawin Arjuna Wiwaha berusia ratusan tahun: lantunan doa Arjuna kepada Siva, yang dengan berani disuguhkan Laksmi secara kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Svara Semesta bisa diibaratkan sebuah cermin yang memantulkan gambaran perjalanan hidup Laskmi, yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Ia hadir sebagai penyampai pesan positif, tanpa keinginan dan kesan menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu Laksmi adalah seseorang penuh impian. Hal ini bisa dilihat dalam lirik lagu Maha Asa ciptaannya yang berbahasa Jawa Kuno, tentang mimpi yang menjadi nyata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;duk rika ingsun ajerih manyupena&lt;br /&gt;rasayang tan sida ikang manadi katon&lt;br /&gt;temangkin ingsun rumasuk manadi indera sariranta&lt;br /&gt;temangkin sun masuwak ri atmanta&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;Seorang pemimpi yang berhasil adalah bilamana ia mampu menerjemahkan secara kreatif dan inovatif sebuah impian menjadi sesuatu yang nyata. Karena pada prinsipnya semua orang adalah pemimpi tak terduga, maka disinilah dibutuhkan semacam “aturan” yang mengarahkan mimpi itu menjadi energi positif, tanpa menimbulkan ketersinggungan dan pergesekan di dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Tri Kaya Parisudha yang merupakan kearifan lokal Bali menjadi benteng: sebuah konstruksi yang kukuh dan tertutup sebagai pertahanan. Laksmi pun berusaha memaparkannya dengan lebih gamblang dalam lagunya dengan judul yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti masyarakat Bali lainnya, Laksmi juga meyakini pengembaraan roh sebelum reinkarnasi: kehidupan setelah kematian yang ditandai dengan kelahiran kembali sebagai “sesuatu” dengan hitam putih perilaku yang melekat dalam kehidupan sebelumnya. Dibantu Dayu Ani untuk penulisan lirik, lagu Reinkarnasi dibangun dari diksi sederhana namun membentangkan keluasan makna, kemudian diterjemahkan secara musikalitas dalam dimensi perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pejalan jauh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nominator pemeran utama wanita terbaik FFI 2008 lewat film Under the Tree arahan Garin Nugroho ini bisa dikatakan sebagai pejalan jauh. Ia mengembara, melakukan penjelajahan hidup dengan riang getir yang menyertainya. Di suatu titik, ia merindukan sosok Ibu sebagai rumah segala doa dan kasih sayang. Sumber telaga jernih yang tak pernah meminta, tetapi menyajikan begitu saja hamparan cinta yang tak berbatas. Ini bisa disimak dalam penggalan liriknya; Ibu kau malaikat hidupku, menjaga sejak langkah kecilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu dengan latar belakang yang sama juga bisa ditemukan dalam Duh Hyang Ratih. Perbedaan yang mengada diantara keduanya dapat dibenturkan dalam sebuah persamaan: kerinduan akan keindahan, kasih sayang, cinta, hingga keikhlasan memberi tanpa pamrih; perilaku yang sudah menjadi sangat langka dalam dimensi sosial masyarakat kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kehidupan bergerak cepat dan keras, serta mengikis kesadaran seseorang sebagai bagian kehidupan sosial. Laksmi melihat fenomena tersebut sebagai seseorang yang hidup tanpa nafas. Seluruhnya berpacu dengan waktu dalam suatu proses “menjadi” hingga mengabaikan arti kebersamaan yang mesti dijaga dan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitasnya, benturan-benturan yang terjadi dalam proses untuk “menjadi” ini tidaklah menghadirkan kebahagiaan hakiki. “Mari jeda sejenak. Berikan nafas pada kehidupan. Seluruhnya adalah nafas. Hanya nafas….” Demikian renungan Laksmi yang tercetak pada booklet Svara Semesta pada lagu Breathing. Petikan gitar Riwin Tropical Transit dan alunan sendu flute Bang Saat membuat lagu ini semakin menyiratkan keprihatinan sebagai sebuah kisah yang menyesap senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kerasnya kehidupan yang tercipta akibat kompleksitas pemikiran. Bahkan dalam I Am Talking to My Self, Laksmi seolah mengajak kembali setiap orang menyapa dan berbincang dengan ruhnya sendiri. Ia menyajikan lagu ini bukan dalam bahasa yang ada di permukaan bumi, melainkan ekspresi yang hadir dalam proses kreatifnya. Walaupun akhirnya terdengar seperti bahasa, apa yang ia sajikan adalah kumpulan bunyi yang tak mempunyai arti. Bahkan, sebagian orang yang mendengar mengatakan menjadi serupa mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kemungkinan yang ditawarkan dalam lagu ini bisa jadi merupakan pembuktian Laksmi atas kekuatan bunyi yang mengundang multi tafsir bagi para pendengar. Namun jika ditelisik lewat musikalitas yang ditawarkan, setidaknya dapat menggiring pemikiran bahwa terjadi pergulatan yang tak biasa dalam diri Laksmi untuk mencapai klimaks sebagai dasar pijak dalam langkah. Pergulatan batin dalam semesta kecil (hati, tubuh) ini juga mencerminkan pergulatan yang terjadi di luaran yang tengah berlangsung, hingga bermuara pada sikap kebersamaan dalam keberagaman, seperti yang digambarkan lagu Tat Twam Asi karya Agung Cahyadi, sahabatnya, serta Brothers &amp;amp; Sisters – Adi &amp;amp; Ida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara seluruh lagu yang diciptakan dan dinyanyikannya tersebut, puncak renungan spiritualitas Laksmi berada pada lagu Here, Now, and Forever More – Om Mani Padme Hum. Om Mani Padme Hum yang merupakan Budhist Mantra ini sendiri (konon) mampu memekarkan padma hati bagi siapa pun yang melafalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam album Svara Semesta yang terbagi menjadi dua ruang yakni ruang budaya dan teknologi serta ruang manusia ini, Laksmi total berkarya mandiri. Ia menjadi produser, menulis hampir seluruh lagu, bahkan menciptakan komposisi musik dasar di awal proses penciptaan dengan segala keterbatasan musikal yang dimiliknya. Ia juga menunjukkan berbagai gaya olah vocal; kadang terdengar serak-serak basah dengan wilayah vocal sangat rendah yang tak lazim dimiliki perempuan, kadang terdengar halus melengking dengan cengkok kontemporer khas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikawal Eko Wicaksono sebagai music director dan arranger, ia juga didukung arranger lainnya yakni Dewa Budjana, Peter Brambl dan Robert Webber, serta melibatkan banyak musisi diantaranya Dewa Budjana, Riwin, Balawan, Koko Harsoe, Erick Sondhy, Roby Zoel, Bang Saat, dan Nyanyian Dharma. Laksmi menyajikan lagu-lagunya dalam lima bahasa, terdiri dari Bahasa Sansekerta, Kawi, Bali, Indonesia, dan Inggris, dimana sebagian besar karyanya berlandaskan konsep Tri Hita Karana, bercerita tentang hubungan cinta kasih antara manusia dengan manusia, manusia dengan semesta, manusia dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto by &lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=111615148909469&amp;amp;set=a.111614928909491.12094.100001829533729"&gt;Komaruzzaman Aff&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2582579832424137187?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2582579832424137187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/12/svara-semesta-refleksi-kehidupan-ayu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2582579832424137187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2582579832424137187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/12/svara-semesta-refleksi-kehidupan-ayu.html' title='Svara Semesta; Refleksi Kehidupan Ayu Laksmi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TRI05dJ7kyI/AAAAAAAAApQ/YYVlGa_nxE0/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7045356404512125760</id><published>2010-12-01T12:20:00.008+08:00</published><updated>2010-12-01T13:09:58.600+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Membaca Kreativitas Ayu Laksmi di Bali Creative Festival</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TPXOtcCyz7I/AAAAAAAAApA/KpTlqFNuq88/s1600/BCF-Ayu-Laksmi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TPXOtcCyz7I/AAAAAAAAApA/KpTlqFNuq88/s400/BCF-Ayu-Laksmi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545565796193980338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan sejatinya, setiap orang adalah pemimpi. Ayu laksmi merupakan satu dari sekian pemimpi yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya, bersama kreativitas yang mengaliri seluruh kujurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai seorang perempuan, Ayu Laksmi termasuk sosok yang tangguh. Kegagalan demi kegagalan serta riang getir perjalanan hidup menjadi guru terbaik, yang memicu kreativitasnya dalam menyelami keluasan musikalitas. Ketangguhan Ayu Laksmi tidaklah bisa dipisahkan dari Singaraja sebagai tanah kelahirannya. Karakteristik masyarakat Singaraja yang keras, kompetitif, tangguh, dan budaya tandingannya, telah menyatu dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seperti apa kreativitas Ayu Laksmi yang lahir dari benturan-benturan kehidupan yang dialaminya? Mari kita dinikmati bersama dalam Bali Creative Festival, yang diselenggarakan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Jumat, 3 Desember 2010&lt;br /&gt;Pukul : 19.30 Wita&lt;br /&gt;Tempat : Panggung Ardha Candra, Denpasar-Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjumpa!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7045356404512125760?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7045356404512125760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/12/membaca-kreativitas-ayu-laksmi-di-bali.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7045356404512125760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7045356404512125760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/12/membaca-kreativitas-ayu-laksmi-di-bali.html' title='Membaca Kreativitas Ayu Laksmi di Bali Creative Festival'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TPXOtcCyz7I/AAAAAAAAApA/KpTlqFNuq88/s72-c/BCF-Ayu-Laksmi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7873826493740944215</id><published>2010-11-23T10:42:00.005+08:00</published><updated>2010-11-23T11:32:49.049+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Grand Launching Svara Semesta Ayu Laksmi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOswjzSYHFI/AAAAAAAAAoo/qsh5zkmDWh4/s1600/FLYER%2BBENTARA%2BBUDAYA.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 283px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOswjzSYHFI/AAAAAAAAAoo/qsh5zkmDWh4/s400/FLYER%2BBENTARA%2BBUDAYA.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542577158030367826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekian lama, karya-karyanya tersimpan rapi dalam ruang sunyi yang tak banyak diketahui orang. Syair lagunya berpijak pada kearifan lokal, terinspirasi dari filosofi berbagai ajaran universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kakawin sebagai warisan leluhur akhirnya menjadi pilihan, dibalut sentuhan genre baru world music ia hadirkan kembali yang “lama” menjadi “baru”. Renungan ini lahir dari seniman perempuan asal Pulau Dewata bernama Ayu Laksmi. Kini dia akan melangsungkan grand launchingnya yang bertajuk Svara Semesta pada hari Kamis, 25 Nopember 2010 di Bentara Budaya Jakarta. Mari meresap cinta kasih dalam kompleksitas kehidupan manusia yang universal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salam Semesta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7873826493740944215?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7873826493740944215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/11/grand-launching-svara-semesta-ayu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7873826493740944215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7873826493740944215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/11/grand-launching-svara-semesta-ayu.html' title='Grand Launching Svara Semesta Ayu Laksmi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOswjzSYHFI/AAAAAAAAAoo/qsh5zkmDWh4/s72-c/FLYER%2BBENTARA%2BBUDAYA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5723362894082991923</id><published>2010-11-18T18:08:00.004+08:00</published><updated>2010-11-18T18:20:45.544+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agenda'/><title type='text'>Doa Bali untuk Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOT8kgPaWyI/AAAAAAAAAoY/MxKrGNlZLl4/s1600/Flyer.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOT8kgPaWyI/AAAAAAAAAoY/MxKrGNlZLl4/s400/Flyer.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540831145632619298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Doa merupakan refleksi energi cinta maha agung yang lahir dari keheningan dan kekosongan batiniah. Ia hadir dan mengalir, serupa aliran jernih yang membawa kebebasan nurani untuk meneguhkan kemanusiaan. Realitas telah menunjukkan, bahwa tersimpan kekuatan maha dasyat yang tertanam dalam tanah, air, dan udara. Kesadaran inilah yang menggugah kesadaran Komunitas Seniman Bali Peduli Nusantara untuk mengalirkan energi positif yang mempersatukan sebagai bentuk kepedulian, empati sekaligus Doa Bali untuk Indonesia, kepada sesama manusia, semesta, dan Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam amal dan penggalian dana yang menampilkan Komunitas Kalangwan (Tjok Sawitri, Dayu Ani, Nyoman Sura), Ayu Laksmi dan Svara Semesta, Nyanyian Dharma (Dewa Budjana, Tri Utami, Gde Kurniawan, Gus Wicaksana), Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Rokavatar, Riwin, Putu Wijaya, Ayu Weda, Putu Ana Anandi, dan MC Arya Wirawan, akan diselenggarakan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Rabu, 24 Nopember 2010&lt;br /&gt;Waktu             : Pukul 19.30 WIB&lt;br /&gt;Tempat           :  Gedung Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;                          Jalan Gedung Kesenian No. 1, Pasar Baru-Jakarta Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengharapkan kehadiran anda untuk turut mengalirkan Doa Bali untuk Indonesia. Matur suksma.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5723362894082991923?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5723362894082991923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/11/doa-bali-untuk-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5723362894082991923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5723362894082991923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/11/doa-bali-untuk-indonesia.html' title='Doa Bali untuk Indonesia'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TOT8kgPaWyI/AAAAAAAAAoY/MxKrGNlZLl4/s72-c/Flyer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8411807685037511009</id><published>2010-09-27T18:47:00.005+08:00</published><updated>2010-09-28T18:30:24.357+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Ziarah Masa Lalu Ayu Laksmi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Sinar yang ditembakkan melalui LCD projector pada selembar kain putih melahirkan siluet. Diiringi instrumen world music dan senandung tembang Maha Asa, sepasang tubuh meliuk di atas panggung. Perlahan, kain putih itu tersingkap. Ayu Laksmi dan penari kontemporer Made Tegeh Okta, pasangan penari itu, terlihat sempurna. Tak lagi menjadi bayangan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB2wyatzuI/AAAAAAAAAoA/2mLXiRuDThQ/s400/4.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521543723695853282" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang mereka tampilkan secara teaterikal menjadi refleksi sebuah perjalanan hidup Laksmi, bahkan dapat menjadi cermin banyak orang. Selama ini, Laksmi seringkali bermimpi tentang keindahan yang menjadi nyata, tentang beberapa tokoh seni yang telah lama ia kagumi, yang akhirnya menjadi bagian dan menyatu dalam hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kini mimpi itu menjadi nyata. Yang lebih mencengangkan, mereka menyertakan maha karya mereka dalam album ini. Saya benar-benar bersyukur. Dua karya itu menjadi penggambaran serta perwujudan Maha Asa. Jadi sekarang bisa saya katakan, kita bisa bermimpi apa pun yang ingin  kita impikan, dan kita bisa bermimpi menjadi apa pun yang kita inginkan,” kata Laksmi saat soft launching albumnya yang bertajuk Svara Semesta, Sabtu (25/9) malam di kediaman keluarga besarnya di Singaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penyanyi kelahiran Singaraja, 25 November 1967 tersebut, musik bukanlah sekedar media penghibur. Ia menempatkannya pada posisi yang agung sebagai persembahan melalui daya penciptaan dan keikhlasan menyerap kekayaan nilai yang terkandung dalam semesta kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas dan daya cipta Laksmi yang mengambil elemen budaya dan tradisi nusantara yang kemudian diterjemahkannya lewat Svara Semesta menjadi bagian dari doanya. Kidung sebagai warisan leluhur dan musik populer pun dipilih sebagai wahana kontemplasi. Di dalam karyanya, ia mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan, dengan muara akhir penyerahan diri kepada Tuhan. Maka dapatlah diterima jika di dalamnya terjadi benturan demi benturan. Sebuah kekuatan sekaligus kelemahan, cinta kasih sekaligus kebencian, kesenangan sekaligus kesedihan. Musiknya kadang rancak, kemudian di satu titik menjadi syahdu dan nyaris senyap. Seluruhnya berbaur, menyatu padu, hingga mencipta harmoni. “Apa yang saya persembahkan dalam album merupakan gabungan berbagai perasaan dengan kekosongan batiniah yang menjadi konsep dasar seluruh proses penciptaan,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sulitnya mendobrak musik pop dan melayu yang kini mendominasi blantika musik di tanah air disadari betul oleh Laksmi. Kendati demikian, kondisi tersebut tidaklah membuat dirinya berkecil hati. Besarnya optimisme Laksmi atas lagu dan musik yang ditawarkannya tentu sangat beralasan, apalagi saat ini panggung-panggung seni budaya semakin diminati masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB3HobS9QI/AAAAAAAAAoI/rmX9zy9C29Y/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB3HobS9QI/AAAAAAAAAoI/rmX9zy9C29Y/s400/1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521544116150924546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Seperti yang sudah saya tegaskan, yang utama adalah Svara Semesta didedikasikan sebagai suatu persembahan. Selain itu, dukungan yang tak pernah putus diberikan, baik dari keluarga, teman-teman, hingga masyarakat yang pernah menyaksikan performance saya menjadi kekuatan yang mendorong untuk mewujudkan album ini. Dan saya yakin, setiap apa pun yang mengisi semesta, termasuk world music yang saya tampilkan, memiliki tempat dan jalannya masing-masing,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dua ruang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Svara Semesta, jelasnya, dibagi menjadi dua ruang, yakni ruang teknologi dan ruang manusia. Ruang teknologi didominasi cerita tentang pengagungan Tuhan dan semesta dengan gaya ungkap kidung kontemporer dalam Bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Bali yang terinspirasi dari kekawin sebagai warisan budaya leluhur yang sarat filosofi. Untuk menyeimbangkan tema dan bahasa yang terkesan berat, ia sendiri menyajikan komposisi musik dalam ruang tersebut dalam balutan nu sound technology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara ruang manusia lebih banyak mengisahkan tentang lahir, hidup dan mati, yang dimainkan manusia-manusia sesungguhnya. Saya percaya, kepekaan rasa manusia tidaklah dapat tergantikan meskipun teknologi telah cukup berhasil memainkan perannya dalam dunia modern. Dalam ruang ini, saya berbagi dengan para sahabat, musisi-musisi yang berempati terhadap kegelisahan saya untuk berkarya,” jelas Laksmi yang pernah meluncurkan album Istana yang Hilang di tahun 1991 saat masih mengusung aliran classic rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap pertunjukannya, Laksmi identik dengan teratai dan dupa yang memunculkan nuansa magis. Karakter ini sangat jauh dari kesan garang yang sebelumnya melekat pada dirinya ketika menjadi lady rocker di tahun 1980-an. Kini ia “terlahir” kembali menjadi dewi dalam balutan busana putih berpadu poleng (motif hitam putih), dengan langkah anggun dan lantunan kidung kontemporer khasnya sendiri yang diterjemahkan dari berbagai ajaran universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Laksmi untuk lahir kembali tentu bukan keputusan yang mudah. Ia harus menanggalkan seluruhnya, meninggalkan dunia yang justru telah membesarkan namanya. “Bali selalu memanggil saya untuk kembali. Karena itu saya berusaha menjalani sesuatu apa adanya. Hidup itu mengalir sehingga saya memilih mengalir di dalamnya. Menjalani apa yang memang menjadi bagian diri saya. Ya, saya juga memerlukan jeda waktu. Kemudian saya mulai bergabung dengan beberapa musisi, seperti bersama Tropical Transit dan Dewa Budjana dalam Nyanyian Dharma. Tapi kini, saya sudah punya kendaraan sendiri, mengemudikannya sendiri, berupa album Svara Semesta. Untuk lirik, saya banyak dibantu oleh para penulis hebat seperti Sugi Lanus, Cok Sawitri, Adrian T. King, dan Robyn Cash,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB4Etf2-lI/AAAAAAAAAoQ/laEqCYHpITQ/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB4Etf2-lI/AAAAAAAAAoQ/laEqCYHpITQ/s400/3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521545165484259922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang perempuan, Laksmi termasuk perempuan yang tangguh. Kegagalan demi kegagalan serta riang getir perjalanan hidupnya menjadi guru terbaik baginya. Ketangguhan Laksmi tidaklah bisa dipisahkan dari Singaraja sebagai tanah kelahirannya. Karakteristik masyarakat Singaraja yang keras, kompetitif, tangguh, dan budaya tandingannya telah menyatu dalam dirinya, membentuk Laksmi menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ziarah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah tanpa alasan jika Laksmi memilih menggelar soft launching albumnya di rumah keluarga besarnya sendiri. Langkah Kecil, Langkah Besar Berawal dari Rumah yang menjadi konsep soft launching tersebut menjadi gambaran keinginan Laksmi untuk menziarahi masa lalunya. Rumah merupakan awal kelahiran doa-doa sebelum menapak perjalanan panjang kehidupan. Dengan demikian, dapatlah dipahami jika Laksmi menginginkan setiap langkah yang dilakukannya disaksikan para leluhur, dan direstui keluarga tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada doa yang lebih mulia selain doa dari keluarga, doa orang-orang yang dituakan. Doa-doa yang tanpa henti mengaliri seluruh kujur tubuh saya. Rumah bagi saya merupakan pusat dunia, pusat semesta kehidupan saya. Saya melibatkan seluruh keluarga, seperti Ayu Weda, Ayu Partiwi, serta Arya Wirawan yang saya mohonkan sebagai MC,” ucap Laksmi seraya menambahkan sengaja memilih menggelar acara tersebut bertepatan dengan Hari Suci Sarasvati sebagai bentuk apresiasi terhadap anugerah pengetahuan, seni, dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan Laksmi merupakan bentuk penghormatannya terhadap sejarah panjang hidupnya, seluruh keluarga, dan orang-orang yang memberi pengaruh dalam kehidupan serta karir bermusiknya. Ia merindukan rumah setelah puluhan tahun malang-melintang dalam dunia musik yang menjadi pilihan hidupnya. Kembali pulang dengan memohon doa, dukungan, dan restu dipercaya Laksmi sebagai salah satu kekuatan yang akan menyempurnakan persembahan melalui komposisi musiknya tersebut. Ia meyakini hal itu, seperti juga keyakinannya bahwa sejatinya cinta yang dikirimkan melalui doa yang dialamatkan kepadanya tidaklah pernah putus dan selalu menyertai setiap perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga sengaja menghadirkan kuliner khas Singaraja seperti siobak dan blayag di sini sebagai bentuk penghormatan penghormatan terhadap kekayaan lokal Singaraja. Saya hanya ingin mengawali saja, melalui hal-hal kecil dan sederhana sesuai kemampuan saya. Saya harapkan ke depan terdapat lebih banyak kantung budaya di Singaraja, yang bisa muncul ke permukaan,” tukas Laksmi, yang juga dihadiri para seniman dan budayawan, serta tokoh-tokoh Singaraja yang telah muncul ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soft launching tersebut, Laksmi menembangkan delapan dari sebelas lagu yang terangkum dalam Svara Semesta, yakni Maha Asa, Tri Kaya Parisudha, Ibu, Brothers and Sisters, Breathing, Wirama Totaka, Om Mani Padme Hum, dan Reinkarnasi. Selain itu, ekspresi estetika pertunjukan melibatkan Made Tegeh Okta dan Dayu Ani (tari kontemporer), Sanggar Santhi Budaya (tari rejang), Cok Sawitri (bondres), dan musisi muda berbakat dari berbagai daerah di nusantara. Sementara untuk menerjemahkan musikalitas, delapan dari sebelas lagu yang terangkum dalam Svara Semesta dipercayakan kepada Eko Wicaksono, seorang music director muda berbakat yang berdomisili di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: &lt;a href="http://www.igustidibal.com/"&gt;Gusti Dibal Ranuh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8411807685037511009?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8411807685037511009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/09/ziarah-masa-lalu-ayu-laksmi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8411807685037511009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8411807685037511009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/09/ziarah-masa-lalu-ayu-laksmi.html' title='Ziarah Masa Lalu Ayu Laksmi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TKB2wyatzuI/AAAAAAAAAoA/2mLXiRuDThQ/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4070895512186002530</id><published>2010-08-09T18:39:00.008+08:00</published><updated>2010-08-09T20:29:20.732+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Menikmati Keheningan Spiritualitas di Tengah Keramaian Sanur; Ayu Laksmi Persembahkan Maha Asa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Party concept yang menjadi bagian kecil kemasan Sanur Village Festival (SVF) 2010 menciptakan keramaian dan keriuhan. Namun di sela-sela itu, keheningan tiba-tiba menyelinap, menyusup relung-relung jiwa setiap audience yang hadir dalam pembukaan SVF 2010, Rabu (4/8). Kehadiran penyanyi Ayu Laksmi dengan lantunan kidung kontemporernya yang diiringi Balawan and Batuan Ethnic Fusion berhasil menciptakan keheningan spiritualitas di teng&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ah keramaian tersebut.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_pewKuCDI/AAAAAAAAAnU/wlcKH-QQ0eY/s400/3.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503373984205244466" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu, Ayu Laksmi kembali berhasil memindahkan nilai-nilai spiritualitas ke atas panggung pertunjukan. Ia membawa hampir seluruh audience larut ke dalam dimensi yang diciptakannya melalui Wirama Totaka dan Maha Asa, dua buah komposisi lagu karyanya sendiri. Meski dua lirik lagu tersebut menggunakan Bahasa Kawi, ini tidaklah menjadi kendala bagi audience untuk menikmati sekaligus menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut. “Musik memiliki bahasanya sendiri,” tutur Laksmi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai performer, Laksmi memang pandai memainkan emosi. Gerak teaterikal sebagai representasi lagu yang dilantunkan seringkali melarutkan audience di dalam setiap pertunjukannya. Ia pun terlihat metaksu, dengan teratai dan dupa yang selalu menjadi bagian performance-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya suka aroma dupa. Asap dupa yang membumbung seolah menjadi media saksi atas berlangsungnya sebuah upacara. Bagi saya, upacara adalah perwujudan bakti yang dipersembahkan kepada Tuhan, apa pun bentuknya, termasuk melalui musik yang selama ini menjadi persembahan saya,” ucap Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_pzbJXvCI/AAAAAAAAAnc/7Mrh6WrPpvw/s400/1.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 313px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503374339339697186" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lantas bagaimana dengan teratai? Bagi Laksmi, teratai merupakan bunga yang universal dan sarat nilai. Masyarakat Mesir Kuno menggunakan bentuk teratai sebagai matahari terbit. Di India, teratai diposisikan sebagai perlambang kecantikan jiwa. Dalam ajaran Buddha menegaskan, proses mekarnya bunga teratai melambangkan kebijaksanaan. Di Hindu sendiri, teratai merupakan lambang kemurnian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teratai yang mengapung rata di permukaan air tak pernah kotor sekalipun tumbuh di air keruh. Bunga yang muncul dari dalam air itu tetap bersih, segar, dan indah. Keindahannya pun terjangkau oleh siapa pun, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Walaupun teratai bukan bunga yang harum semerbak, ia mampu memberikan keindahan bagi siapa saja,” jelas Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan yang sama, Laksmi juga menembangkan Maha Asa, satu dari sekian lagu dalam komposisi album Svara Semesta yang rencananya akan diluncurkan pada September mendatang. Selama ini, seringkali ia bermimpi sesuatu yang sangat indah dan penuh pengharapan. Begitu indahnya, Laksmi sering didera ketakutan dan berusaha menepis mimpi-mimpi itu, mencemaskan mimpi itu datang lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_qZbuwmlI/AAAAAAAAAnk/rVe6L1xBTnE/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_qZbuwmlI/AAAAAAAAAnk/rVe6L1xBTnE/s400/4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503374992331545170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;“Entahlah, saya merasa mimpi itu terlalu indah dan tidak akan tercapai. Tetapi kemudian saya memposisikan mimpi itu sebagai pertanda. Saya berusaha menerjemahkan dan mengisinya dengan energi baru. Begitulah, kini impian itu bukanlah sekedar mimpi. Ia hadir lebih dari sekedar dream come true,” tukasnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merinding&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa audience yang ditemui mengatakan, mereka larut dalam keheningan spiritual yang diciptakan Laksmi. Bagus Mantra, produser musik beberapa band di Bali, mengaku hanyut dalam suasana magis yang muncul dalam performance Laksmi. “Saya merinding menyaksikannya,” akunya. Robin Cash, jurnalis sebuah media Australia yang selalu menyempatkan dirinya datang dari Australia untuk menyaksikan performance Laksmi juga merasakan hal yang sama. “Ketika Laksmi tampil di stage, saya merasa seluruh indera dari ujung rambut sampai ujung kaki bergetar, seperti ada yang mengaliri seluruh diri saya,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin Nugroho, sutradara film, bahkan rela jauh-jauh datang langsung dari Jakarta untuk menyaksikan Laksmi tampil pada pembukaan SVF 2010. Audience lainnya, Ketut Sudiana, mengatakan apa yang ditampilkan Laksmi seolah menjadi puncak pembukaan SVF 2010. Aroma kemenyan yang tercium dari sekitar panggung pertunjukan semakin menambah magis suasana malam itu. “Ayu Laksmi sangat cerdas membangun suasana. Aksinya teaterikal dengan bunga, dupa, dan efek-efek suara dari alat musik yang dimainkannya menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun sinergi. Mungkin disanalah letak kekuatan Ayu Laksmi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_q6mK0gtI/AAAAAAAAAns/V5wMJiGdmA4/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 274px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_q6mK0gtI/AAAAAAAAAns/V5wMJiGdmA4/s400/2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503375562069279442" /&gt;&lt;/a&gt;Sementara Raden Sirait, seorang designer yang karya-karya busananya sempat digunakan Ratu Belanda dan Michelle Obama,  merinding menyaksikan pertunjukan tersebut dan langsung menuju belakang panggung untuk menjumpai Laksmi. Ia mengaku sangat menyukai keseluruhan komposisi pertunjukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komposisi yang ditunjukkan Ayu Laksmi sangat mewakili perempuan Indonesia. Ke depan, saya juga berencana membuat special design untuknya, dengan dominasi putih yang dipadu kain poleng (hitam putih motif kotak-kotak),” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam berikutnya, Laksmi juga tampil bersama Nyanyian Dharma menembangkan karyanya, Tri Kaya Parisudha. Serupa dengan malam sebelumnya, ia kembali memunculkan keheningan spiritual bersama Tri Utami, Gus Wicak, Manik, dan Anggi, dan penari Nyoman Sura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Foto 1, 2 &amp;amp; 4 : &lt;a href="http://www.igustidibal.com/"&gt;I Gusti Dibal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Foto 3 : &lt;a href="http://www.lightstalkers.org/vitasutopo"&gt;Vita Sutopo&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4070895512186002530?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4070895512186002530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/08/menikmati-keheningan-spiritualitas-di.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4070895512186002530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4070895512186002530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/08/menikmati-keheningan-spiritualitas-di.html' title='Menikmati Keheningan Spiritualitas di Tengah Keramaian Sanur; Ayu Laksmi Persembahkan Maha Asa'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TF_pewKuCDI/AAAAAAAAAnU/wlcKH-QQ0eY/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2218266643550247796</id><published>2010-08-02T16:35:00.008+08:00</published><updated>2010-08-02T16:45:13.085+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Ayu Laksmi dalam Sanur Village Festival; Bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion dan Nyanyian Dharma</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Berdasarkan sejarah masa lalu, Sanur menjadi tempat para pendamba kedamaian yang berharap sinar suci Tuhan. Ini tidaklah terlepas dari aura spiritual yang terpancar demikian kuat, yang bersumber dari orang-orang suci yang (sempat) singgah di sana. Konon, di masa lalu, denting genta dan doa selalu bergema dari wilayah Sanur, hingga merambat ke relung-relung jiwa.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TFaETQJz1qI/AAAAAAAAAnM/OAkF7Il4jw0/s400/20.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 233px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500729461168133794" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aura yang memancar di Sanur inilah yang selalu membawa kerinduan Ayu Laksmi untuk sesekali datang ke sana. Meskipun bukan berasal dari Sanur, ia merasa intim dengan suasana alamnya, dengan keberadaan pohon-pohon besar yang masih terjaga. Sanur seolah selalu memanggilnya untuk kembali, untuk menziarahi masa lalu yang merupakan pusat pencarian dan penempaan spiritualitas. “Sinar matahari, bagi saya, adalah kesucian itu sendiri. Karena itu saya percaya, tempat dimana matahari terbit merupakan kawasan yang diselimuti aura putih, suci, dan bersih,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sanur dan masyarakatnya berkembang dengan mengedepankan spiritual dan upacara. Sebagaimana masyarakat Bali kebanyakan, setiap laku hidup masyarakat Sanur merupakan sebuah perayaan terhadap kehidupan, yang mana didalamnya menghasilkan produk seni budaya yang masih demikian kuat mengakar hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengingat Sanur merupakan salah satu destinasi pariwisata dunia, tentu kita harus memberi apresisasi positif bagaimana upaya masyarakatnya menjaga kesenian tradisi agar tetap mengada di tengah gempuran budaya asing. Salah satu yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan Sanur Village Festival. Mudah-mudahan Sanur tetap seperti ini, tetap menjadi desa budaya internasional,” ucap Laksmi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Laksmi sendiri dijadwalkan pentas dalam event tahunan yang mulai diselenggarakan sejak tahun 2006 silam tersebut pada 4 dan 5 Agustus. Ia akan tampil sebagai performer tunggal pada pembukaan event, yang “dikawal” oleh Magic Finger Balawan and Batuan Ethnic Fusion. Jika merunut ke belakang, ini pertama kalinya Laksmi tampil sebagai performer tunggal, mewakili dirinya sendiri. Sebelumnya, ia selalu tampil bersama Tropical Transit, band legendaris dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam event kali ini, saya juga bernyanyi bersama Nyanyian Dharma tanggal 5 Agustus. Jadi pada pembukaan saya main, besoknya main lain. Mudah-mudahan penontonnya gak bosan dengar Ayu Laksmi magending (bernyanyi), hahahaaa….,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TFaD3_8hrgI/AAAAAAAAAnE/p8Z510P146s/s400/10.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 236px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500728992960982530" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahun 2010 ini merupakan kali kelima Laksmi perform dalam Sanur Village Festival. Dengan demikian, ini berarti ia selalu didaulat untuk mengisi event yang tahun ini mengangkat tema “Saha Nuhur”, yang mengandung makna permohonan bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan sinar suci (nuhur atau nur) yang menjadi spirit dari berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Panitia, Ida Bagus Sidharta Putra, mengatakan keberadaan event tersebut merupakan sebuah penegasan jika pihaknya memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan warisan seni dan budaya. “Kegiatan komersial di Sanur selalu diiringi dengan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti yang dilakukan para pendahulu,” tutur pria yang akrab disapa Gus De.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya pelestarian lingkungan yang dimaksud Gus De adalah keberadaan pohon intaran atau mimba atau neem (azadirachta indica) yang banyak tumbuh di wilayah Sanur. Seluruh bagian pohon tersebut bermanfaat bagi manusia. Nilai historis pohon intaran ini akan diangkat dan dikombinasikan dengan sejarah Sanur, yang sampai saat ini diabadikan menjadi nama kawasan desa wisata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini menjadi bukti kedekatan pohon intaran dengan Sanur. Program lingkungan ‘go green’ yang sempat diusung tahun lalu sangat erat kaitannya dengan program penanaman pohon intaran. Pohon ini pula akan dijadikan ikon Sanur yang ikut memberikan spirit dan harmoni antara alam, manusia, dan Sang Pencipta seperti filosofi Tri Hita Karana,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk pertama kalinya, festival seni budaya masyarakat Sanur yang dijadwalkan berlangsung pada 4-8 Agustus mendatang akan menampilkan “The Art Kampoeng” atau kampung seni, yang menghadirkan suasana kehidupan masyarakat setempat pada tempo dulu. Suasana masa lalu itu akan dihadirkan pada area khusus, yang menampilkan berbagai kegiatan, yang didesain menjadi tempat berkumpulnya para seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana mereka akan dapat berinteraksi serta menikmati karya seni rupa kontemporer di luar lingkungan galeri atau ruang pamer konvensional,” demikian Gus De.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2218266643550247796?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2218266643550247796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/08/ayu-laksmi-dalam-sanur-village-festival.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2218266643550247796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2218266643550247796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/08/ayu-laksmi-dalam-sanur-village-festival.html' title='Ayu Laksmi dalam Sanur Village Festival; Bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion dan Nyanyian Dharma'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TFaETQJz1qI/AAAAAAAAAnM/OAkF7Il4jw0/s72-c/20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6049266215105285514</id><published>2010-07-10T02:36:00.004+08:00</published><updated>2010-07-10T02:43:55.362+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Wirama Totaka; Penjelajahan Spiritualitas Ayu Laksmi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Banyak yang percaya, spiritualitas merupakan wilayah yang sungguh absurd. Sebuah ruang tak bernama, dimana didalamnya terjadi hubungan dan pertalian yang erat antara keterbatasan manusia dengan kemahakuasaan Sang Pencipta. Melalui Wirama Totaka, Ayu Laksmi, penyanyi yang mengabdikan dirinya dengan menembangkan lagu-lagu dengan spirit pengagungan terhadap Tuhan, berusaha menjelajah ruang itu.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDdttVouv7I/AAAAAAAAAm8/5eLB7q40jA8/s400/1.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491978896271130546" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berbagai cara bisa dilakukan sebagai wujud bhakti dan persembahan kepada Tuhan. Kalau saya, lebih memilih musik kontemporer sebagai wahana kontemplasi dengan menyerap spirit yang menjadi kearifan lokal, budaya dan tradisi. Ya, ini tak lepas dari basic saya sebagai penyanyi,” tuturnya usai pentas bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Rabu (7/7) malam, di Gedung Ksirarnawa, Art Center.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lirik Wirama Totaka yang diambil dari Kekawin Arjuna Wiwaha menyiratkan pentingnya menciptakan jeda dalam kehidupan dalam keheningan dan kekosongan, melalui yoga dan semadi. Dalam kekosongan itulah, seseorang baru mampu melihat segala hal dengan jernih. Disadari atau tidak, manusia hanya bisa saling menyalahkan, tapi Tuhan akan selalu membenarkan apa yang seharusnya benar. Begitulah sifat Tuhan yang tidak pernah bisa dibayangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang tersirat dalam Wirama Totaka, saya pun meyakini jika Tuhan hanya akan terlihat dalam jiwa orang-orang yang melaksanakan yoga dan semadi. Tentu ini bukan hanya sebatas pengertian harafiah saja. Lebih dari itu, yang terpenting adalah mengosongkan diri. Ini serupa (bayangan) bulan yang terpantul dan tercermin dalam air jernih dalam tempayan,” ucapnya. Lalu, sudahkah Ayu  mencapai titik itu? “Belum, hahaaa….,” tambahnya disertai tawa ringan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diiringi Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Wirama Totaka cukup berhasil menghadirkan energi yang tak biasa. Sinergi antara keduanya sangatlah jarang ditemukan, mengingat keduanya sama-sama menjadi ikon untuk musik kontemporer bernafaskan seni budaya. Namun demikian, ketika dipertemukan, mereka sama-sama memahami dan mendukung menciptakan harmoni. Dapatkah audience memahami makna dan nilai yang terkandung dalam Wirama Totaka mengingat liriknya masih menggunakan Bahasa Kawi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDdtLGWnYPI/AAAAAAAAAm0/npx4jFxDGUQ/s400/2.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491978308053065970" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi Ayu, musik merupakan bahasa yang paling universal. Keinginan untuk menyampaikan sesuatu, bahkan sesuatu yang paling pribadi yang bersemayam dalam dasar hati pun bisa terwakili dengan susunan bunyi. Lalu, eksplorasi tubuh bisa digunakan mendukungnya. Kondisi ini tercermin pula dengan keberadaan penari Nyoman Sura yang semakin menyempurnakan penampilan malam itu, dengan berusaha menginterprestasikan Wirama Totaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musik dan bahasa tubuh mampu menyusup keheningan jiwa, menyapa setiap ruh yang mengada dalam diri kita. Tak hanya sekedar berkata-kata,” tegasnya, yang saat itu juga menyanyikan Tri Kaya Parisudha karyanya sendiri, yang menjadi salah satu lagu dalam Album Nyanyian Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penonton yang ditemui mengaku tidak mengerti apa yang disampaikan Ayu Laksmi dalam lirik lagunya. Namun demikian, sebagian besar dari mereka berhasil menangkap dan memahami esensi lagu tersebut. Apalagi mengawali pementasannya, ia menggiring penonton untuk memejamkan mata, mendengarkan dan meresapi dalam hening, sembari berkisah tentang inti Wirama Totaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ditanyakan artinya, jujur saya gak ngerti. Itu Bahasa Kawi, bahasa yang sangat sulit. Tapi dalam performance-nya, sedikit tidaknya saya paham jika lagu itu mengandung pesan-pesan kebajikan. Saya hanya bisa merasakannya, dan itu jauh lebih baik dari sekedar memahami arti liriknya saja. Tadi itu adalah pertunjukan yang luar biasa. Ayu Laksmi telah menjelajah wilayah spiritualitas,” demikian Anggreni, salah seorang penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : &lt;a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=184198&amp;amp;id=523819880&amp;amp;ref=mf"&gt;Vita Sutopo&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6049266215105285514?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6049266215105285514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/07/wirama-totaka-penjelajahan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6049266215105285514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6049266215105285514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/07/wirama-totaka-penjelajahan.html' title='Wirama Totaka; Penjelajahan Spiritualitas Ayu Laksmi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDdttVouv7I/AAAAAAAAAm8/5eLB7q40jA8/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-3884211135125943531</id><published>2010-07-06T01:16:00.008+08:00</published><updated>2010-07-07T01:32:38.886+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Press Release'/><title type='text'>Panggung Seni Budaya, Panggung Kehidupan Ayu Laksmi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Bermula senyap, suara menggema kemudian menyusup keheningan. Dengan teratai di tangan kanannya, seorang perempuan tertunduk, khusyuk. Dari bibirnya, mengalun lembut Gayatri Mantram. Perlahan, lalu mendadak dilafalkan dengan &lt;/i&gt;&lt;i&gt;ritmis semakin cepat.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDIWtFmmDKI/AAAAAAAAAmU/-w896Hb7GxY/s400/ayulaksmi5.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 261px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490475859572034722" border="0" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah, Ayu Laksmi membuka music show Gempita Gianyar ke III dengan memindahkan nilai-nilai spiritualitas ke atas panggung. Ini dapatlah diterima sebagai bentuk penghormatan terhadap local genius yang (masih) dipegang teguh masyarakat Bali, yang menjadi doa serta pujian-pujian bagi Tuhan dan semesta kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sebuah wilayah memiliki kearifan lokal masing-masing. Kalau begitu, kenapa kearifan ini tidak kita gali? Saya yakin, banyak yang dapat kita gali dari bumi. Demikianlah, saya berupaya menggali dan menerjemahkan kearifan lokal yang dikandung Bali sebagai tanah leluhur saya, dengan kidung kontemporer khas saya sendiri sebagai representasi,” tutur Ayu Laksmi, yang saat itu juga menyanyikan lagu Gangga karya Dewa Budjana yang diawali kidung Tirtha karyanya sendiri, dan berduet dengan Gita Gutawa dalam lagu Putri Cening Ayu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada prinsipnya, Ayu Laksmi selalu berusaha menempatkan kerja sebagai bagian dari doanya. Maka ia sangat antusias melihat perkembangan musik di Bali yang telah membuka ruang demikian besar bagi pentas musik dengan spirit seni budaya. Apalagi saat ini, panggung seni budaya telah dikemas menjadi sebuah pertunjukan yang dapat diterima berbagai kalangan. Dengan kemasan yang menarik, kolaborasi tersebut juga telah memberi kesempatan dan porsi yang sama terhadap seniman kontemporer dan tradisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDIZ4uoJDCI/AAAAAAAAAms/iCstKYK90lQ/s1600/ayulaksmi22.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 257px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDIZ4uoJDCI/AAAAAAAAAms/iCstKYK90lQ/s400/ayulaksmi22.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490479358097820706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya gembira ruang pentas seni budaya sudah banyak digemari. Sekarang saya sudah menemukan komunitas panggung. Tak tanggung-tanggung, pentas itu dikemas secara profesional oleh orang profesional seperti Jay Subiakto. Gempita Gianyar itu salah satu contoh kecil saja. Ini sungguh perkembangan yang sangat positif mengingat rumor yang berkembang menyatakan pentas seni budaya lebih sering diapresiasi di luar negeri daripada di negeri sendiri,” tegasnya, seraya mengaku sebelumnya ia selalu kesulitan menemukan panggung untuk pertunjukannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sulitnya Ayu Laksmi menemukan panggung seni budaya diamini Oleg Sancabachtiar, salah seorang art director. Menurutnya, sangatlah sulit “menemukan” Ayu Laksmi dalam panggung yang sebenarnya, yakni panggung seni budaya. “Saya rela jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk menyaksikan show Ayu Laksmi,” jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa penonton dan jurnalis yang sempat menyaksikan pertunjukan tersebut sepakat menyatakan Ayu Laksmi telah berhasil memindahkan nilai-nilai spiritualitas ke atas panggung pertunjukan. Ini tak lepas dari performance-nya yang teaterikal di dalam upayanya menerjemahkan makna lagu yang dilantunkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDIX0VDx-oI/AAAAAAAAAmc/ZPaRpy9EM-U/s400/Blog.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490477083491695234" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayu Laksmi tak bisa dipisahkan dari teratai, dupa, dan magis. Semua itu sudah menjadi semacam identitas yang melekat kuat dalam dirinya. Ia selalu metaksu dalam setiap performance-nya,” kata Rumpoko Budi Nugroho.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, dalam waktu dekat, tepatnya Rabu (7/7) malam, Ayu Laksmi akan menjadi guest star Balawan and Batuan Ethnic Fusion dalam Pentas Kesenian Bali (PKB) di panggung budaya Art Centre. Ini adalah kali pertama ia tampil dalam acara tersebut, setelah penantiannya selama bertahun-tahun. “Itu pun karena saya diajak Balawan. Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang, saya bisa tampil lagi di panggung paling akbar di Bali itu,” tukas Ayu Laksmi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-3884211135125943531?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/3884211135125943531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/07/panggung-seni-budaya-panggung-kehidupan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3884211135125943531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3884211135125943531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/07/panggung-seni-budaya-panggung-kehidupan.html' title='Panggung Seni Budaya, Panggung Kehidupan Ayu Laksmi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/TDIWtFmmDKI/AAAAAAAAAmU/-w896Hb7GxY/s72-c/ayulaksmi5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7091132522606115074</id><published>2010-03-22T14:38:00.001+08:00</published><updated>2010-03-22T14:52:51.168+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mencermati (Lagi) “Pelecehan” Atas Nama Nyepi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon, kesucian Nyepi ternoda oleh ulah pemilik akun facebook bernama Ibnu Rachal Farhansyah. Berkali-kali pula, saya menerima pesan melalui via layanan SMS (&lt;i&gt;short massage service&lt;/i&gt;) yang menginformasikan masalah ini. Bahwa, Ibnu telah (dianggap) menghina, merendahkan, ataupun melecehkan Hari Suci Nyepi, yang juga berarti mengarah ke umat Hindu Bali secara umum, dengan menulis kalimat &lt;i&gt;Nyepi sepi sehari kaya tai &lt;/i&gt;pada status facebook-nya. Pesan itu juga disertai kalimat provokatif; &lt;i&gt;harus kita apakan manusia seperti itu? Sebarin ke orang-orang Bali, Hindu bersatu! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sungguh, amarah masyarakat Bali memuncak. Tidak hanya bagi mereka yang secara kepercayaan menganut agama Hindu saja, tetapi juga mereka-mereka yang telah tinggal ataupun (mengaku) jatuh cinta pada Bali. Dalam keheningan dan kekosongan Nyepi, tiba-tiba saja ribuan masyarakat Bali dan sebagian kecil warga luar Bali disibukkan dengan aktivitas dan tingkah laku yang sungguh jauh dari esensi Nyepi yang sesungguhnya; membangun toleransi dan kerukunan dengan menerjemahkan kekosongan yang maha agung untuk memenuhi rongga alam penghidupan dan kehidupan duniawi sehingga melahirkan harmoni baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran ini dibuktikan dengan bermunculannya grup-grup baru dalam facebook. Ada beberapa grup untuk menghujat yang tercipta, misalnya yang bernama &lt;i&gt;Usir “Ibnu Rachal Farhansyah” dari Bali&lt;/i&gt; hingga &lt;i&gt;Basmi Ibnu Rachal Farhansyah&lt;/i&gt;, atau grup atau kelompok yang dibuat Ibnu sendiri dengan titel &lt;i&gt;Maafkan Ibnu Rachal Farhansyah&lt;/i&gt; yang ironisnya juga menjadi tempat untuk menghujat, sekaligus mengancam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu waktu lama bagi masyarakat Bali untuk mengetahui status Ibnu yang dinilai telah melecehkan kesucian Nyepi tersebut. Sejak Ibnu menulis status tersebut, ribuan hujatan dan umpatan (bahkan kutukan tidak selamat dunia akhirat) telah dilayangkan kepadanya hanya dalam hitungan menit di &lt;i&gt;wall &lt;/i&gt;(dinding) grup yang telah diciptakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sepengetahuan saya, hingga kini belum terdapat kejelasan mengenai langkah yang akan diambil masyarakat Bali di dalam menyikapi masalah ini. Beberapa pemilik akun facebook, misalnya Dewa Willy Edc, menyarankan agar merealisasikan tindakan nyata agar kasus ini tidak larut begitu saja dengan membawanya ke ranah hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya saling caci maki atau menghujat di FB (facebook) saja. Mari kita susun draf pasal-pasal hukum yang menyatakan kalau Ibnu melecehkan agama, lalu kita laporkan atau tuntut Ibnu untuk meminta maaf lewat media kepada seluruh umat Hindu. Kaum intelektual Hindu, mari kita bersatu,” ajaknya dalam forum diskusi bertopik &lt;i&gt;Realisasi Umat Hindu Mana?&lt;/i&gt; di grup &lt;i&gt;Usir “Ibnu Rachal Farhansyah” dari Bali&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam forum diskusi yang sama, Dwi Bagus, juga mengisyaratkan hal yang sama. Secara pribadi, ia merasa malu melihat (membaca) makian, kata-kata kasar dari teman-teman penganut Dharma. Ia tidak menginginkan kondisi ini menimbulkan persepsi bahwa ternyata orang Bali beraninya hanya gertak sambal. “Kita gak usah ngomong apa-apa, tapi langsung ambil tindakan tegas. Jangan sampai ia (maksudnya Ibnu) malah berpikir kalau ternyata orang Bali beraninya cuma omong doang,” sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati permasalahan ini, pengkritisan juga harus diberikan. Meski juga harus mengamini bahwa apa yang dilakukan Ibnu merupakan salah satu contoh pelecehan kepada Hindu dan Bali pada umumnya, tetapi sebenarnya pelecehan terhadap Hari Suci Nyepi juga telah kita lakukan, meski tanpa disadari. Hal ini tercermin dari perilaku tidak patut yang ditunjukkan oknum masyarakat Bali dengan membunyikan petasan ataupun bunyi-bunyian dari bambu sebelum perayaan Nyepi usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun, kondisi ini seolah menjadi rutinitas sekaligus permasalahan baru yang tak kunjung usai. Belum lagi dengan adanya bentrok antar desa atau banjar yang kerap terjadi ketika &lt;i&gt;pengerupukan&lt;/i&gt; (sehari menjelang Nyepi). Jika kembali pada esensi Nyepi yang bermuara pada toleransi dan kerukunan, hal ini jelas-jelas juga telah mencemarkan Hari Suci Nyepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sesuai surat edaran, Nyepi usai tepat pukul 06.00 Wita. Tapi kenyataannya toh tidak demikian. Lewat jam 12 malam saja sudah terdengar bunyi ledakan yang entah dinyalakan oleh siapa. Ini juga mengganggu, bukan? Ini juga bentuk pelecehan yang berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak mentolerir perilaku seperti apa yang dilakukan Ibnu, sebisanya, masyarakat harus tetap menjaga citra bahwa Bali dihuni orang-orang intelektual, yang selalu mengedepankan penyelesaian demi kebaikan bersama. Bukan hanya cacian dan ancaman semata, tetapi lebih pada langkah konkret ke jalur hukum. Jangan sampai, kesalahan oknum bernama Ibnu merembet ke masalah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jaga keagungan Bali tanpa merusak pemahaman umum masyarakat bahwa orang-orang Bali sangatlah bijaksana di dalam menyikapi setiap permasalahan, meski kesabaran itu ada batasannya! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7091132522606115074?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7091132522606115074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/03/mencermati-lagi-pelecehan-atas-nama.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7091132522606115074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7091132522606115074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2010/03/mencermati-lagi-pelecehan-atas-nama.html' title='Mencermati (Lagi) “Pelecehan” Atas Nama Nyepi'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2735852645815585157</id><published>2009-10-19T13:29:00.000+08:00</published><updated>2009-10-19T13:31:35.879+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Jegog Jazz; Representasi Multikulturalisme Jembrana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sejarahnya, gamelan jegog diciptakan oleh Kiang Geliduh dari Tegal Ngoneng, Jembrana, yang diperkirakan sekitar tahun 1912. Namun ketika itu, selain menggunakan bilah-bilah kayu, Kiang Geliduh juga belum menciptakan gending (komposisi). Akhirnya sekitar tahun 1930-an, Pan Loka dari Desa Kaliakah, Negara, mulai menciptakan gending jegog dan mengganti bilah kayu dengan bambu. Pada tahun-tahun itu, wilayah Jembrana sebagian besar masih berupa hutan lebat dan menjadi daerah “buangan”. Orang-orang buangan dalam konteks ini tidaklah selalu berkonotasi negatif, tetapi bisa juga diterjemahkan sebagai orang pintar atau sakti, bahkan melebihi rajanya sendiri sehingga mengasingkan dirinya. Atau barangkali, mereka adalah orang-orang yang sengaja “membuang” dirinya dengan berbagai alasan, misalnya kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan realitas yang terjadi di masa lalu, dapatlah diterima jika laku hidup yang dijalankan orang Jembrana telah membentuk karakteristik masyarakatnya hingga sekarang. Sebagian besar orang Jembrana pun terkenal sebagai kelompok masyarakat yang keras, tangkas, bersemangat, dan temperamental, baik secara fisik maupun psikis. Budaya persaingan sebagai laku hidup orang Jembrana sangatlah beralasan mengingat kerasnya kehidupan yang dijalankan. Kisah “orang-orang terbuang” ini menegaskan bahwa karakter orang Jembrana merupakan endapan dari karakter orang-orang yang dicap “pembangkang”, “penentang”, “pembelot” dan “pemberontak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sosio-geografis seperti inilah yang nampaknya memberi karakter pada jegog. Ia lepas dari ikatan patron-klien, ratu-panjak (raja-rakyat), sebagaimana yang terjadi di daerah lain di Bali. Karena itu, jegog memiliki watak egaliter; tidak pelog dan tidak pula slendro. Ia seolah anak lain dari kultur Bali yang secara stereotip selalu dianggap memiliki watak adiluhung dan mengandung filosofi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, jegog lebih dekat dengan ekspresi rakyat yang pada tataran praktis telah bersentuhan langsung dengan apa yang disebut multikulturalisme. Ia lahir sebagai pengakuan dan perayaan terhadap kemerdekaan dari belenggu relasi-relasi struktural yang seringkali menyertai kesenian-kesenian tradisi di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendiang I Nyoman Lila yang melakukan revitalisasi jegog awal tahun 1970-an, pernah mengatakan bahwa jegog merupakan jiwa orang Jembrana. Dengan kata lain, semangat orang Jembrana yang heterogen tertanam dalam bilah-bilah bambu besar bernama jegog. Ini semakin menegaskan bahwa jegog telah menjadi produk persilangan kultur yang disertai dengan kesadaran akan pentingnya menghormati perbedaan. Jegog tak sekedar pola gaul masyarakat Jembrana, tetapi telah menjadi cerminan kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jegog Jazz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bahwa jegog telah berhasil menjadi semacam identitas masyarakat Jembrana yang plural, memang benar adanya. Maka komunikasi eksternal sebagai bagian dari strategi pencitraan, harus dilakukan untuk lebih memperkenalkan musik tradisional tersebut. Kesempatan pertama datang dari Bentara Budaya Bali yang berkeinginan menampilkan jegog jazz di dalam acara grand opening (4/11) di tempat yang akan diarahkan menjadi pusat kebudayaan, sebagai representasi dari kehidupan multikultur masyarakat secara luas, khususnya di Jembrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung di atas, dari segi musikalitas, jegog merupakan instrumen yang cukup unik. Jika pada umumnya musik Bali atau musik-musik tradisi menggunakan titi laras pelog atau selendro, jegog justru berada di antara keduanya. Suara jegog adalah nada dari alam gaib. Bunyi-bunyi yang dihasilkan merupakan keresahan udara yang terperangkap di dalam bilah-bilah bambu, yang akhirnya terbebas setelah mendapat tekanan (dipukul). Barangkali ini juga bisa menjadi cerminan laku hidup masyarakatnya yang termarginalkan. Ya, mungkin ini bisa dijadikan gambaran kehidupan sisi Bali yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, sesungguhnya jegog dan jazz saling bertalian. Jegog dan jazz sama-sama memiliki dasar improvasi sehingga memungkinkan lahirnya senyawa baru diantara keduanya. Dengan kata lain, jegog dan jazz sama-sama memiliki celah untuk saling mengisi. Komposer Jegog Jazz, Nanoq da Kansas, menegaskan yang terpenting sekarang adalah bagaimana menciptakan sebuah dinamika untuk memberi kesempatan masing-masing agar bisa bermain lebih maksimal. Ini tak lepas dari keinginan untuk menunjukkan bahwa jegog sebagai kesenian khas Jembrana layak disandingkan dan disejajarkan dengan genre musik modern (jazz). Dalam garapan ini pula, ada beberapa nama musisi yang telah berkarya di tingkat nasional dan internasional yang akan terlibat dalam komposisi ini, seperti Dewa Budjana, Balawan dan Ayu Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2735852645815585157?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2735852645815585157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/10/jegog-jazz-representasi.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2735852645815585157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2735852645815585157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/10/jegog-jazz-representasi.html' title='Jegog Jazz; Representasi Multikulturalisme Jembrana'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8209248585842851237</id><published>2009-09-30T18:13:00.001+08:00</published><updated>2009-09-30T18:15:34.404+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketenagakerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Jembrana'/><title type='text'>Naker Harus Beri Kontribusi, Jangan Jadi Beban</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemkab Jembrana harus selektif dan cermat mempersiapkan tenaga kerja (naker) ke luar negeri. Khusus kepada para naker Jembrana yang akan bekerja atau magang ke luar negeri, seperti Jepang, Bupati Prof. Dr. I Gede Winasa tidak menginginkan mereka yang telah dipersiapkan sedemikian rupa menuai masalah akibat lembaga yang menanganinya bermasalah. Tidak hanya sebatas itu, Bupati Winasa juga menyinggung pentingnya kesadaran para naker untuk menjaga nama baik Kabupaten Jembrana selama bekerja di tempat bersangkutan. Ia tidak menginginkan, ada naker magang asal Jembrana yang merusak hubungan baik dengan pihak user di Jepang, seperti keluar dari pekerjaan atau lari dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan evaluasi terhadap 11 angkatan yang telah dilepas untuk magang di Jepang sebelumnya, Bupati Winasa melihat ada beberapa permasalahan yang terjadi, yang membutuhkan penanganan segera. Berbagai sisi harus dibenahi agar tidak mengecewakan user di Jepang, salah satunya Koperasi Sukuba, yang telah menjalin kerjasama sejak awal dirintisnya pemagangan ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak ingin ada naker magang yang keluar dari Koperasi Sukuba, apalagi lari dari Jepang. Kalau hal itu sampai terjadi, tentu akan membawa dampak buruk bagi hubungan kerjasama ini. Yang dipertaruhkan bukan hanya nama daerah (Jembrana-red), tetapi juga merugikan diri sendiri dan keluarga. Saya harap, tidak ada naker yang menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan,” tegas Prof. Winasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah ketenagakerjaan tersebut, Bupati Winasa terpaksa mengambil sikap tegas. Kondisi ini juga berpengaruh pada latar belakang para naker magang yang diberangkatkan. Jika pengiriman naker ke Jepang sebelumnya tidak memandang latar belakang keluarga, pengiriman angkatan ke 12 lebih selektif. 33 naker yang diberangkatkan berasal dari keluarga kurang mampu, yang berusia antara 20 tahun hingga 25 tahun. Mereka akan bekerja selama 3 tahun dengan pola pemagangan di bidang pertanian yang meliputi peternakan dan perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti angkatan sebelumnya, tentu mereka juga harus menjalani tes dan pelatihan yang cukup ketat. Mereka wajib menguasai bahasa Jepang dan memahami budaya masyarakat setempat. Meskipun hanya pemagangan, naker Jembrana harus dididik dan dilatih untuk siap bekerja di luar negeri. Tapi kenapa saya lebih memprioritaskan naker yang berasal dari keluarga kurang mampu? Secara umum, mereka tentu memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Saya yakin, mereka memiliki semangat dan motivasi yang lebih tinggi untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Kalau memberangkatkan naker dari keluarga mapan, kadang mereka akan mengabaikan pekerjaan walaupun tidak seluruhnya berperilaku seperti itu,” papar Bupati Winasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI sisi lain, Bupati Winasa juga mengultimatum staf yang menerima sogokan dari para naker. Tentu, ia tidak menginginkan timbul kecemburuan diantara para calon naker akibat “uang pelicin” dari calon naker yang sesungguhnya tidak memenuhi persyaratan menjadi naker magang ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya ingin memberikan keadilan bagi mereka. Jika memang calon naker dinilai mampu dan layak, mereka harus diberangkatkan. Kalau ada yang lulus karena sogokan, tolong sampaikan langsung ke saya. Saya tidak perlu menunggu lama-lama. Kalau ada staf yang disogok, saya akan langsung hentikan staf itu. Maaf kalau saya harus keras. Ini demi kebaikan kita bersama,“ pesan Winasa kepada orang tua naker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi&lt;br /&gt;Bekerja atau magang di Jepang memang menjadi peluang emas bagi masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup. Setelah kesempatan itu tiba, tentu seluruhnya kembali pada diri naker yang diberangkatkan. Dalam artian, bagaimana naker mampu memberi nilai tambah bagi diri sendiri dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kontribusi untuk pemkab, itu masalah terakhir. Sesuatu yang mustahil jika ada naker yang pulang tanpa membawa hasil. Jika hal ini sampai terjadi, masalah tentu ada pada naker bersangkutan, terutama mengenai pola hidup mereka saat bekerja atau magang di Jepang,” demikian Bupati Winasa, seraya menambahkan dalam waktu dekat akan melanjutkan kerjasama dalam bidang pendidikan dengan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi di dalam membangun Jembrana yang mengarah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai sangat tepat dilakukan di tengah menurunnya kualitas sumber daya alam. Apresiasi tersebut sempat dilontarkan Ade Adam Noch, Deputi Bidang Penempatan BPPTKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia). Sebagai lembaga pemerintah non departemen, BNPPTKI berperan di dalam memfasilitasi perlindungan dan penempatan TKI di luar negeri. Untuk penempatan TKI di Jepang, Indonesia diberikan kuota 1000 orang. Saat ini, peluang masih tersisa untuk 700 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade Adam Noch juga menyarankan agar Pemkab Jembrana meningkatkan pola kerja sama dengan pihak Jepang dengan mengirim masyarakat untuk bekerja tetap di sana, bukan sebatas magang. Karena jika hanya mengirimkan naker magang, penghasilan yang diterima tentu lebih rendah. “Program BNPPTKI bukan untuk magang, tetapi benar-benar untuk berkerja,“ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sejatinya Indonesia masih mengalami banyak kendala dalam hal ketenagakerjaan. Ia mencontohkan, ketika diberikan kuota tenaga kerja oleh luar negeri, kita sudah siapkan tenaga kerja untuk memenuhi kuota tersebut. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Banyak tenaga kerja yang sudah disiapkan malah mengundurkan diri. Untuk itu, tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri wajib memiliki skill (keterampilan), kompetensi, dan kemampuan bahasa. “Yang terpenting, tentu berkaitan dengan perilaku. Sekarang tinggal bagaimana kita mengelola masalah tersebut,” demikian Ade.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8209248585842851237?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8209248585842851237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/naker-harus-beri-kontribusi-jangan-jadi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8209248585842851237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8209248585842851237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/naker-harus-beri-kontribusi-jangan-jadi.html' title='Naker Harus Beri Kontribusi, Jangan Jadi Beban'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-1676249758583094766</id><published>2009-09-24T13:37:00.007+08:00</published><updated>2009-09-24T13:51:20.985+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Kucari Cinta di Balik Kelaminmu</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;-kepada perempuan yang memberi hidup&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MALAM &lt;/span&gt;tak sekelam biasanya. Purnama masih mengiklaskan dirinya untuk memandu langkah sang pejalan jauh. Tak jelas kemana arahnya. Yang ia tahu hanyalah berjalan, mengikuti nalurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa depa jarak yang ditempuhnya. Wajah kusut itu menyiratkan kelelahan yang teramat sangat. Bahkan mungkin, telah menghabiskan 23 tahun kehidupan untuk mencari. Hanya mencari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrsHOyNV9AI/AAAAAAAAAkQ/sElp19yGhTM/s1600-h/Ibu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 263px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrsHOyNV9AI/AAAAAAAAAkQ/sElp19yGhTM/s400/Ibu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384905730028860418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Ah dunia, seberapa luaskah engkau untuk ku jelajahi? Seberapa iklaskah engkau menerima keberadaanku, untuk sesekali menikahimu? Dimanakah akan kutemukan cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa meracau, menggumam dengan bahasa yang entah. Jalanan berdebu, trotoar jalan, lampu penerang kota, pohonan yang membisu menjadi pelampiasan kekalutanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angin, tak bisakah kau sesekali berhenti bergerak? Tinggallah sejenak. Mari berbincang. Tentang cinta, kasih dan pengorbanan dunia. Sungguh, aku perlu itu. Aku remuk di tengah pergulatanku sendiri. Atau jangan-jangan, kau pun tak memahaminya. Apa yang kau tahu tentang cinta, kasih dan pengorbanan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggerutu, menghardik, menghentak. Menahan amarah. Mencabik-cabik diriku sendiri. Menenggelamkan jiwa di ujung kelam satu sudut kota.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 153, 51);" class="fullpost"&gt;&lt;blockquote&gt;Aku terasing. Hanya gamelan yang masih setia mengiringi langkah panjang perjalanan. Kekasih, aku larut dalam tatapanmu. Di balik kelaminmu, masihkah kutemukan cinta itu? 23 tahun ini aku mengembara, mencari jalan pulang ke balik kelamin yang membuangku. Biarkanlah aku kembali sejenak Bahkan hanya untuk sekedar berkata, aku ingin tetap di sini. Mencari teduh kegalauan jiwaku!&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ah, apa yang kupikirkan? Tentu tak ‘kan ada lagi sejengkal tempat buatku di sana. Aku terlalu angkuh menjalani kehidupan untuk kembali lagi. Inilah konsekuensi dari prosesi bernama hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Melangkahlah sebelum gaib melumatmu. Tak ada yang bisa kau lakukan selain itu. Tataplah dirimu. Apa yang bisa kau lakukan untuk merayakan kehidupanmu? Hanya engkau yang tahu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku. Tak ada yang bisa benar-benar menolongku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan, memberi cahaya atas kegalauanku. Tak seorangpun....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;suatu hari di &lt;a href="http://putrakhan.blogspot.com/"&gt;pangkalan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;tersaput dingin dan keheningan malam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-1676249758583094766?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/1676249758583094766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/kucari-cinta-di-balik-kelaminmu.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1676249758583094766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1676249758583094766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/kucari-cinta-di-balik-kelaminmu.html' title='Kucari Cinta di Balik Kelaminmu'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrsHOyNV9AI/AAAAAAAAAkQ/sElp19yGhTM/s72-c/Ibu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6063578798364475569</id><published>2009-09-23T16:55:00.003+08:00</published><updated>2009-09-23T17:01:56.624+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Di Hatimu, Kutitipkan Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ku susuri rekah tanah basah hujan pertama senja ini. Jalan panjang ini telah menautkan hatiku dan hatimu (yang kadang masih sulit ku mengerti). Ya, hidup telah mengajarkan kita rasa sakit, derita, dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnjFQme1PI/AAAAAAAAAkA/wA2o0YSPTU4/s1600-h/2.2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 232px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnjFQme1PI/AAAAAAAAAkA/wA2o0YSPTU4/s320/2.2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384584508993361138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnjTFwZwaI/AAAAAAAAAkI/2DQe_Q0Tq7s/s1600-h/5.5.5+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnjTFwZwaI/AAAAAAAAAkI/2DQe_Q0Tq7s/s320/5.5.5+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384584746600350114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapakah yang lebih memahamimu, kecuali aku dan seluruh diriku? Maka tersenyumlah. Bukan untukku. Bukan buat mereka. Tapi buat cinta kita yang merekah...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6063578798364475569?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6063578798364475569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/di-hatimu-kutitipkan-cinta.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6063578798364475569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6063578798364475569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/di-hatimu-kutitipkan-cinta.html' title='Di Hatimu, Kutitipkan Cinta'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnjFQme1PI/AAAAAAAAAkA/wA2o0YSPTU4/s72-c/2.2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8902402812768724046</id><published>2009-09-23T16:09:00.005+08:00</published><updated>2009-09-23T16:26:46.232+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Senja dan Taksu di Mata Omink</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnYs27xhWI/AAAAAAAAAj4/cdrPiv74G50/s1600-h/bungan+natah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnYs27xhWI/AAAAAAAAAj4/cdrPiv74G50/s200/bungan+natah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384573094670206306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kau bilang, “Aku suka senja. Berjuta rahasia bersemayam di balik keindahan pendar merahnya. Serupa kehidupan, yang senantiasa menyimpan misterinya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya bening. Matanya masih teduh. Tak tampak sedikit pun gurat kekecewaan, walau gerimis kecil yang perlahan menjelma hujan lebat dengan angin menggemuruh, cukup berhasil mencuri keindahan senja yang selalu dinantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memandang Omink di senja basah itu, sungguh berhasil mencipta kehangatan baru. Ia begitu anggun dengan busana putih yang membalut putih tubuhnya. Obrolan mengalir. Belia dengan lesung kecil di pipinya menimpali percakapan dengan rekah senyum dari bibir merahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaranya yang lepas sedikit berhasil mengungkap takbir di dalam dirinya. Lahir dan dibesarkan di dalam keluarga seniman, Omink ditempa menjadi gadis yang mendedikasikan dirinya pada kesenian tradisional. Sungguh, ia begitu tertarik dengan tari bali. Maka, menjelmalah pemilik nama lengkap Ni Komang Yustika Tribuana Putri menjadi seorang penari, dengan agem yang tekek dan sledet mata sakadi tatit. Dalam bayangan kami, Omink demikian mataksu dalam balutan busana penari bali. Meliukkan gemulai tubuhnya, di tengah gemuruh gamelan yang mengiringi geraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totalitas dan dedikasinya kepada kesenian juga telah berhasil membawa Omink terbang ke Negeri Sakura. Ketika itu, ia menjadi salah satu duta kesenian Bali dalam pentas kesenian di Jepang. Bahkan tak lama lagi, Omink akan melawat ke Paris, Prancis, menarikan Gegandrungan, berkolaborasi dengan para penari dari Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian di bidang seni tari seperti yang telah diraih Omink bukanlah menjadi tujuan akhir baginya. Omink hanya menempatkannya sebagai hadiah kecil dari apa yang dilakukan dan diperjuangkannya selama ini. Jauh lebih penting lagi, bagaimana menumbuhkan keinginan berbagi atas apa yang dimiliki dan melekat di dalam dirinya. Lahirlah kemudian Bhuana, sebuah sanggar tari sederhana yang didedikasikannya untuk berbagi skill menari dengan anak-anak yang berkeinginan untuk mendalami seni tari bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah banyak yang dilakukannya untuk kesenian, toh itu tidak membuat Omink berbesar hati. Ia tetap gadis belia nan polos yang berusaha menjalani kehidupannya dengan ikhlas. Karena kehidupan senantiasa bergerak, tanpa jeda dan tanpa spasi, Omink tegak melangkah. Menjalani kehidupan sesuai kebenaran yang diyakininya. Doa-doa telah terucap. Semesta mengajarkannya tetap tunduk terhadap apa yang mengitari dirinya. Sebagai bagian sebuah keluarga, seorang siswa, dan menjadi bagian dari peradaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memalingkan wajah ke jendela. Senja masih basah. Perlahan, pekat mulai menyelimut. Kubayangkan, semesta berbisik, “Menarilah senantiasa, Omink. Agar dunia tak kehilangan taksu di dirimu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tulisan ini adalah teks Bungan Natah di Ge-M Magazine Edisi September 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8902402812768724046?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8902402812768724046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/senja-dan-taksu-di-mata-omink.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8902402812768724046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8902402812768724046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/09/senja-dan-taksu-di-mata-omink.html' title='Senja dan Taksu di Mata Omink'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrnYs27xhWI/AAAAAAAAAj4/cdrPiv74G50/s72-c/bungan+natah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4068053237903290828</id><published>2009-02-07T14:24:00.011+08:00</published><updated>2009-09-23T15:08:42.591+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pluralisme Dalam Genggam Kekuasaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DENGAN &lt;/span&gt;mengenakan busana adat Bali, Wayan Gablor masih suntuk menyeruput kopi panas yang disajikan Mbah Sarinem. Sesekali, tawa kecil menyeruak menimpali guyonan ringan yang dilontarkan pemilik warung kopi berusia senja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun menyaksikan hal itu. Alangkah indahnya interaksi yang terjalin diantara keduanya. Meski berpuluh-puluh interaksi antara penjual dan pembeli banyak ditemukan di Pasar Senggol Negara, Jembrana, baru kali ini saya merasa takjub. Entahlah! Barangkali, saya hanya baru tersadar jika sesungguhnya terbersit makna dan pesan moral besar yang bersembunyi di balik drama kehidupan sederhana yang dilakoni dua orang berbeda keyakinan itu (Hindu dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pluralisme! Tiba-tiba saja kata sakral itu terngiang-ngiang di telinga. Mungkin saja, kata itu telah menjadi asing di tengah pergaulan masyarakat. Tapi di kampungku (Jembrana), semua itu adalah keniscayaan. Kesejatian nilai-nilai pluralisme masih mengada dan tetap terjaga seiring tumbuhnya egoisme di dalam benak setiap masyarakat suatu wilayah dalam kehidupan kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembrana adalah sebuah wilayah peradaban kecil Bali yang tidak “Bali”. Berbeda dengan Bali Timur, Bali Selatan, ataupun Bali Utara, Jembrana yang dibentuk dari heterogenitas penduduknya menjadi demikian bersahaja di tengah perbedaan dan keberagamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan atas nilai-nilai pluralisme yang terjalin dan terjaga hingga saat ini sesungguhnya telah tercipta sejak lama, bahkan sejak Jembrana masih dipimpin oleh seorang raja. Kuatnya solidaritas antar pemeluk umat beragama di Jembrana dapat dilihat dari keberadaan Kampung Melayu Loloan yang didominasi penduduk asal Bugis dengan “bahasa kampung”-nya, atau juga perkampungan Kristen di daerah Blimbingsari dan Ekasari yang masih terjaga hingga sekarang. Mereka hidup berdampingan dengan orang Bali (suku Bali), tanpa ada gesekan-gesekan sosial yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indonesia Kecil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sisi unik Kabupaten Jembrana diantara peradaban-peradaban lainnya di Indonesia berangsur-angsur menjadi semacam identitas yang melekat kuat pada kabupaten yang terkenal dengan kesenian Jegog Mebarung-nya tersebut. “Jembrana adalah Indonesia Kecil atau miniatur Indonesia. Di sini, kita bisa melihat bagaimana dinamisnya kehidupan sosio kultural dari keberadaan masyarakat yang heterogen ini,” demikian garis besar pandangan yang mengemuka atas pluralisme di Kabupaten Jembrana, yang juga sempat dilontarkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Jro Wacik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna dibalik semua itu? Bahwa kebhinnekaan adalah sebuah keniscayaan di Jembrana, pun di Indonesia. Saya pun kembali teringat sebuah pesan pamflet yang ditulis seorang karib; jika telah sepakat berdemokrasi, maka sesungguhnya kita pun tak bermasalah dengan perbedaan. Perbedaan ataupun keberagaman yang tetap mengada di dalam sebuah wilayah bukanlah sesuatu yang nista ataupun patut dipertentangkan di dalam bangunan peradaban bernama Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyeragaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jika berkaca dari realita yang terjadi belakangan ini, pencederaan demi pencederaan atas nilai-nilai kebhinnekaan sebagai nilai-nilai luhur budaya bangsa yang telah terjalin dinamis nampaknya tengah terjadi. Sepakat atau tidak, tragedi kemanusiaan (baca: penyeragamaan kebhinnekaan) memang tengah terjadi serta telah dicatat dan menjadi bukti sejarah perjalanan peradaban bangsa ini. Sebutlah itu lahirnya produk Undang-undang Pornografi yang hingga kini masih menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan, (konon) dengan jumlah massa yang berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi tercipta. Namun sayang, teriakan-teriakan atas penolakan Undang-undang Pornografi yang diserukan masyarakat seringkali terbentur tembok tebal nan bebal di tingkat elit. Suara-suara menjelma sumbang di telinga mereka. Atas kondisi ini, hanya ada dua pilihan yang dimiliki masyarakat. Pilihan pertama tentu saja dengan mengambil perilaku partisipatif yang diistilahkan dengan partisipasi diam. Dalam artian, sebagai warga negara, kita memposisikan diri hanya dengan duduk dan bersikap manis, dengan mengambil lakon sebagai penonton dalam parodi kehidupan hukum dan politik bernama Undang-undang Pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pilihan kedua, kita sebagai warga negara dapat melakukan pembangkangan demi pembangkangan atas keberadaan Undang-undanga Pornografi, seperti yang gencar dilakukan beberapa komponen bangsa ini, terutama oleh masyarakat yang berasal dari Papua, Bali, Sulawesi dan Yogjakarta. Termasuk juga, beberapa anak bangsa yang memiliki kepedulian lebih atas keutuhan bangunan peradaban bangsa Indonesia dengan kebhinnekaannya dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman (pluralitas) sebagai sebuah keniscayaan insaniah, sekaligus ilahiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan mana yang akan dipilih? Tentunya ini kembali pada hati nurani masing-masing. Apakah akan membiarkan kemunafikan tetap berlangsung dengan dalih menyelamatkan moral bangsa, atau melakukan aksi sebagai bentuk reaksi atas ketidaksepahaman kita sebagai sesama warga negara. Entahlah, saya tidak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lupa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Barangkali, sebuah jawaban sederhana dan juga mungkin primitif atas realita yang terjadi sekarang adalah bahwa kita sudah menjadi bangsa yang lupa, tepatnya lupa diri. Kita telah melupakan siapa diri kita sesungguhnya. Kita lupa bahwa kita semua adalah sama-sama mahluk Tuhan yang bernama manusia dan menjadi bagian bangsa bernama Indonesia. Yang ada di benak kita saat ini hanyalah, aku orang Hindu, aku orang Islam, aku orang Kristen, aku orang Budha. Atau, aku orang Bali, aku orang Jawa, aku orang Ambon, aku orang Betawi, aku orang kaya, aku orang Golkar, aku orang PDI-P, aku orang Demokrat, aku orang PNI, aku orang PAN. Yang ada di benak kita saat ini adalah, bahwa aku orang baik-dia orang jahat, aku orang beriman–dia orang kafir, aku penguasa–dia hanya rakyat jelata, aku tuan rumah–dia pendatang, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupa kebhinnekaan bangsa ini. Kita lupa para leluhur, para pendahulu kita begitu bijaknya sehingga mampu membesarkan bangsa ini. Kita lupa, kebesaran bangsa ini justru karena dulu dibangun dan diperjuangkan oleh Jawa, Batak, Bali, Aceh, Bugis, Ambon, Madura, Dayak, dan sebagainya. Kita lupa bahwa saat merebut kemerdekaan dulu, seluruh anak bangsa ini sama-sama berperan, dari para kiai, ulama, pendeta, politikus, seniman, guru, tentara, polisi, petani, hingga dukun, tukang santet, maling dan pelacur sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupa bahwa kita memiliki peran masing-masing untuk memerdekakan bangsa ini. Semua ikut berjuang dengan peran dan keahlian masing-masing, dan tentu saja dengan porsi masing-masing. Maka mulai saat ini, kita harus sadar dari “mabuk” berkepanjangan bahwa kita adalah masyarakat bangsa Indonesia. Bahwa kita adalah milik bangsa Indonesia yang menjadi bagian dari kebhinnekaan Indonesia. Selebihnya, tidak ada!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4068053237903290828?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4068053237903290828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/02/pluralisme-dalam-genggam-kekuasaan.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4068053237903290828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4068053237903290828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/02/pluralisme-dalam-genggam-kekuasaan.html' title='Pluralisme Dalam Genggam Kekuasaan'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-68303982899467261</id><published>2009-01-30T00:00:00.005+08:00</published><updated>2009-09-23T15:02:29.365+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Untung Ada SE Bupati!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGAP!&lt;/span&gt; Mungkin itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan palemahan Jagat Bali belakangan ini. Selain dibuat pengap lantaran anomali musim yang semakin tak menentu dan masa pancaroba yang bekepanjangan, kepengapan Jagat Bali semakin menjadi-jadi dengan marak dan berserakannya aneka atribut demokrasi yang diumbar begitu saja oleh partai-partai politik dan juga para calon legeslatifnya, lewat berbagai alat peraga out dor seperti baliho, spanduk, poster, bendera, hingga stiker, dari yang berukuran raksasa sampai ukuran liliput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sini semakin terasa bagaimana ruang publik yang menjadi hak warga masyarakat benar-benar diperkosa. Mereka seakan dipaksa untuk memelototkan mata untuk melihat dan menyaksikan berbagai pesan politik yang tentu saja berhubungan pencitraan, dan ekor-ekornya untuk mendulang suara saat Pemilu nanti. Bali Pulau Sorga atau Bali Pulau Seribu Pura, tiba-tiba berubah menjadi Bali Pulau Berjuta Baliho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah lintasi jalan-jalan di Badung, Denpasar, Buleleng, Tabanan, bahkan Bangli, Gianyar, Klungkung dan Karangasem. Semua menjadi penuh sesak oleh berbagai atribut politik demokrasi kepartaian. Lantas bagaimana dengan Kabupaten Jembrana? Seorang sohib menjawab, “untung ada SE Bupati Jembrana yang mengatur pemasangan atribut politik dan kepartaian. Kalau tidak, ruang publik di Jembrana juga akan sama dengan daerah lain. Penuh, sesak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan berbagai atribut partai politik dengan polical cost yang tinggi pula, tentunya, sangatlah lazim dijumpai di dalam setiap menjelang perhelatan pesta demokrasi. Seperti yang terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota, langit Bali menjelang Pemilu Legislatif 2009 lebih riuh, meriah dan hingar bingar dengan aneka warna bendera partai politik peserta politik yang akan berlaga. Esensi demokrasi pun akhirnya (seolah) terabaikan. Kini Pemilu hanya dipandang sebagai sebuah momentum perebutan kekuasaan suatu partai politik tertentu, ketimbang masa transisi di dalam mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan melalui partai politik sebagai alat perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak terjang partai politik di tanah air memang tengah menunjukkan gejala-gejala demikian. Bahkan ideologi partai politik dalam laku politik dan demokrasi kekinian pun serasa tidaklah berjalan sebagaimana yang dicita-citakan. Maka, tidaklah salah jika kemudian lahir pandangan-pandangan sinis dan miring atas keberadaan dan perilaku partai politik (kini gerak dan tujuan sebagian besar parpol seolah hanya berorientasi pada ambisi untuk mengejar kekuasaan semata), yang diamini masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti harapan kita semua, setiap partai politik tentunya dituntut mampu memandang demokrasi ataupun Pemilu itu sendiri secara luas, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak seperti yang terjadi sekarang, Pemilu hanyalah menjadi medan perang kepentingan yang berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Meski telah disadari, sayangnya situasi atau laku politik di tanah air yang terjadi beberapa tahun terakhir tidaklah menunjukkan tanda-tanda membaiknya proses demokrasi di dalam bangunan peradaban bangsa ini. Apa sebabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, demokrasi cenderung dipandang sebagai tujuan bangsa. Padahal sejatinya, demokrasi hanyalah sebagai alat atau pilihan jalan untuk mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat banyak. Jika dalam perjalanannya proses demokrasi ternyata malah merusak serta mengubah arah dan tujuan bangsa ini, tentunya kita sebagai penghuni bangunan peradaban bangsa ini harus tegas menolaknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bercermin dari realita atas timbulnya intrik-intrik politik di tanah air, sejatinya ada kerinduan akan berjalannya proses demokrasi yang lebih jujur dan bernilai guna. Misalnya, biaya politik (political cost) yang harus dikeluarkan partai politik (terutama oleh para calon) saat masa-masa kampanye dialihkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dalam artian, belanja politik yang dilakukan tidaklah sebatas untuk pembelian dan pemasangan atribut (bendera ataupun baliho), termasuk juga praktek money politic —yang diakui atau tidak sesungguhnya masih tetap terjadi, tetapi juga untuk pembangunan yang lebih luas. Pembangunan sekolah yang disesuaikan dengan ideologi politik parpol masing-masing, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai perilaku yang ditunjukkan hampir seluruh partai politik peserta Pemilu, nampaknya ada satu hal kecil yang mengemuka dan memerlukan perhatian ekstra. Tiada lain, mengenai amburadulnya pemasangan atribut atribut politik seperti bendera dan baliho para caleg, cagub, ataupun cabup masing-masing parpol. Karena berdasarkan realita, tak jarang pemasangan atribut parpol tersebut telah mengabaikan, bahkan mengorbankan ruang-ruang publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman demokrasi sebagai sebuah kebebasan yang dijamin negara —namun sayangnya kini lebih diterjemahkan sebagai sebuah kebebasan mutlak— tentunya perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari berbagai kalangan, terutama oleh KPU sebagai penyelenggara/pelaksana, pemerintah sebagai fasilitator dan partai politik sebagai peserta Pemilu. Keberadaan perundang-undangan yang mengatur mekanisme atau tata cara di masa-masa kampanye mendesak untuk “diadakan” agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat di dalam menggunakan/ memanfatkan ruang-ruang publik yang menjadi hak setiap warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Kabupaten Jembrana, pemerintah daerah sendiri telah membuat semacam proteksi untuk “melindungi dan menyelamatkan” hak-hak masyarakatnya. Disamping itu pula, proteksi-proteksi semacam itu tentunya juga berdampak pada tercipta dan terjaganya kondusivitas wilayah melalui upaya meminimalisir gesekan-gesekan antar massa partai politik. Melalui Surat Edaran Bupati Jembrana Nomor 210/1191/SatPol.PP/2008 tentang pemasangan atribut partai politik yang berlaku di sepanjang jalan provinsi dan protokol, sejatinya Pemkab Jembrana tengah berusaha mengembalikan hak-hak publik yang (berpotensi) “terampas” dengan keberadaan atribut puluhan parpol peserta Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, koordinasi antara elemen sangatlah wajib dikedepankan untuk menghindari aturan yang tumpang tindih. Namun jika melihat dan mengacu UU RI tentang Pemilu Nomor 10 Tahun 2008 pasal 101, penerbitan surat edaran tersebut tidaklah sepihak. Karena sejatinya, pemerintah pusat telah menitikberatkan pentingnya koordinasi antara KPU dan jajarannya dengan pemerintah daerah setempat, terutama mengenai lokasi pemasangan atribut partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pemerintah sama sekali tidak melarang pemasangan atribut partai politik tersebut. Namun, pembatasan pemasangan di ruang-ruang publik memang harus dilakukan sebagai bentuk proteksi pemerintah setempat, mengingat banyaknya keluhan dan pengaduan dari masyarakat karena merasa terusik keberadaan atribut yang saling tumpang tindih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya bangsa ini melaksanakan demokrasi yang mumpuni. Proses demokrasi yang benar-benar dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-68303982899467261?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/68303982899467261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/untung-ada-se-bupati.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/68303982899467261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/68303982899467261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/untung-ada-se-bupati.html' title='Untung Ada SE Bupati!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7343048418726692424</id><published>2009-01-25T00:00:00.005+08:00</published><updated>2009-09-23T15:03:00.492+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Menuntut Komitmen Pemimpin Tetap Berkumis</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;KONDISI &lt;/span&gt;sosial ekonomi yang dialami bangsa ini merupakan faktor utama terjadinya anomali sosial yang timbul akibat tidak imbangnya kondisi sosial ekonomi di masyarakat, yakni antara pendapatan dan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Di tingkatan gunung es, anomali sosial mulai dapat disaksikan. Misalnya, perampokan yang mulai marak. Adakalanya, perampokan atau tindak kriminalisme lainnya itu disertai kekerasan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tragedi pembagian zakat yang menewaskan setidaknya 21 orang di Pasuruan, Jawa Timur, beberapa waktu lalu adalah bagian kecil dari dampak kemiskinan yang terjadi saat ini. Masih banyak lagi kisah-kisah getir yang dapat dideretkan sebagai sebuah realitas tak terbantahkan yang mewarnai perjalanan pemberian bantuan sosial untuk masyarakat miskin. Secara awam, kondisi tersebut juga menyiratkan bahwasannya saat ini tidak (belum?) adanya akurasi data atas keberadaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah tersebut bisa jadi makin rumit ketika kaum miskin dimanfaatkan untuk kepentingan politis, terutama menjelang Pemilu, oleh para pialang politik yang berwatak Machiaveli. Yakni, dengan memberikan penyaluran “energi” bagi kaum miskin untuk menghalalkan segala cara demi suksesnya perebutan kekuasaan, termasuk dengan menciptakan kekerasan, peperangan dan anarkisme. Dengan demikian, hal itu cenderung melahirkan konflik politik yang makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi masyarakat yang demikian tertekan, jangan heran jika kemudian hanya dengan kabar burung saja, masyarakat akan langsung tersulut untuk melakukan tindak kekerasan. Mereka akan bersikap anarkis sebagai bentuk eskapisme sosial sebagai wujud ketidakmampuan mendorong perubahan ekonomi politik di pusat kekuasaan, yang tentunya membahayakan integritas bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Jembrana dan Komitmen “Berkumis”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Meski masalah kemiskinan membutuhkan penanganan yang berkesinambungan oleh seluruh kalangan, keberadaan dan peranan seorang pemimpin tentu menjadi sebuah daya tawar tersendiri. Maka, membangun mental progresif para elite politik, birokrat dan pejabat untuk peduli pada nasib kaum miskin menjadi hal yang penting untuk dikelola. Karena seorang pemimpin sejati tidaklah melihat batas-batas golongan dan kepentingan. Ia berkuasa tetapi tidak menguasai; kaya tetapi tidak memiliki; jujur tetapi rendah hati; berbicara melalui kerja; termasyur tetapi berlaku biasa. Terakhir, ia terpanggil untuk memimpin karena hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyatnya sendiri. (Jacob Sumardjo, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah jargon politik ”Berkumis” (Berantas Kurangi Kemiskinan) yang menjadi semacam sikap atas laku kepemimpinan Prof. Dr. I Gede Winasa selama menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jembrana seolah menemukan wilayah ucapnya. Berawal komitmen, kerja keras yang dilakukannya bersama-sama masyarakat membuahkan hasil yang gemilang. Maka, bukanlah sesuatu yang mencengangkan jika kemudian Kabupaten Jembrana berhasil menurunkan jumlah masyarakat miskinnya saat ini hingga berada pada kisaran angka 5 ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan kemiskinan dititikberatkan pada upaya untuk menciptakan ekonomi produktif bagi masyarakat, salah satunya melalui pembentukan pokmas gakin. Mereka dilatih dan diberdayakan untuk menunjang ekonomi rumah tangga masing-masing. Dengan kata lain, yang terpenting untuk mengatasi kemiskinan saat ini adalah menciptakan kreativitas masyarakat dan daya tahan ekonomi yang kokoh. Karena ilmu pengetahuan, teknologi, politik, seni dan sastra, serta pelayanan sosial, misalnya, sejatinya bisa dikelola sesuai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka membangun kreativitas dan menumbuhkan potensi diri tentu saja harus diikuti dengan upaya me-monitoring keberadaan masyarakat miskin dan masyarakat yang berpotensi miskin. Melalui Posdayandu, keberadaan masyarakat miskin pun diketahui bahkan hingga di wilayah-wilayah terpencil sekalipun. Inilah wujud komitmen bersama pemberantasan kemiskinan di Jembrana, sekaligus mewujudkan target pencapaian MDGs (Millenium Development Goals) Jembrana di tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Tercecer&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kaum atau masyarakat miskin merupakan kelompok masyarakat memiliki ketidakberdayaan. Karena kehidupan bersifat dinamis, deretan angka-angka sebagai penanda jumlah kemiskinan pun sejatinya bukanlah sesuatu yang mutlak. Maka, sebuah langkah lanjutan diperlukan untuk meminimalisir kemungkinan tercecernya masyarakat miskin tersebut. Inilah yang harus dipahami dan dikelola karena masih banyak masyarakat miskin yang belum terdata. Entah karena memang tercecer, atau baru miskin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk miskin adalah sebuah kenyataan dan bukan sebatas hitungan angka-angka. Maka, pengabaian-pengabaian atas realita ini tidaklah boleh terjadi. Maka, komitmen untuk ‘berkumis’ harus tetap berjalan, tanpa menghitung posisi, golongan, jabatan politis ataupun golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, pemanfaatan IT dalam me-monitoring ataupun mapping penduduk miskin di Jembrana tentu menjadi sebuah strategi yang efektif. Namun demikian, hal itu tidaklah serta merta boleh dijadikan sebuah patokan mutlak. Karena yang terpenting adalah bagaimana mengolah “rasa” terhadap keberadaan orang-orang di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan atau memanfaatkan teknologi dalam upaya pengentasan kemiskinan merupakan bentuk efektivitas. Tapi, janganlah lantas pemerintah menghambakannya. Jauh lebih bijaksana apabila IT dan naluri kemanusiaan dipadukan untuk memantau dan mengentaskan kemiskinan. Apalagi ketika teknologi kehilangan ruh, janganlah kita menghambakannya. Jangan sampai negara atau pemerintah menjadi abai karena keberadaan teknologi itu sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7343048418726692424?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7343048418726692424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/menuntut-komitmen-pemimpin-tetap.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7343048418726692424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7343048418726692424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/menuntut-komitmen-pemimpin-tetap.html' title='Menuntut Komitmen Pemimpin Tetap Berkumis'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-550563226751893737</id><published>2009-01-21T18:18:00.007+08:00</published><updated>2009-09-23T15:03:34.322+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Pemilu Oh Pemilu....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERGEGAS!&lt;/span&gt; Mungkin istilah ini sangat tepat untuk menggambarkan hiruk-pikuk persiapan pesta demokrasi Pemilu 2009. Bisa kita lihat, bagaimana jumlah partai politik peserta Pemilu yang berjibun hingga lebih dari 30 partai, hingga peraturan perundang-undangan yang lahir untuk mengatur perilaku terkesan lebih diciptakan atas sebuah reaksi, bukan dipersiapkan sebagai sebuah antisipasi secara konseptual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belum lagi jika kita menilik pemahaman dan penafsiran akan peraturan perundang-undangan yang ada, benar-benar membuat para Pemilu 2009 ini menjadi wilayah hingar-bingar yang tidak bertuan. Saat ini tidaklah pernah menjadi jelas, siapa pemain dan siapa penyelenggara. Semuanya gamang atau dibuat gamang. Entahlah! Maka, tidaklah berlebihan kalau kemudian masyarakat awam mengeluh atas persiapan penyelenggaraan pesta demokrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi politik demokrasi bangunan peradaban bangsa menjelang Pemilu 2009 memang hingar bingar. Ini tidak hanya terjadi di lingkup pusat saja, tapi secara tak langsung juga sudah menurun hingga ke daerah-daerah. Apalagi jika dilihat dari fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, tumpang tindih aturan yang dibuat masing-masing lembaga membuat persiapan Pemilu 2009 mendatang bak benang kusut yang tak berujung pangkal. Darimana mulai mengurainya, entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan menyatakan, Pemilu 2009 ini dilakukan secara bergegas. Salah satu contoh masalah yang mendasarinya terkait dengan sistem pencoblosan yang belum sepenuhnya siap. Artinya, sistem contreng yang kini diberlakukan masih menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Tetapi mau bagaimana lagi, sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, keniscayaan yang terjadi di dalam prosesi ini haruslah dilakukan dan dilalui, apapun tantangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelecehan demokrasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Permasalahan yang mengemuka ternyata tidak hanya sebatas itu, tetapi juga terjadi di internal partai politik peserta Pemilu sendiri. Jika kita mau memandangnya secara arif, sebenarnya tidaklah banyak partai yang siap bertarung dalam prosesi politik demokrasi yang bernama Pemilu. Pembentukan partai-partai baru tak lebih dari sebuah bentuk ketidakpuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat disayangkan, pembentukan partai baru yang dibuktikan dengan berjibunnya jumlah partai politik peserta Pemilu ini telah mengabaikan esensi demokrasi itu sendiri. Dengan kata lain, kata demokrasi telah dijadikan alasan untuk membentuk sebuah partai baru yang sayangnya mengabaikan esensinya. Maka tak berlebihan jika ada pandangan yang menyatakan bahwa hal ini merupakan sebuah bentuk pelecehan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah esensi pembentukan partai itu adalah sebagai wadah untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat? Partai politik adalah sebuah alat perjuangan. Tapi realitanya, kebanyakan parpol hanya berorientasi untuk mengejar kekuasaan saja, bukan mengusahakan peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Ketika tujuan parpol terpenuhi (memenangi Pemilu), selesai sudah. Keadaan rakyat tetap sama, tak terjadi perubahan sedikit pun. Keadaan ini sudah dapat dibaca dengan sangat jelas. Eforia (pembentukan partai politik) ini memang telah membuat orang lupa diri. Tetapi mau bagaimana lagi?” demikian pandangan beberapa kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan demi pertanyaan memang tengah mengemuka di dalam benak masyarakat, mulai dari aturan perundang-undangan yang tumpang tindih hingga keberadaan puluhan parpol peserta Pemilu. Sementara itu, jumlah pemilih masih tetap sama. Jika mengalami perubahan, itu pun tidak seberapa. Berdasarkan data KPUD Jembrana, jumlah pemilih yang sudah tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 202. 455 pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat berbagai permasalahan yang mengemuka menjelang pesta demokrasi ini, maka pantaslah masyarakat menjadi bingung. Tetapi mau apa lagi? Sekali lagi, inilah sebuah keniscayaan demokrasi yang harus dilalui. Lantas, apa yang dapat diharapkan dari sebuah proses demokrasi bergegas ini? Entahlah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-550563226751893737?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/550563226751893737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/pemilu-oh-pemilu.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/550563226751893737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/550563226751893737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2009/01/pemilu-oh-pemilu.html' title='Pemilu Oh Pemilu....'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-3028990751488777378</id><published>2008-12-06T10:09:00.003+08:00</published><updated>2009-09-23T16:30:01.515+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semi Privasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lomba'/><title type='text'>………………….</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika ada hal yang kutakutkan, barangkali itu adalah sebuah kehilangan….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Kebohongan, candaan. Mungkin ini yang mengawali kisah percintaanku dengannya. Gadis kecil yang diselimuti nada-nada di sekelilingnya)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAK&lt;/span&gt; pernah sedikitpun terbayangkan jika aku akan menjalin asmara dengannya. Sungguh, ia hanyalah gadis yang biasa. Jika ada hal yang istimewa darinya, itu hanyalah suaranya. Saat itu aku hanya jatuh cinta pada suaranya, bukan pada pemilik suara itu. Hanya suaranya saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu masa di senja itu, diantara keriuhan alunan gitar, perkusi, biola, bas, suling, suara fals dan sumbang, sesekali aku mencuri pandang kepadanya. Menikmati suaranya, mendengarkan bait demi bait lagu yang mengalun dari bibirnya. Seksi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin mendapat perhatian lebih darinya. Meski ku tahu, sesekali, ia juga melempar pandang padaku, menawarkan senyum abadi yang hingga kini masih setia diberikannya untukku. Aku merasa teduh, mendapatkan sesuatu yang hingga kini masih menjadi milikku. Utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kemarin itu kakak ngomong apa, sich?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Siemens-ku di senja itu, hampir dua tahun silam. Aku mengerti maksudnya. Ia memang seorang gadis kecil yang tak pernah merasa “tenang” apabila tidak menemukan jawaban yang memuaskannya. SMS itu bermula ketika aku membisikkannya kalimat tak jelas di telinganya, di sela-sela latihan persiapan latihan musikalisasi kelompok kami —Penyanyi Sakit Jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Gak ada apa-apa. Aku hanya menggumam gak jelas,” kataku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti yang sudah ku duga, jawabanku tak memuaskannya. Ia kembali memberondongku dengan berbagai pertanyaan, masih dalam konteks yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku bingung. Diantara kemelut itulah, sifat jahilku kambuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“I love you.” Aku mengiriminya SMS seraya menyeringai. Sungguh, sama sekali tak pernah terpikir aku akan mengirim pesan seperti itu. Aku diam saja, menunggu reaksinya yang rupanya disambutnya dengan makna pesan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir dua tahun aku menjalani percintaanku dengannya. Belakangan akhirnya ku tahu jika ia hanya bercanda ketika mengungkapkan memiliki perasaan yang sama denganku. Ya, sama sepertiku ketika pertama kali mengungkapkan “cinta” padanya. Percintaan kami diawali dengan sebuah kebohongan, candaan, guyonan, yang akhirnya justru melabuhkan perasaan yang awalnya kami ingkari ke dalam satu komitmen percintaan yang tulus, apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan Andari —gadis kecil itu, aku menemukan kisah percintaan yang tak biasa. Aku begitu nyaman. Tidak ada kepura-puraan dalam cinta kami. Aku dan dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai kini, kami telah terbiasa bersama. Hampir setiap hari, waktuku kuhabiskan untuk menemaninya. Meski kadang bosan merayap, aku tetap berusaha bertahan seraya meyakini, dialah gadis itu. Gadis yang akan menemaniku, hari ini dan esok nanti. Gadis yang akan memandangku dengan tatapan teduh penuh cinta. Gadis yang akan senantiasa setia memberiku senyum tulus, tanpa keterpaksaan, meski sangat berbeda dengan senyum yang seringkali ku berikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, jika ada hal yang kutakutkan dalam dunia ini, barangkali itu adalah sebuah kehilangan. Bukan kehilangan Andari, tapi kehilangan perasaannya, senyumnya, tatapan teduhnya dan ketulusan cintanya yang hingga kini masih kurasakan, sama seperti ketulusan yang ditawarkannya dulu.Ya, aku takut kehilangan itu semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;-------THE END-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Nb:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255); font-style: italic;" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Cerita ini tak hendak kuberi judul. Aku tak ingin kisah ini hanya berjalan ataupun berhenti sebatas peristiwa biasa saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika suka dengan kisah ini, &lt;a href="http://ceritacinta-di.blogspot.com/2008/11/kontes-menulis-cerita-cinta.html"&gt;vote &lt;/a&gt;saya, heheee.... Cukup KLIK dan beri KOMENTAR di &lt;a href="http://ceritacinta-di.blogspot.com/2008/11/kontes-menulis-cerita-cinta.html"&gt; link&lt;/a&gt; ini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/%27http://ceritacinta-di.blogspot.com/2008/11/kontes-menulis-cerita-cinta.html%27" title="'kontes" target="new"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/%27http://gickr.com/results4/anim_7ed902c5-9e27-d5c4-e198-aeb114eddc21.gif%27" alt="'Kontes" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ceritacinta-di.blogspot.com/" target="new"&gt;Peserta kontes cerita cinta, &lt;/a&gt;&lt;a href="http://ceritacinta-di.blogspot.com/2008/11/kontes-menulis-cerita-cinta.html" target="new"&gt;Vote me&lt;/a&gt;Didukung oleh &lt;a href="http://seno008.blogspot.com/" target="new"&gt;Seno&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-3028990751488777378?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/3028990751488777378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/12/blog-post_3565.html#comment-form' title='29 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3028990751488777378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3028990751488777378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/12/blog-post_3565.html' title='………………….'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-3644062297085526265</id><published>2008-11-26T11:46:00.004+08:00</published><updated>2009-09-24T17:44:06.119+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Bali Tanpa Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;“Proyektor itu memantulkan gambar idoep ke selembar kain putih sekitar 2 X 3 meter yang tertempel di tembok. Frame demi frame gambar beringsutan selama kurang lebih lima puluh satu menit di sana, mendongeng tentang hamparan sosiokultural sebuah wilayah di Bali. Namun di sana hampir tidak bisa ditemukan gambaran tentang Bali sebagaimana yang ditemui di televisi atau brosur pariwisata. Hanya beberapa detik saja melintas foto penari legong, figur gadis Bali tempo dulu yang telanjang dada, serta bangunan pura. Selebihnya adalah gambaran sepasang kerbau yang lari dengan beringas dalam makepung; tangkas para penabuh jegog; kendang raksasa dalam gamelan kendang mabarung; penari pencak silat yang berkostum mirip pemain stambul; penari leko yang sekilas tampak cuma meniru kostum penari legong…..” &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(Bali Tanpa Bali)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bali Tanpa Bali; satu dari 25 tulisan sebagai bentuk penerjemahan kegelisahan &lt;a href="http://ibedbilabali.blogspot.com/"&gt;Ibed Surgana Yuga&lt;/a&gt;, atas keberadaan Bali. Secara gamblang, Ibed berkeinginan bertutur (berkisah) tentang keberadaan Jembrana sebagai sebuah bangunan sosiokultural Bali yang tidak “Bali” —pandangan terhadap film dokumenter Bali Yang Lain, yang “membantah” gambaran umum tentang Bali yang selama ini dikonsumsi orang luar Bali (atau tak jarang oleh orang Bali sendiri) melalui televisi, info pariwisata, cerita dari mulut ke mulut tentang Bali yang eksotis. Tegasnya, ada satu wilayah Bali yang tidak “Bali”! Bali yang hampir tidak dibangun oleh gadis cantik berkebaya membawa sesajen sambil tersenyum manis dengan background barong dan rangda serta megahnya bangunan pura.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa yang dituliskan Ibed; pemuda Bali yang tengah berdiaspora, nampaknya menjadi sebuah bantahan atau “perlawanannya” atas pemahaman Bali dalam pola pikir masyarakat umum. Bahwa Bali adalah Bali; sebuah bangunan budaya yang terbangun dari berbagai sisi putih, bersih, positif. Atau bahkan, hampir tidak ada sisi hitam (kelam) yang membentuk Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lugasnya orang Bali yang tidak “Bali” ini menyentil berbagai pandangan umum masyarakat. Seperti dalam tulisannya “Nak Bali Apa Sing Bisa Ngigel!”, tampaknya Ibed ingin menyampaikan sebuah pemikiran bahwa tidak selamanya orang Bali adalah “orang Bali”. Bali yang dipandang hanya berdasarkan narasi-narasi yang disusun untuk pencitraan Bali, berdasarkan kenyataan empiris yang terjadi di beberapa wilayah tertentu di Bali, dan memang tetap berjalan hingga kini, yang kemudian memupuk pemahaman bahwa seluruh orang Bali bisa ngigel (menari) sebagai salah satu citra Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam launching buku Bali Tanpa Bali, Ibed mengaku dirinya baru bisa “melihat” Bali ketika tidak berada di wilayah geografis Bali (Jogjakarta). Apakah ini sebuah kekagetan atau cultural shock yang selama ini menjadi semacam kebiasaan (untuk menghindari kata “penyakit”) orang Bali ketika berada di luar Bali? “Mungkin saja begitu,” akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibed mengakui, banyak fakta yang didapatkannya ketika berdiaspora di luar Bali. Seperti yang dituturkannya, seorang teman dari Malang sempat terjatuh di Denpasar. Saat itu, tidak ada satu orang Bali pun yang menolongnya. “Katanya orang Bali itu ramah?” kata Ibed menirukan sindiran temannya. Dari peristiwa ini, nampaknya Ibed mencoba menarik atau bahkan mendapat sebuah “sinyal” bahwa ada kekecewaan dari seseorang luar Bali atas jargon-jargon pencitraan yang berkembang di Bali (salah satunya tentang keramahan orang Bali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman atas strategi pencitraan yang selama ini diterjemahkan melalui televisi, info pariwisata ataupun cerita dari mulut ke mulut tentang Bali yang eksotis seringkali menjadi bias ketika orang luar Bali (atau bahkan masyarakat Bali sendiri) menemui realita yang tak sejalan dengan apa yang didengung-dengungkan. Barangkali juga, kisah yang dituturkan Ibed tentang seorang teman dari Malang tersebut hanyalah salah satu tragedi kecil sebagai sebuah “bantahan” atas strategi pencitraan atas eksotisme Bali yang selama ini seringkali didengung-dengungkan. Realita tentang Bali yang feodal, Bali yang gamang, Bali yang fundamentalis, bahkan Bali yang penuh praktek kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0);"&gt;“Seseorang memberi cap eksotis terhadap sesuatu karena orang itu berada di luar wilayah sesuatu yang dianggapnya eksotis, yang notabene baru dikenalnya. Dengan kata lain, jarak budaya menjadi salah satu penentu klaim eksotis. Penentu lainnya adalah subjektivitas atau cara pandang seseorang, serta pengaruh subjektivitas atau cara pandang orang lain terhadap seseorang itu….”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Bali Tanpa Eksotika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Keterasingan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jarak geografis telah menciptakan pandangan sendiri bagi seseorang. Dan Ibed, hanyalah salah satunya. Keterasingan demi keterasingan pun melandanya hingga melahirkan berbagai sudut pandang yang nungkalik (bertolak belakang) tentang Bali secara umum. Keterasingannya terhadap bahasa (Bahasa Bali), mungkin salah satunya. Kini ia merasa aneh ketika bahasa sebagai media komunikasi serta transformasi laku serta pikir, mendadak bersikap seperti seorang asing yang harus dikenali terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suasana komunikasi yang begitu jauh berbeda kami —terutama saya— alami ketika pertemuan di mana ia menggunakan basa Bali alus itu. Saya perhatikan ia, dengan penguasaan basa Bali alus yang agaknya pas-pasan, tertatih-tatih bercakap dengan saya. Saya bisa membaca bahwa ia tidak mampu menggunakan ungkapan yang pas untuk mentransformasikan berbagai ide yang ada dalam pikirannya kepada saya. Ia menjadi orang yang gagap. Saya yang juga tidak terlalu fasih ber-basa Bali alus memilih untuk menjawab dengan bahasa yang biasa, tidak kasar tidak halus….” (Bahasa Bali yang Jauh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam penggunaan bahasa, ia juga merasakan keterasingan (atau mungkin kehilangan?) akan sebuah perayaan hari raya. Karena tak jarang, tugasnya sebagai mahasiswa ISI Jogjakarta Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Teater memaksanya untuk merelakan hilangnya perayaan demi perayaan (hari raya) seperti yang selama ini dilakoninya di Bali, meskipun kemudian kehilangan itu sirna oleh perayaan hari raya dengan format budaya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;“…. Walau saya datang ke suatu pura di Jogja untuk sembahyang pada hari raya, dan di sana saya bertemu dengan cukup banyak orang Hindu Bali yang juga sedang merayakan hari raya, namun tetap saja atmosfir hari raya, yang telah dibangun oleh latar belakang sosial saya di Bali, tidak teralami. Demikian pula ketika saya mengikuti berbagai pesta perayaan menjelang Nyepi di Candi Prambanan yang lengkap dengan pernak-pernik ogoh-ogoh itu….” (Hari Raya yang Hilang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cukup banyak sentilan-sentilan nakal yang memberi pemahaman baru atas keberadaan Bali dalam tulisan-tulisannya. Ibed adalah seorang Bali yang tidak “Bali” yang tidak sepakat dengan wacana raksasa Ajeg Bali. Ibed adalah seorang Bali yang tidak “Bali” yang apatis dengan sistem kasta atau catur wangsa di Bali. Namun demikian, Ibed juga merupakan seorang Bali yang tidak “Bali” yang sangat prihatin dengan hilangnya produk-produk budaya yang pernah dimiliki leluhur orang Bali (kehilangan kultural).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari konteks sepakat atau tidak, layak atau tidak, (tentunya ini berdasarkan interprestasi masing-masing orang —pembaca), buku Bali Tanpa Bali setebal xiii + 164 halaman terbitan Panakom Publishing bekerja sama dengan Komunitas Kertas Budaya yang merupakan kumpulan tulisan Bali Diaspora di Tabloid &lt;a href="http://indep-news.blogspot.com/"&gt;Independen News&lt;/a&gt; ini mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan. Bahwa sebuah karya nyata jauh lebih baik dari beribu-ribu ide yang melayang-layang di dalam kepala. Akhirnya, selamat membaca!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-3644062297085526265?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/3644062297085526265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/11/bali-tanpa-bali-pemikiran-nungkalik.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3644062297085526265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3644062297085526265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/11/bali-tanpa-bali-pemikiran-nungkalik.html' title='Bali Tanpa Bali'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2205968887305988553</id><published>2008-11-09T22:48:00.003+08:00</published><updated>2009-09-24T17:44:26.685+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Amrozi Cs dieksekusi, Lalu…..</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BARANGKALI&lt;/span&gt; ekseskusi trio bomber Bali, Amrozi, Mukhlas alias Ali Gufron dan Iman Samudra alias Abdul Azis telah menjadi sebuah momen yang ditunggu kebanyakan orang. Sebuah peristiwa besar yang telah lama dinantikan terutama oleh para korban Bom Bali I tahun 2002 silam. Karena sebelumnya, berbagai kesangsian tentang keberanian pemerintah dalam menegakkan hukum di negara ini cukup menjadi tanda tanya besar di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ekseskusi trio bomber Bali, Amrozi, Mukhlas alias Ali Gufron dan Iman Samudra alias Abdul Azis telah menjadi sebuah momen yang ditunggu kebanyakan orang. Ya, hidup Amrozy Cs memang telah berakhir di ujung timah panas di Bukit Nirbaya —sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati— pada pukul 00.15 Wib dini hari tadi. Kini, mereka hanya tinggal nama, sekaligus menyisakan kegetiran di dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Lantas apa yang bisa kita renungkan atas perjalanan Amrozy Cs yang telah menjadi teroris sekaligus pejuang di dalam bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak dapat dipungkiri, Amrozi Cs telah menjadi seorang pejuang bagi para pendukungnya. Dan tentunya, ini tak lepas dari keteguhan dan heroisme “perjuangannya” (yang sayangnya memilih menggunakan gerakan Islam garis keras) di dalam menegakkan kesejatian Islam. Pejuang? Perjuangan? Ah, tiba-tiba saja saya menangkap sebuah kebenaran atas makna kata pejuang atau perjuangan itu sendiri. Tentunya, ini terlepas dari konteks benar dan salah atas apa yang mereka yakini. Ya, mereka meluluhlantakkan Bali enam tahun silam karena memperjuangkan apa yang diyakininya. Dan bagi saya, Bom Bali I itu hanyalah sebatas peristiwa kecil saja dari sebuah perjuangan yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kita bisa melihat kebenaran atas kata perjuangan itu, meskipun ditunjukkan dengan sebuah kegetiran. Amrozi Cs telah mengajarkan kita (saya) tentang sebuah sikap dan tanggung jawab atas sesuatu hal yang diyakini. Mereka telah mengajarkan kita untuk tidak ragu sedikit pun di dalam memperjuangkan suatu “kebenaran”. Mereka telah mengajarkan kita bagaimana bangsa ini harus bangkit dan melawan setiap penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrozi Cs telah dieksekusi, lalu….? Ya, kini kita hanya bisa mengambil hikmah atas “perjuangannya” mereka. Atau barangkali kita memang tengah membutuhkan revolusi? Tapi revolusi tanpa darah tentunya! Kita (saya) memang harus banyak belajar dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah celotehan ngelantur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2205968887305988553?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2205968887305988553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/11/amrozi-cs-dieksekusi-lalu.html#comment-form' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2205968887305988553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2205968887305988553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/11/amrozi-cs-dieksekusi-lalu.html' title='Amrozi Cs dieksekusi, Lalu…..'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2304231418337965029</id><published>2008-10-29T23:09:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:44:50.030+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semi Privasi'/><title type='text'>Terlahir Kembali?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini menjadi hari yang berat bagiku. Persoalan demi persoalan datang, hilir mudik! Tumpang-tindih hingga merupa bagian-bagian tak berbentuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah itu sebenarnya hanyalah hal yang biasa. Sebuah upacara yang mungkin setiap hari mengiringi jejak-jejak kakiku. Barangkali, situasi yang membuatku cukup terpuruk dengan keadaan ini. Aku lemah, mungkin juga kalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalah oleh keadaan. Aku disudutkan berbagai persoalan yang justru lahir dari pikiranku sendiri, perbuatanku sendiri! Entahlah. Satu hal yang kutahu, aku sama sekali tak pernah dikalahkan persoalan-persoalan itu. Justru, aku dikalahkan sebuah kekuatan. Sebuah perilaku paling purba dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin aku tak sepenuhnya dapat memahaninya. Seberapa pun besar kesalahan yang kulakukan, ia tetap seperti yang kukenal. Cinta, kasih dan sayangnya masih sama, utuh seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberiku kekuatan, meski ku tahu itu terasa sulit baginya. Merangkulku dengan sisa-sisa semangatnya. Masih dengan tatapan yang dulu! Aku merasa terlahir kembali dan dihadapkan pada dua pilihan; memberikannya kesejatian, atau kembali menjatuhkannya dalam lorong kelam tak berkesudahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Aku hanya ingin membiarkannya mengalir. Seraya berharap, perjalanan ini membawaku pada sebuah muara yang dihiasi kicau burung dan senja yang tetap menggelayut ramah. Untukku, dan untuk kita....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2304231418337965029?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2304231418337965029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/terlahir-kembali.html#comment-form' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2304231418337965029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2304231418337965029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/terlahir-kembali.html' title='Terlahir Kembali?'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5658565263651836787</id><published>2008-10-17T22:00:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:45:05.800+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Korupsi = Budaya?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="awal"&gt;B&lt;/span&gt;udaya atau kebudayaan dalam lingkungan pergaulan kekinian nampaknya mulai mengalami pergesesaran makna. Kata budaya seringkali menjadi “kambing hitam” atas perilaku masyarakat atas berbagai penyikapan terhadap suatu polemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai polemik akut memang telah menjadi semacam “pelengkap” di dalam sejarah bangunan peradaban bangsa ini. Korupsi merupakan salah satunya. Bahkan untuk masalah yang satu ini, lembar sejarah dunia senantiasa mencatat Indonesia berada di dalam posisi tiga besar negara terkorup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sifat korup yang dilakukan para elit pemegang kekuasaan di pusat rupanya menurun hingga ke daerah-daerah. Bahkan sebelumnya, KPK sebagai lembaga yang berkutat dengan perilaku pemberantasan korupsi telah memberikan peringatan dini berupa terbitnya &lt;a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=10437"&gt;18 Modus Korupsi di Daerah.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menguatnya akar perilaku korupsi pun kemudian secara tak langsung membawa dampak kejiwaan atau psikologis di dalam kehidupan sosial masyarakat. Perilaku korupsi kini dimaknai sebagai sesuatu yang lumrah, yang akhirnya mengerucut pada kata budaya. Apa makna fenomena ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama ini, kata budaya sering di-kambing hitam-kan. Apapun permasalahan yang tak kunjung menemukan jalan keluar, maka dengan enteng kita menganggapnya sebagai sebuah budaya, atau bahkan kebudayaan. Ini tentu sebuah pemikiran yang sangat salah. Bukankah budaya itu merupakan bentuk kebiasaan luhur yang tercipta atas pergaulan dinamis suatu kelompok masyarakat? Kata budaya tidaklah boleh diposisikan sebagai pembenar atas setiap perilaku salah yang tak sulit teratasi karena akan bermuara pada sikap acuh tak acuh masyarakat untuk memberantas atau meminimalisir perilaku salah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kebiasaan masyarakat dengan mengklaim tindakan atau perilaku korupsi sebagai sebuah budaya dalam negeri ini tentunya akan sangat menyulitkan proses pemberantasannya. Artinya, telah terbangun pemikiran masyarakat yang menganggap perilaku ini sebagai sesuatu yang sangat lumrah sehingga berpotensi besar menumbuhkan bibit-bibit perilaku korup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemahaman korupsi sebagai “budaya” ini harus diubah sehingga masyarakat memiliki keberanian untuk mengucapkan kata tidak untuk perilku tersebut!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5658565263651836787?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5658565263651836787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/korupsibudaya.html#comment-form' title='39 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5658565263651836787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5658565263651836787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/korupsibudaya.html' title='Korupsi = Budaya?'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>39</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4311305594407188677</id><published>2008-10-01T15:46:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:45:32.115+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pertentangan Batin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi tadi, aku melihat muda-mudi, tua muda, berbondong-bondong menuju rumah Tuhan dengan berbusana rapi, putih. Tak seluruhnya memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangkap religiusitas di sana. Suatu keadaan yang tak biasa. Entah. Aku hanya tersenyum menyaksikan mereka. Sungguh, aku terpesona dengan keagungan ini. Sebuah perayaan kemenangan yang konon menjadi pesta bagi siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara di sebelahku, seorang bocah dengan wajah kusut masih mengiba dengan menadahkan tangan. Tatapannya tajam mengisyaratkan akan sebuah kekuatan yang melemahkan. Mengisyarakatkan sebuah cinta sekaligus kebencian. Mengisyaratkan sebuah pengharapan sekaligus keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih memilih menatapnya. Memandangnya dengan tatapan nanar. Mencermatinya dengan seksama. Seperti menemukan hal asing. Padahal, ia memang telah ada dan tumbuh di sekitar kita. Bahkan, jauh sebelum aku mulai mengenal kehidupan ini untuk kali yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu! Di sudut ruang yang lain, samar-samar aku mendengar sebuah nyanyian. Alunan nada “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” yang dilantunkan Alm. Chrisye feat Ahmad Dhani, semakin melengkapi asa yang kurasakan. Sebuah kontradiksi antara senyum kemenangan dan wajah penuh iba bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pertanyaan mulai lahir dalam pikiranku. Surga dan neraka nampaknya sekarang telah menjadi acuan dan perjalanan akhir dari sebuah proses kehidupan. Tapi seandainya kondisi itu (aku lebih menganggap surga dan neraka sebagai sebuah kondisi, bukan tempat!) tidak pernah ada atau dirasakan, mungkinkah kita masih bersujud kepadaNya? Mungkinkah kita masih mau menyisihkan waktu sedikit untuk sekedar menoleh ke belakang, memahami perasaan bocah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, perasaanku kembali berkecamuk.. Tapi aku lebih memilih diam. Terlalu banyak orang yang tak beruntung di dunia ini, batinku seraya melangkah pergi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4311305594407188677?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4311305594407188677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/surga-dan-neraka.html#comment-form' title='51 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4311305594407188677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4311305594407188677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/10/surga-dan-neraka.html' title='Pertentangan Batin'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>51</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8070032306875190867</id><published>2008-09-29T23:58:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:46:02.291+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Tanpa Judul....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat malam, semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkan aku kembali pulang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;menghampiri setiap jejak di kota hitamku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8070032306875190867?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8070032306875190867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/09/tanpa-judul_7578.html#comment-form' title='29 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8070032306875190867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8070032306875190867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/09/tanpa-judul_7578.html' title='Tanpa Judul....'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-905990384426958559</id><published>2008-09-05T12:57:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:46:27.845+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Menyepi di Ruang Tunggu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bukanlah hidup yang kunikmati, hanya kematianlah yang ingin kurayakan. Mungkin, aku terlalu lama tenggelam dalam hingar bingar upacara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruangan, ijinkan aku untuk tak beranjak. Sesaat saja. Upacara ini terlalu bising bagiku, menyudutkanku dengan berbagai kenyataan. Mungkin aku memang belum siap melakoninya. Atau jangan-jangan, ini bukan duniaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin menyepi sejenak. Melepaskan diri dari berbagai prosesi upacara yang selama ini akrab kulakoni. Upacara itu memang tak pernah menuntutku. Tak pernah berharap lebih atas keberadaanku sebagai upakara pelengkap sebuah upacara di negeri yang entah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku kembali teringat pada sahabatku. Kasih, perhatian dan kesetiaannya telah mencabikku dengan berbagai kemelut di hatinya. Aku mencoba memahaminya. Mencoba merasakan apa yang dideritanya, hingga aku mengambil sebuah keputusan; menyepi di ruang tunggu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku tak ingin membuatnya sedih. Mungkin hari ini, ia telah kembali ceria dengan kehadiranku. Berbincang kembali hingga jauh malam seperti hari-hari sebelumnya. Sebelum pekat menyelimuti kotaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukanlah satu-satunya alasan keinginanku untuk menyepi. Belakangan ini, aku mulai galau pada setiap kicau burung yang selalu menghiasi tiap sudut peraduanku. Meski, kicau itu sangat merdu! Bahkan, selalu menuntunku kepada mereka yang selama ini menjadi teman sepiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah hidup yang kunikmati, hanya kematianlah yang ingin kurayakan. Maka, ijinkan aku menyepi di ruang tunggu ini. Sembari berharap, kicau burung itu akan tetap setia menyambutku. Membawaku menyatu kembali dalam upacara ini. Semoga….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-905990384426958559?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/905990384426958559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/09/menyepi-di-ruang-tunggu.html#comment-form' title='50 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/905990384426958559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/905990384426958559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/09/menyepi-di-ruang-tunggu.html' title='Menyepi di Ruang Tunggu'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>50</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8085985803102527747</id><published>2008-08-29T07:17:00.002+08:00</published><updated>2011-08-04T23:55:41.779+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pesan Cinta Kepada….</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya hanya ingin menjumpai anda, meski hanya melalui pesan singkat ini. Karena ada sesuatu yang sama sekali tak saya pahami. Apa yang tersisa hari ini? Di tiap pojok kota ini, seringkali saya bersua dengan kisah-kisah tentang kegetiran. Hati ini terlalu lemah mendengar rintihan itu. Suaranya! Ya, suara-suara itu bahkan jauh lebih dahsyat dari sekedar perayaan 17-an. Ataukah suara-suara itu justru menjelma bisik di telinga anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudahlah! Sepertinya negeri ini memang telah dibangun dengan kegetiran. Pondasinya demikian rapuh oleh berbagai berita kemalangan. Lihatlah bagaimana bangsa kita menjadi olok-olokan bangsa lain. Lihatlah bagaimana nasib semakin tak pasti. Lihatlah pula, cemara tampak lesu di tengah taman beton yang menghias negeri ini. Salahkah saya jika kembali ingin mempertanyakan, apakah suara-suara itu memang benar-benar menjelma bisik di telinga anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkanlah sesekali saya menjumpai anda. Menyapa anda melalui jerit tangis, rintihan anak-anak anda. Tahukah anda berapa banyak anak-anak yang telah membuat bangga bangsa ini? Begitu banyaknya, tapi &amp;nbsp;di rumah sendiri justru dicampakkan. Apakah anda telah lupa bahwa kamilah pemilik kedaulatan negeri ini? Bahwa kami adalah tuan di negeri ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bodohnya! Maafkan saya atas kelancangan ini. Saya tak hendak meragukan segala usaha anda untuk membangun peradaban bangsa ini. Tentu saja anda sudah banyak mendengar berbagai keluh anak-anakmu. Terlalu sering, bahkan. Hingga anda terlupa, masalah masih saja enggan beranjak. Mungkin, anda sendiri tak dapat tidur nyenyak di istana megah itu. Atau jangan-jangan, anda cemburu melihat kami yang terbiasa tidur pulas meski beratap langit duka yang masih menggelayut ramah di atas kepala kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8085985803102527747?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8085985803102527747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/pesan-cinta-kepada.html#comment-form' title='67 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8085985803102527747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8085985803102527747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/pesan-cinta-kepada.html' title='Pesan Cinta Kepada….'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>67</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-3213906984784473921</id><published>2008-08-26T22:31:00.002+08:00</published><updated>2010-01-16T15:27:57.202+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Dilema Tak Berkesudahan (Percakapan Imajiner dengan Tuhan)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bom masih saja membumihanguskan daratan Palestina. Sementara di Indonesia, permasalahan akut yang dihadapi masyarakat Sidoarjo terus merengsek menuntut penyelesaiannya. Para pejuang kemerdekaan seketika was-was karena akan kehilangan kenyamanan di rumah tuanya Belum lagi keberadaan oknum yang mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Ah, ini hanya segelintir peristiwa saja. Tuhan, kamu dimana? Tidakkah Kau pernah mencoba menghentikan tragedi kemanusiaan ini dengan kekuasaanMu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sebuah gubuk sederhana, aku berkesempatan bertemu Tuhan. Kami berbincang hingga larut malam. Membiarkan berbagai tragedi terus saja terjadi di depanNya, di belakangNya, bahkan di dalam diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Selama ini Engkau dimana? Tidakkah Kau tahu berapa banyak permasalahan yang terjadi belakangan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Persoalan terlampau banyak. Aku tak mampu menyelesaikannya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Ada apa ini? Apakah Engkau telah kehilangan semangatMu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bukan begitu. Aku selalu diburu waktu. Aku terlampau lelah untuk menyelesaikan semuanya. Bahkan, bom-bom itu begitu cepat menghunjam Palestina. Aku terlambat! Di saat yang bersamaan, seketika itu juga, timbul persoalan lain di belahan bumi lain bernama Sidoarjo. Lumpur terus saja menyembur. Menumpahkan lumpur panas yang mengubah dataran menjadi lautan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Hmmmm….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku begitu sibuk memberi jalan bagi pengungsi-pengungsi di Sidoarjo. Sampai-sampai, Aku tak punya waktu lagi ikut memantau situasi politik demokrasi di Indonesia menjelang Pemilu 2009 ini. Ah, Aku belum tahu apakah prosesnya telah berjalan lancar, dengan landasan demokrasi yang telah mereka sepakati atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Kenapa Engkau tak memantaunya sekarang? Bukankah Pemilu masih cukup jauh? Jadi, masih ada sisa waktu, bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sudahlah, biarkan saja! Aku merasa kekuasaan mereka (penguasa negeri) telah melebihi kekuasaanKu sendiri. Mereka tak pernah menggubrisku lagi. Jadi untuk apa Aku ke sana? Toh, semuanya akan tetap sama. Lebih baik Aku berada di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu? Beberapa hari ini Aku berada di Beijing, Cina. Menyaksikan para atlet bertanding dengan sportifnya. Ah, ternyata ganda putra Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan, meraih medali emas di Olimpiade itu. Tetapi di sana, Aku pun tak dapat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Lho kenapa? Tidakkah Engkau menikmati keberadaanMu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seharusnya! Tetapi masalah demi masalah di tiap belahan dunia ini terus saja membayang di pikiranKu. Aku kepikiran Pemilu di USA. Aku (masih) kepikiran perang di Palestina. Aku kepikiran anak-anakKu yang kelaparan di Ethiopia. Aku kepikiran anak-anak yang pura-pura membelaKu di Indonesia. Ah, situasi di dunia memang sedang panas. Bahkan melebihi global warming yang katanya menjadi ancaman utama anak-anakKu di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Kenapa Engkau menganggap anak-anak yang membelaMu di Indonesia itu hanya berpura-pura? Bukankah seharusnya Engkau senang bahwa masih ada yang ingat padaMu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hahahahahaaaaa.… Bagaimana Aku bisa senang? Aku suka mereka membelaKu. Aku senang mereka peduli kepada saudara-saudaranya di dunia yang (menurut mereka) tidak berada di jalanKu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Lantas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku hanya menyayangkan sikap mereka saja. Mereka selalu membawa-bawa namaKu agar keberadaannya diakui. Lihatlah sendiri, bagaimana mereka membawa-bawa pentungan untuk “mengingatkan” saudaranya sholat. Lihatlah, bagaimana mereka “meledakkan” Bali karena saudara-saudara jauhnya menggunakan pakaian setengah telanjang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah juga, bagaimana mereka menganggap bahwa membunuh pengikut aliran Ahmadiyah adalah halal. Aku tak habis pikir dengan kelakuan mereka. Apa yang telah meracuni hati anak-anakKu hingga mampu berbuat seperti itu. Sudahlah, biarkan saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa bersama. Sementara di Palestina, seorang Ibu masih tetap tetap waspada terhadap bisingnya suara senapan mesin, suara tangis mengenaskan anak-anak dan suara pawai panser yang siap menghancurkan rumahnya kapan saja. Masyarakat Sidoarjo masih dibuat kebingungan dengan fenomena yang terjadi di rumahnya. Kelompok yang mengatasnamakan Tuhan masih saja memburu saudara-saudaranya sendiri yang tak sepaham dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya bisa tertawa seraya menyaksikan berbagai tragedi yang datang silih berganti itu. Sebuah dilema tak berkesudahan yang terjadi di setiap belahan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Terinspirasi dari esay "&lt;a href="http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/06/ngomongin-tuhan.html"&gt;Ngomongin Tuhan&lt;/a&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-3213906984784473921?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/3213906984784473921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/dilema-tak-berkesudahan-percakapan.html#comment-form' title='60 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3213906984784473921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3213906984784473921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/dilema-tak-berkesudahan-percakapan.html' title='Dilema Tak Berkesudahan (Percakapan Imajiner dengan Tuhan)'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>60</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5068545534183231670</id><published>2008-08-23T13:41:00.002+08:00</published><updated>2009-09-24T17:47:49.778+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Kisah Tentang Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku adalah pejalan jauh. Menyusuri setiap rumah, melintas di antara perbatasannya. Berapa lama sudah aku mengembara di dunia yang teramat asing bagiku. Dibawa belaian angin yang menuntunku ke setiap rumah. Entah berapa rumah sudah yang aku singgahi, berharap menemukan kekasih yang setia menyambutku. Aku ingin menyusuri jejak-jejak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di setiap rumah yang kukunjungi, ada saja hal baru yang kutemukan. Ada keramahan, bahkan sikap acuh sekalipun. Ah, mungkin itu hanya pikiranku saja. Mungkin aku terlalu gampang menjatuhkan vonis. Sudahlah, aku tak ingin bertikai dengan pikiranku sendiri. Siapalah aku selain &lt;a href="http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/ketenangan-dan-kemenangan-yang-masih.html"&gt;sepenggal kata dalam semesta&lt;/a&gt; ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melanjutkan pengembaraanku. Tetapi perjalanan terlampau jauh. &lt;a href="http://wendra-wijaya.blogspot.com/"&gt;Rumahku&lt;/a&gt; sendiri hancur. Lenyap atas kecerobohanku sendiri. Ya, aku terlalu ambisius. Aku selalu bermimpi memiliki rumah seperti yang sering aku jumpai dalam pengembaraanku. Aku tersesat hingga lupa jalan pulang. Rumah itu telah usang, rusak! Dan aku menguburkannya di kedalaman hatiku, bersama alamat karib yang hingga kini masih terus kutelusuri….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlahan, aku kembali membangun rumahku. Kini aku membubuhi warna hitam di &lt;a href="http://sudut-mata.blogspot.com/"&gt;rumah baruku&lt;/a&gt;. Pekat, sekelam hatiku ketika mulai membangunnya kembali. Tapi ada satu yang tak berubah, aku tetap ingin menggelorakan semangatku. Ingin tetap memerdekakan pikiran, untuk kemudian kumuntahkan bersama segala beban yang selama ini mengganjal di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://sudut-mata.blogspot.com/"&gt;Rumah &lt;/a&gt;itu telah berdiri. Menyambut setiap karib yang masih iklas mengunjungiku. Menyuguhkan mereka dengan sisa-sisa semangat yang masih kumiliki. Ah, aku tak mau hanya berdiam diri saja. Aku harus kembali mengembara, menuju ke setiap rumah yang entah, di rumah yang entah dan negeri yang entah. Ke sebuah tempat yang masih asing bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ku susuri kembali jejak demi jejak itu. Ternyata alamat-alamat itu cukup mudah ku temukan. Dunia ini terlampau ramah untuk dikunjungi. Di setiap rumah, aku menemukan (kembali) beberapa alamat yang dulu terkubur di &lt;a href="http://wendrawijaya.blogspot.com/"&gt;rumah lamaku&lt;/a&gt;, juga alamat baru yang tentu akan kusinggahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari sekian banyak rumah yang kukunjungi, aku menemukan kehangatan di rumah milik seorang &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;perempuan yang khas dengan cerita-cerita senjanya&lt;/a&gt;. Ada keteduhan yang kurasakan di sana. Aku betah berlama-lama di sana. Cerita-ceritanya selalu menarik untuk dinikmati. Entah itu, tentang kerinduannya terhadap kehadiran senja, ataupun tentang kekesalannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ah Senja, engkau memang selalu hadir dengan keindahan senjamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;Senja&lt;/a&gt; pula, aku mulai menyusuri setiap rumah yang lain. Hingga akhirnya aku berlabuh ke sebuah rumah yang menjadi tempat belajarku. Rumah itu milik seseorang yang mengaku bernama &lt;a href="http://eosmate.blogspot.com/"&gt;Firdaus&lt;/a&gt;. Pengembaraan kulanjutkan hingga terdampar ke rumah &lt;a href="http://semarangreview.blogspot.com/"&gt;seseorang yang luar biasa&lt;/a&gt;. Kemampuannya dalam menyajikan setiap permasalahan sempat membuatku terpana. Siapakah dia hingga membuatku betah berlama-lama berada di rumahnya. Aku menemukan sensasi yang lain. Sesuatu yang entah. Tapi pastinya, aku menangkap sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak (belum) ketemui di rumah-rumah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi bagaimanapun, aku tak bisa berlama-lama di sana. Maka kuputuskan untuk kembali melangkah. Menyusuri jejak demi jejak yang entah akan membawaku kemana. Ah, di sebuah &lt;a href="http://www.shoutmix.com/"&gt;kotak pos&lt;/a&gt; (entah di rumah yang mana), aku membaca sepucuk pesan dari seseorang yang belakangan ini baru ku ketahui &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;memiliki banyak nama&lt;/a&gt;. Tak kuasa membendung penasaranku, aku melacak, menyusuri hingga kutemukan rumah itu. Ternyata rumah itu adalah adalah sebuah rumah yang sudah kukenal. Kediaman seorang perempuan. Rumah itu sangatlah ramai. Mungkin, rumah itu juga menjadi rumah bagi setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mulai betah bercengkrama dengan &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;pemilik rumah&lt;/a&gt;. Berkenalan dengan para penghuni lainnya, termasuk sebuah alamat yang sangat bersahaja. Sungguh, ia sangat ramah. Sangatlah pantas jika kemudian ia menyebut dirinya &lt;a href="http://www.andimujahidin.com/"&gt;abang&lt;/a&gt; bagi setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya. Tapi kini, entah karena apa, ia menghilang. Ah, mungkin ia sibuk….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alamat-alamat itu hanyalah sebagian kecil dari rumah-rumah yang pernah kukunjungi. Satu hal yang ku pahami, di setiap rumah, aku menemukan sesuatu baru. Aku mendapatkan pelajaran baru. Ilmu hidup; tentang cinta dan permasalahan-permasalahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah proses yang bernama kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Entah berapa lama sudah kutinggalkan &lt;a href="http://sudut-mata.blogspot.com/"&gt;rumahku&lt;/a&gt;. Aku ingin pulang. Tak seperti pengembaraan sebelumnya, aku telah meninggalkan jejak yang akan membawaku kembali pulang. Di &lt;a href="http://sudut-mata.blogspot.com/"&gt;rumah ini&lt;/a&gt;, aku sangat bahagia, dengan segala cinta yang kudapatkan dari teman-teman yang entah. Aku tidak begitu mengenal mereka. Aku tak begitu paham mereka. Yang aku tahu, sampai saat ini, ada dorongan erat yang selalu membawa kerinduanku untuk sesekali ke alamat-alamat yang menjadi persinggahanku. Aku akan tetap menjadi aku yang terus mengembara dan mencatat setiap kisah perjalananku ke setiap rumah yang menjadi cinta buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Aku hanya ingin kembali mengingat perjalanan di negeri bayang-bayang ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Maaf bagi alamat-alamat lain yang tak sempat kusebutkan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penting!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tulisan ini sudah kadaluwarsa setelah menggunakan template ini....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5068545534183231670?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5068545534183231670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/kisah-tentang-perjalanan.html#comment-form' title='62 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5068545534183231670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5068545534183231670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/kisah-tentang-perjalanan.html' title='Kisah Tentang Perjalanan'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>62</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-2066439528657549409</id><published>2008-08-22T16:05:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:48:08.499+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Pungli, Pungli, Pungli!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama terjadi. Tapi saya meyakini, sampai detik ini, perilaku pungli (pungutan liar) masih marak terjadi di lahan-lahan basah setiap wilayah. Pelabuhan Gilimanuk salah satunya. Gerbang barat Pulau Bali ini memang “dikenal” sebagai lahan pungli bagi oknum petugas pelabuhan, termasuk para Satpol PP pemeriksa tiket para penduduk yang akan masuk ke Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbicara pungli, saya kembali teringat sebuah film dokumenter “Bali yang Lain” yang disutradarai &lt;a href="http://dadapsblog.blogspot.com/"&gt;Dwitra J. Ariana alias Dadap&lt;/a&gt;. Dalam film berdurasi 55 menit tersebut, terlihat jelas perilaku pungli yang dilakukan oknum Satpol PP di lokasi pemeriksaan KTP. Peristiwa pungli di Pelabuhan Gilimanuk ini tentu hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang terjadi di seluruh Indonesia. Apa penyebab perilaku pungli tersebut hingga masih tetap berakar dan memberi warna dalam sejarah perjalanan peradaban bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, andil terbesar (bukan kesalahan) dalam perilaku pungli sebenarnya adalah masyarakat yang menjadi “korban” pungli itu sendiri. Kenapa? Kita harus jujur, kesadaraan masyarakat terhadap hukum yang ditetapkan masihlah rendah. Maka tak salah pula jika kemudian terlontar selentingan bahwa sejatinya hukum atau aturan itu dibuat hanya untuk dilanggar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna dari selentingan tersebut? Kita (termasuk saya) sebagai masyarakat memang belumlah iklas dalam menerima aturan tertulis meski telah dilandasi hukum yang kuat. Pungli merupakan salah satu “karya” manusia yang sangat sulit diberantas karena (mungkin) telah membudaya. Jadi dalam hal ini, siapa yang patut dipersalahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah dan benar tentunya menjadi sesuatu yang relatif. Ini sangat tergantung bagaimana sudut pandang kita dalam melihat sesuatu. Tapi bagi saya, kitalah yang salah, baik pelaku pungli maupun “korban” pungli itu sendiri. Karena disadari atau tidak, kitalah yang sesungguhnya membuka celah perilaku pungli itu sendiri. Sangat tidak bijak jika kita kemudian mencari-cari kesalahan orang lain apabila kita sendiri melakukan hal yang sama. Padahal sejatinya, kita memiliki kemampuan untuk menekan perilaku itu. Dalam hal ini, “korban” pungli sendiri harus memiliki keberanian lebih dalam menentang godaan untuk meluruskan perilaku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita memang harus mulai berusaha dan membiasakan diri untuk menumbuhkan keiklasan di dalam menerapkan hukum yang ada. Secara tak langsung, ini akan menutup kemungkinan perilaku pungli oleh oknum-oknum yang memiliki wewenang dan kekuasaan. Bukankah celah dan kesempatan itu yang menjadi penyebab utama timbulnya perilaku pungli di dalam bangunan peradaban bangsa ini? Sebisa mungkin, mari kita tutup celah itu dengan selalu menaati aturan yang ada! Dengan cara itu, lambat laun pungli dapat ditekan atau bahkan dihilangkan dalam kehidupan sosial masyarakat bangsa ini. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-2066439528657549409?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/2066439528657549409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/pungli-pungli-pungli.html#comment-form' title='40 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2066439528657549409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/2066439528657549409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/pungli-pungli-pungli.html' title='Pungli, Pungli, Pungli!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>40</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-1930527139396715636</id><published>2008-08-21T14:22:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:48:35.908+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ketenangan dan “Kemenangan” yang (Masih) Enggan Kurayakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku selalu ingin menuju rumah itu. Entah kenapa, ada sesuatu yang terus saja menggodaku untuk menapakkan kaki di istana agung, yang (konon) menawarkan sejuta kesejukan bagi setiap hati yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SK0K6VAFm3I/AAAAAAAAAWg/dIT-cYLuTG0/s1600-h/surga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SK0K6VAFm3I/AAAAAAAAAWg/dIT-cYLuTG0/s400/surga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236853938887957362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sungguh, aku sangat ingin berada di sana. Tapi jalan di depan terlampau sulit. Bukit-bukit berbatu yang hanya menyisakan jalanan setapak nan terjal ini meruntuhkan keangkuhanku. Adakah jalan lain yang lebih sederhana menuju rumah itu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Istana itu sangatlah sederhana. Tapi keagungannya mampu mengaburkan segala sudut pandang tentang definisi kesederhanaan. Ia telah menjadi tujuan akhir bagi setiap orang, juga bagiku. Sekali waktu, ijinkan aku berada di sana. Meneguk secangkir teh manis, bersama ibu yang telah menunggu di ambang pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin pulang. Sesekali saja, walaupun akhirnya aku akan kembali pergi dan melanjutkan sisa-sisa pengabdianku di rumah yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesungguhnya, aku telah lama mencari jalan kepulangan bagi setiap orang. Tapi semakin aku mencarinya, berusaha mendekatinya, saat itu pula ia kemudian menjauh. Begitulah seterusnya. Jalanan penuh darah dan nanah itu telah mempermainkanku dan menumbuhkan kesadaranku; janganlah kamu mencarinya. Biarkan jalan itu yang menghampirimu. Persiapkan jiwamu untuk menyambut jalan kepulanganmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemarin, jalan lapang itu (kembali) dibuka bagi setiap orang. Tapi nampaknya itu bukanlah untukku. Aku terlalu sibuk menjalani apa yang memang seharusnya kulakukan. Menjalankan hukuman sebagai seorang anak dari sosok mahluk yang lainnya. Aku merasa tak pantas ikut dalam upacara kemenangan itu. Aku enggan merayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena aku, hanyalah sepenggal kata dalam semesta. Hanya sepenggal saja! Aku terlampau kecil untuk  menyatu dalam upacara ini. Maka seperti bulan-bulan sebelumnya, aku kembali berdamai dengan diriku sendiri. Ya, aku memang lebih memilih berdamai dengan hatiku saja. Seraya berharap, kemenangan itu akan datang kembali, hanya untukku.  Sebuah kemenangan yang memang kuperjuangkan dengan pikiran, perkataan dan perbuatanku. Dengan kemenangan inilah, aku merasa cukup pantas kembali berada dalam rumah itu. Menyatu kembali denganNya di dalam rumah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Renungan Hari Raya Galungan,&lt;br /&gt;konon merupakan upacara kemenangan dharma melawan adharma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.lucoral.net/pearl.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-1930527139396715636?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/1930527139396715636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/ketenangan-dan-kemenangan-yang-masih.html#comment-form' title='35 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1930527139396715636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/1930527139396715636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/ketenangan-dan-kemenangan-yang-masih.html' title='Ketenangan dan “Kemenangan” yang (Masih) Enggan Kurayakan'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SK0K6VAFm3I/AAAAAAAAAWg/dIT-cYLuTG0/s72-c/surga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>35</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4241810586736373886</id><published>2008-08-20T14:47:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:48:59.727+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Award (Lagi) dan PR...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wah, saya dapat award dan PR nie.. Award “Sahabat Senja 2008” ini saya terima dari &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;perempuan yang khas dengan cerita-cerita senjanya&lt;/a&gt;..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKvAzH44xGI/AAAAAAAAAWI/j17iRIU1F2g/s1600-h/awardsenja.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKvAzH44xGI/AAAAAAAAAWI/j17iRIU1F2g/s400/awardsenja.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236490976271844450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dapat lagi dari &lt;a href="http://adindaandianas.blogspot.com/"&gt;Dinda&lt;/a&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKvBSxv4caI/AAAAAAAAAWQ/J3fVstu6WKM/s1600-h/premioarteypico.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKvBSxv4caI/AAAAAAAAAWQ/J3fVstu6WKM/s400/premioarteypico.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236491520084308386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk award dari &lt;a href="http://adindaandianas.blogspot.com/"&gt;Dinda&lt;/a&gt; ini ada aturannya:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anda harus memilih 5 orang blogger yang menurut penilaian Anda berhak mendapatkan award ini berdasarkan kreatifitas, desain, tulisan-tulisannya yang menarik, dan juga sumbangannya bagi komunitas blogger, tanpa dibatasi oleh bahasa yang mereka pergunakan pada blog-nya.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cantumkan nama-nama blogger yang diberikan award ini beserta link ke blog mereka.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penerima award harus mencantumkan nama dan link dari blogger yang memberikan award kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tolong cantumkan juga link ke the &lt;a href="http://http//arteypico.blogspot.com/2008/05/premio-arte-y-pico-para.html"&gt;“Arte Y Pico” blog&lt;/a&gt; sehingga dapat diketahui darimana asal mula award ini.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Award ini saya berikan untuk&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;Jovie&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://semarangreview.blogspot.com/"&gt;Kang Gus&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://andimujahidin.com/"&gt;Bang Andi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;4. &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;Senja&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://riasmaja.blogspot.com/"&gt;Riasmaja&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus dapat PR dari mbak &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;Jovie&lt;/a&gt; nih. Sorry mbak baru saya kerjain. Ini PR-nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Kamu ce apa co? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Cowok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Kamu abis ini mau kemana? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Gak ada kemana-mana, mau tidur nyenyak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Kamu suka makan spaghetti gak? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Kagak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Warna mousepad kamu apa? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Hitam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Apakah kamu orang yg pendendam? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Ah, tidak!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Kamu lagi pengen dicium? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Tergantung, kalo dicium aspal gak usah aja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Kamu pernah ngga makan nasi pake jeruk sama sambel? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Perasaan sih, gak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8. Kamu lagi pengen ngapain sekarang-sekarang ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Pengen tidur. Capek banget&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9. Apa kamu sedang mengharapkan sesuatu? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Hmm, pengen apa ya?? Entahlah..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;10. Kamu mau ngga kalau misalnya pacar kamu datang bawa bunga buat kamu? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Mau banget&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;11. Apa kamu lagi deket sama seseorang? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Pasti donkz…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;12. Apa yang akan kamu lakukan kalau misalnya kamu dapet uang 10 Milyar? E&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;ntahlah, malah bingung sendiri. Pake apa ya? Ada ide??&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13. Mau ga dpt uang segitu? Mau donkz.&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt; Masak ditolak??!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;14. Apa sifat buruk kamu? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Cepet bosen&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;15. Kamu berencana menikah dekat-dekat ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Kagak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;16. Kamu lagi benci sama siapa? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Gak ada tuh. Tapi saya lagi kesel sama berita buruk di koran dan televisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;17. Makanan terakhir yang kamu makan? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Makan angin.. dingin banget di jalan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;18. Jenis permen yang lagi kamu suka? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Kopiko&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;19. Keadaan hati/pikiran kamu detik ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Pusing bikin PR dari &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;mbak Jovie&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;20. Suka warna apa? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Hijau&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;21. Bunga yang paling indah menurut kamu? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Jepun/kamboja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;22. Pernah berantem sama sahabat sendiri? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Sering&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;23. Ngeliat mantan kamu jalan sama co/ce lain? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Hak dia-lah mau jalan ma sapa..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;24. Buah yang paling kamu suka? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Pisang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;25. Nyaman sama kehidupan kamu? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Sangat nyaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;26. Hal yang buat kamu lega detik ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Belum ada&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;27. Punya alamat MSN/YM? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Punya YM aja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;28. Teman dalam minggu-minggu ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Banyak sich.. diantaranya &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;Senja &lt;/a&gt;dan &lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;Jovie&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;29. Binatang yang paling kamu takuti? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Ular&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;30. Roti yang paling kamu suka? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Roti coklat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;31. Suka berdoa? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Jarang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;32. Teman lawan jenis kamu yang paling sering kamu ajak curhat? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Gadis kecil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;33. Keadaan keluarga kamu sekarang? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Sangat baik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;34. Kabar baik yang kamu terima hari ini? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Belum ada kabar baik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;35. Hari ini habis darimana aja? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Gak ada kemana-mana. Sibuk ngerjain PR ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;36. Lagi pengen makan apa? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Cepet-cepet nyelesein PR&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;37. Siapa orang yang kamu inginkan untuk menemani kamu sekarang? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Gadis kecil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;38. Orang yang paling kamu sayangin? &lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;Ibu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4241810586736373886?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4241810586736373886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/award-lagi-dan-pr.html#comment-form' title='28 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4241810586736373886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4241810586736373886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/award-lagi-dan-pr.html' title='Award (Lagi) dan PR...'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKvAzH44xGI/AAAAAAAAAWI/j17iRIU1F2g/s72-c/awardsenja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6946306098283643961</id><published>2008-08-19T08:39:00.000+08:00</published><updated>2008-08-19T08:52:31.499+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Golput Itu Keniscayaan Demokrasi!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwasannya negara telah menjamin kebebasan berpendapat bagi setiap warga negaranya. Ini berarti, apapun pilihan yang diambil masyarakatnya merupakan sebuah keniscayaan, sepanjang itu dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan di dalam kehidupan sosial masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img217.imageshack.us/img217/630/cartoon200002yp1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 259px;" src="http://img217.imageshack.us/img217/630/cartoon200002yp1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Demikian pula dalam pesta rakyat di dalam bangunan peradaban bangsa ini. Pilihan masyarakat untuk tidak memilih (golput) pun menjadi sebuah keniscayaan. Namun sayangnya, beberapa kalangan justru menilai pilihan itu merupakan sebuah “pilihan salah” seorang warga negara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya sendiri merasa penilaian itu sangatlah tidak wajar dan sungguh tidak beralasan dalam iklim demokrasi seperti saat ini. Bukankah kesejatian demokrasi itu adalah kebebasan mengeluarkan pendapat, termasuk dalam hal memilih kandidat? Jika kita sepakat dengan hal ini, kenapa masih saja ada anggapan anggapan miring atas keberadaan golput di dalam bangunan peradaban bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belakangan ini, golput memang telah menjadi “primadona” dalam setiap perhelatan pesta demokrasi dan politik di tanah air. Beberapa hal telah menjadi penyebab lahirnya pilihan masyarakat untuk tidak memilih tersebut. Tapi tentunya, keberadaan seorang calon pemimpinlah yang sesungguhnya mendominasi “upacara” ini. Artinya, kepercayaan masyarakat mulai memudar akibat minimnya kemampuan pemimpin untuk membawa perubahan bagi rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika dicermati, dapat dikatakan saat ini masyarakat sudah sangat lelah dengan kehidupannya sendiri. Hal ini berarti, tekanan-tekanan yang menghimpit kehidupan mereka telah menciptakan sebuah rasa tak percaya akan kehadiran calon pemimpin baru, yang tak jarang hanya menempatkan rakyat sebagai “alat” semata. Ini adalah realita yang tak dapat dinafikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berusaha memupuk kembali kepercayaan masyarakat tentunya menjadi sikap bijaksana yang harus ditempuh para calon pemimpin. Artinya, program-program yang dijanjikannya pada masa-masa kampanye haruslah sesuai dengan kemampuan masing-masing calon untuk menerjemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini diperlukan kejujuran diri untuk mengukur kemampuan dan intelektualitas mereka sebagai calon pemimpin. Karena disaat seorang pemimpin tidak dapat merealisasikan programnya sementara harapan masyarakat meningkat, saat itu pula citra pemimpin akan jatuh di mata masyarakat pemilihnya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto diambil dari&lt;a href="http://img217.imageshack.us/img217/630/cartoon200002yp1.jpg"&gt; sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6946306098283643961?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6946306098283643961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/golput-itu-keniscayaan-demokrasi.html#comment-form' title='55 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6946306098283643961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6946306098283643961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/golput-itu-keniscayaan-demokrasi.html' title='Golput Itu Keniscayaan Demokrasi!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>55</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8727782469930710152</id><published>2008-08-13T22:20:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:50:03.291+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Menjaga Eksistensi Dokar di Tengah Modernisasi Kota</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dokar sebagai salah satu alat transportasi darat, hingga kini tetap mengada. Bahkan di Jembrana, dokar telah menjadi semacam identitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berkeliling kota dengan menggunakan dokar menciptakan kenikmatan tersendiri bagi para penumpangnya. Klasik! Itulah kesan pertama yang dirasakan ketika pertama kali duduk di belakang kusir dokar yang melecuti kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKLuMztsSTI/AAAAAAAAAV4/HbdT2nThqHE/s1600-h/Dokar+jadul.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKLuMztsSTI/AAAAAAAAAV4/HbdT2nThqHE/s400/Dokar+jadul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234007620765632818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbicara mengenai dokar seolah menghempaskan kita ke kehidupan masa lampau. Sebuah kenangan ketika dokar masih menjadi alat transportasi utama di seluruh negeri ini. Bahkan di Kabupaten Jembrana, dokar telah menjadi semacam identitas yang melekat kuat. Dokar tetap melaju dengan sisa-sisa kejayaannya di tengah deru kendaraan bermotor di tengah-tengah Kota Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti laju kuda yang menarik dokarnya, demikian pula kehidupan yang dilakoni para kusir dokar. Kerja keras telah menjadi pondasi mereka dalam menantang dan menjalani kehidupan. Seperti laju kuda itu pula, mereka berpacu mengais rejeki, mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah sebagai “oleh-oleh” anak istri yang senantiasa menyambut mereka dengan kehangatan cinta sebuah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masa suram mulai menghantui kehidupan kusir dokar sejak tahun 1985. Angkutan kota dan ojek seolah “merampas” lahan hidup mereka. Mau tak mau, para kusir dokar harus tetap bertahan seraya mencari jalan keluar untuk menjaga keberadaan mereka di tengah gempuran jaman. Karena sedetik saja mereka berhenti, maka kekuatan kapitalisme akan melindas kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kehidupan memang senatiasa menyimpan misterinya sendiri. Begitu pula yang dialami para kusir dokar di Jembrana. Mereka seakan terombang-ambing di dalam ketidakpastian. Mereka hanya bisa pasrah dan iklas melakoni pekerjaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertaruhan hidup memang semakin menghantui para kusir dokar. Situasi ini dipahami betul oleh para kusir dokar. Karena lain pemimpin, lain pula kebijakannya. Apakah mereka (masih) tetap bisa melakoni “upacara” sebagai kusir dokar, ataukah harus menyerah pada genggaman tangan-tangan kapitalis di era modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bentuk-bentuk proteksi seperti pembuatan jalur khusus di kantong-kantong kesenian lokal sebagai jalur atau lintasan khusus dokar mungkin dapat menjadi bentuk proteksi yang cukup bijaksana. Tentunya, pemerintah harus berpartisipasi aktif menghidupkan kembali kesenian-kesenian lokal khas Jembrana yang saat ini seolah mati suri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidaklah salah jika kemudian pemerintah berkaca pada DI Yogjakarta. Di sana, keberadaan dokar juga menjadi salah satu identitas kota yang menyandang predikat sebagai Kota Pelajar. Pemerintah mengoptimalkan potensi dokar sebagai transportasi wisata, yang (sebagian besar) difokuskan di sepanjang Malioboro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menghidupkan kembali gairah “memiliki” dokar tentunya juga menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pemerintah harus mengawali kecintaan masyarakat terhadap alat transportasi tradisional ini melalui penggunaan dokar secara berkesinambungan. Karena sepakat atau tidak, kita harus jujur bahwa masyarakat bangsa ini sangatlah latah. “Kelemahan” ini dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi atau merubah pola pikir masyarakat terhadap segala sesuatu yang (dianggap) modern. Bentuk-bentuk proteksi memang harus segera dilakukan agar Kota Negara tidak kehilangan salah satu “identitasnya”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8727782469930710152?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8727782469930710152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/eksistensi-dokar-di-tengah-modernisasi.html#comment-form' title='42 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8727782469930710152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8727782469930710152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/eksistensi-dokar-di-tengah-modernisasi.html' title='Menjaga Eksistensi Dokar di Tengah Modernisasi Kota'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKLuMztsSTI/AAAAAAAAAV4/HbdT2nThqHE/s72-c/Dokar+jadul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>42</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5904958863790056467</id><published>2008-08-11T23:35:00.002+08:00</published><updated>2009-09-24T17:50:27.092+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Memahami (Lagi) Kasih Ibu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasih ibu kepada beta/ tak terhingga sepanjang masa// Hanya memberi/ tak harap kembali//Bagai sang surya menyinari dunia//&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKBdM05ByjI/AAAAAAAAAVo/cQr39FoiRGY/s1600-h/Ibu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKBdM05ByjI/AAAAAAAAAVo/cQr39FoiRGY/s400/Ibu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233285241942166066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Demikian sebait lagu dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan atas nama cinta, kasih dan sayang. Sebuah penghargaan atas keberadaan sosok yang bernama Ibu. Namun pasca kasus penjualan dan pembunuhan terhadap anak kandungnya sendiri seperti yang terjadi belakangan ini, masih pantaskah seorang Ibu disebut sebagai pahlawan bagi anak-anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimanapun juga, Ibu tetaplah seorang ibu. Apapun kesalahan dan perbuatannya, ini tak terbantahkan. Seorang Ibu merupakan wujud lain dari Tuhan yang turun sebagai “penyelamat” anak-anaknya. Saya sangat sepakat dengan hal ini. Karena sosok atau figur seorang Ibu merupakan sebuah perlambang tiga patah kata purba (cinta, kasih, sayang; meminjam istilah penyair Umbu Landu Paranggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara di sisi lain, miris juga menyaksikan realita yang terjadi belakangan ini. Seorang Ibu begitu tega memanfaatkan anaknya. Seorang ibu begitu tega menjual anak kandungnya. Bahkan seorang Ibu begitu tega membunuh anak kandungnya, meskipun ia akhirnya turut “mendampingi kepergian” anaknya menghadap Sang Khaliq!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah, selalu ada dua sisi yang bertentangan dalam dunia ini (agama Hindu menyebutnya dengan istilah rwa bhineda). Hal ini pula berlaku juga atas keberadaan sosok yang bernama Ibu. Kesakralan kata Ibu dalam konteks kekinian seolah tengah dipertaruhkan. Masih layakkah Ibu dikatakan wujud lain dari Tuhan sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Layak! Jawaban tegas ini pasti akan saya lontarkan bila ada seseorang yang menanyakan hal ini. Bagi saya, sosok Ibu adalah kemuliaan itu sendiri. Jika kemudian ada perilaku yang (konon) menyimpang, seperti membunuh anaknya sendiri, saya pribadi menganggapnya sebagai bentuk lain dari sebuah “penyelamatan” yang dilakukan untuk anak-anaknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apabila kemudian timbul lontaran sinis bahwa saya dapat berpendapat seperti itu karena tidak langsung mengalaminya, secara tegas pula akan saya jawab dengan sebuah proses hukum karma atau hukum sebab akibat. Saya percaya karma, seperti juga percaya akan reinkarnasi. Apapun yang dilakukan manusia dalam kehidupnya (baik di kehidupan sekarang maupun kehidupan yang lalu), pasti akan mendapat balasan setimpal sesuai dengan perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika demikian adanya, apa yang dapat dipersalahkan dari perilaku seorang Ibu? Jika saya sepakat bahwa Ibu merupakan perwujudan lain dari Tuhan sendiri, maka tidak ada alasan untuk “menggugat” sosok Ibu. Karena bagi saya, itu sama artinya dengan mempertanyakan (lagi) kebesaran Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.detroitartistsworkshop.org/Visual/HowardWStudio/HowardWStudioJPEG/MOTHER%20&amp;amp;%20CHILD-PRINT.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5904958863790056467?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5904958863790056467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/memahami-lagi-kasih-ibu.html#comment-form' title='40 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5904958863790056467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5904958863790056467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/memahami-lagi-kasih-ibu.html' title='Memahami (Lagi) Kasih Ibu'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SKBdM05ByjI/AAAAAAAAAVo/cQr39FoiRGY/s72-c/Ibu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>40</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5318109497999683556</id><published>2008-08-08T03:00:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:50:50.478+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Untuk Laurencia, kakakku....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i307.photobucket.com/albums/nn290/wendra_album/KartuUcapan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://i307.photobucket.com/albums/nn290/wendra_album/KartuUcapan.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini adalah sekian tahun yang lalu. Ini bukanlah tentang berbedanya kita. Tetapi, betapa besarnya persamaan yang ada, hari ini dan di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, ada beberapa perubahan dalam dirimu, &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;kakak&lt;/a&gt;. Usiamu, tubuhmu, hingga rambutmu yang terurai indah. Tapi ada satu hal yang selalu ingin kutanyakan; semangatmu! Masihkah seperti yang kemarin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari ini adalah sekian tahun yang lalu. Kembali ingin kupertanyakan, &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;kakak&lt;/a&gt;. Dimana lagi kau cari bahagia itu? Selain dalam hatimu dan Andrew, wujud cinta teragungmu. Janganlah sekali-sekali kau cari bahagiamu itu. Karena semuanya, telah nyata dihadapanmu. Di hadapan kita, di hadapan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jangan pernah merasa sendiri, &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;kakak&lt;/a&gt;. Dunia tak pernah meninggalkanmu….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5318109497999683556?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5318109497999683556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/untuk-laurencia-kakakku_06.html#comment-form' title='30 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5318109497999683556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5318109497999683556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/untuk-laurencia-kakakku_06.html' title='Untuk Laurencia, kakakku....'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8365075331110462124</id><published>2008-08-04T18:45:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:51:23.922+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Surat untuk Negeriku….</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lelaki itu melangkah. Pikirannya dibangun oleh kegetiran-kegetiran berbagai tragedi kemanusiaan. Ia terlalu biasa dengan mayat. Ia terlalu terbiasa dengan  kematian. Ia terlalu terbiasa dengan berbagai tragedi kemanusiaan yang menyayat guratan demi guratan nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJbuUY7F-rI/AAAAAAAAAVg/sIvYEGC2gYc/s1600-h/surat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJbuUY7F-rI/AAAAAAAAAVg/sIvYEGC2gYc/s400/surat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230630051292510898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lelaki itu melangkah. Tubuhnya dibentuk oleh deru peluru yang menyatu darah, mengalir di rongga-rongga nadinya. Bukan merah! Tetapi hitam, legam, atau bahkan merupa wajah-wajah lusuh yang tercipta atas rasa cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki itu tetap melangkah. Berusaha melawan semua kegetiran hidupnya. Mencoba menghempaskan penat dan ketidakadilan yang menimpanya. Ia (telah) dikalahkan berbagai dilema yang menyatu dalam tubuh Ibunya. Ia terasing, bahkan dari peluk Ibunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, lelaki itu telah kalah. Kekalahan yang teramat sangat. Bahkan mungkin, kekalahan pertama yang diterimanya setelah berpuluh-puluh tahun menegakkan kepala dalam kemenangan yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara disampingnya, desingan peluru masih saja menghujam Ibunya. Peluru itu bernama krisis ekonomi. Peluru itu bernama krisis pangan. Peluru itu bernama kemiskinan. Peluru itu bernama korupsi. Peluru itu bernama ketidakadilan. Peluru itu bernama tragedi. Peluru itu bernama….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki itu hanya bisa tersenyum kecut. Ia hanya mengelus dada melihat kelakuan saudara-saudaranya sendiri. Ia berpikir. Keningnya mengernyit. Ia menangis darah menyaksikan ibunya ditusuk permasalahan yang tiada berkesudahan. Oleh anak-anaknya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;63 tahun sudah Ibu, Engkau menanggung kegetiran atas perilaku anak-anakmu sendiri. 63 tahun sudah Ibu, tubuh tua-Mu hanya bisa menahan sakit atas berbagai kepedihan, tanpa mampu keluar dari lingkaran hitam yang menganga di pori-pori tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi Ibu, cobalah Engkau (tetap) tersenyum! Jagalah senyum itu untuk kami, anak cucu Ibu sendiri, meski hanya sekulum senyum kecut. Bagi kami, senyum itu bernama kekuatan. Bagi kami, Senyum itu bernama kebangkitan. Bagi kami, senyum itu bernama pengharapan. Harapan untuk tetap membuat-Mu mengada di dalam sebuah masa. Harapan untuk tetap mengadakan Ibu, yang bernama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Suatu ketika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8365075331110462124?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8365075331110462124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/surat-untuk-negeriku.html#comment-form' title='34 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8365075331110462124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8365075331110462124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/surat-untuk-negeriku.html' title='Surat untuk Negeriku….'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJbuUY7F-rI/AAAAAAAAAVg/sIvYEGC2gYc/s72-c/surat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>34</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5297155289557348133</id><published>2008-08-01T20:04:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:51:46.414+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Ryan; diantara Komunitas dan Kekuasaan Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasus penjagal dari Jombang, Very Idam Henyansyah (Ryan), seketika menjadi buah bibir di masyarakat. Spekulasi terus berkembang terutama ganjaran hukum yang akan diterimanya. Bahkan, timbul pula ketakutan dalam masyarakat terhadap kaum gay atas mengemukanya kasus Ryan. Lantas bagaimana kita memposisikan diri pasca kasus Ryan ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJMJ1VJf08I/AAAAAAAAAVY/eSw1JtAcoGo/s1600-h/murder.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJMJ1VJf08I/AAAAAAAAAVY/eSw1JtAcoGo/s400/murder.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229534404121973698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya tulisan ini adalah tanggapan saya atas artikel Kontroversial Ryan “Melambai” di blog &lt;a href="http://saiialahsaiia.blogspot.com/"&gt;*rha*&lt;/a&gt;. Bagi saya, ketakutan adalah sesuatu yang normal. Sangat manusiawi. Tetapi, kewaspadaan juga penting. Maka tidak sepatutnyalah ketakutan membatasi gerak kita dalam menjalani kehidupan. Biarkan semuanya berjalan, mengalir sebagaimana adanya. &lt;span class="fullpost"&gt;Ketika kita merasakan takut, itu artinya kita menyayangi diri sendiri. Itulah pentingnya sebuah insting yang melekat dalam diri kita untuk mempertahankan hidup ini, yang diterjemahkan melalui sikap waspada. Seperti yang sudah saya katakan, ketakutan (yang berlebihan) hanya akan membatasi gerak kita sehingga harus tetap dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam kasus Ryan dimana ia “tercatat” sebagai bagian dari kaum gay, bagi saya itu hanyalah sebuah kebetulan saja. Kebetulan karena ia adalah seorang gay! Saya berpikir, tidak seharusnya menjauhkan mereka dalam lingkungan sosial masyarakat kita. Justru, itu akan menjadi pemicu lahirnya Ryan-ryan yang baru. Bukankah keharmonisan merupakan modal awal untuk mencapai sebuah ketenangan? Jika kita tidak mampu menjaga rasa itu, dimana lagi kita mencari harmoni itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kaum gay sebagai minoritas adalah sekumpulan orang-orang yang (mungkin) disudutkan kenyataan. Dan saya yakin, mereka tidak ingin seperti itu. Saya cukup sepakat jika mencintai sesama jenis seperti yang dilakukan kaum gay dikatakan menyimpang dari ajaran agama. Menyimpang dari ajaran agama, tetapi bukan ajaran Tuhan! Karena sejujurnya, saya sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa seluruh ajaran yang tertuang dalam agama adalah titah Tuhan (mudah-mudahan saya salah!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang mari kita berpikir terbalik, bukankah segala sesuatu telah diatur Sang Khalik? Jika kita sepakat demikian, kenapa Tuhan membiarkan anak-anaknya berperilaku (yang menurut beberapa orang) menyimpang dari ajaran agama? Bukankah jika Ia menghendaki, kaum gay itu bisa saja kembali ke kodratnya sebagai lelaki? Pertanyaannya, manakah yang lebih anda percaya; Tuhan atau agama yang notabene buatan manusia (meskipun konon agama diturunkan oleh Tuhan sendiri)? Ini hanya pemikiran gila saya saja! Di sini, kita juga tidak bisa begitu saja menyamakan bahwa seluruh kaum gay itu adalah Ryan dan pasti akan berperilaku sama dengan Ryan! Ini harus tetap dibedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lantas hukuman apa yang pantas dijatuhkan untuk seorang Ryan? Jika kita berbicara hukum, saya tetap kokoh bahwa hukuman mati belum layak diterapkan di Indonesia yang menganut paham “ketimuran”. Hukuman seumur hidup saya rasa cukup pantas, tentunya tetap disertai dengan penyegaran-penyegaran jiwa Ryan yang (katanya) mengalami ketidakseimbangan jiwa atau gangguan psikologis. Saya sepakat jika membunuh, apapun alasannya, adalah sebuah perbuatan menyimpang dari ajaran-ajaran Tuhan. Tapi ini tidaklah serta merta boleh dijadikan alasan untuk mendahului kehendak Tuhan. Bukankah Ia memiliki cara sendiri untuk menghukum umat-Nya? Biarkanlah tangan Tuhan yang bekerja atas segala perilaku yang telah dilakukan Ryan! Saya hanya ingin berpikir sederhana saja….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5297155289557348133?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5297155289557348133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/ryan-diantara-komunitas-dan-kekuasaan.html#comment-form' title='46 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5297155289557348133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5297155289557348133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/08/ryan-diantara-komunitas-dan-kekuasaan.html' title='Ryan; diantara Komunitas dan Kekuasaan Tuhan'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJMJ1VJf08I/AAAAAAAAAVY/eSw1JtAcoGo/s72-c/murder.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>46</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-874993749744404859</id><published>2008-07-30T23:26:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:52:10.668+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Award Lagi...!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJCNQlcxf1I/AAAAAAAAAVQ/qpSer78B45E/s1600-h/award+lagi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJCNQlcxf1I/AAAAAAAAAVQ/qpSer78B45E/s400/award+lagi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228834483447365458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari “kakakku” &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;Laurencia&lt;/a&gt;. Trims ya mbak….&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rules:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Copy paste gambar di atas untuk diteruskan;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pilih beberapa orang yang hendak diteruskan; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berikan alasannya;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kirim pesan kepada "sang terpilih".&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Ini award kedua saya. Yang pertama, baru kemarin saya dapat, hehehe..... Bingung juga nie mau ngasi award ke siapa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jiwa: Gak usah bingung wen', kasi aja ke orang2 yang sering ngasi comment di postinganmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati: Siapa donkz???? Cukup banyak yang ngasi comment. Aku bingung..!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: Kalo masih bingung, pilih acak aja, gggrrrrrrr......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati: **#&amp;amp;$**#Hati: **#&amp;amp;$**#$&amp;amp;*?????!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa ya??? Udahlah, saya mau kasi award ini untuk 5 orang saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bloggeraddicter.blogspot.com/"&gt;Blogger Addicter&lt;/a&gt;; yang tetap menyempatkan diri ngeronda di sudut mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://goresangelly.blogspot.com/"&gt;Gelly&lt;/a&gt;; teman yang sempat menghilang dan baru hari ini muncul lagi, hahahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://masenchipz.com/"&gt;Mas Enchipz&lt;/a&gt;; blogger yang (menurutku) paling bersemangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kristinadiansafitry.blogspot.com/"&gt;Gadis Rantau&lt;/a&gt;; tetap semangat ya, mbak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://elmosphere.com/"&gt;Elmo&lt;/a&gt;; trims atas guyonannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jiwa: Trus yang lainnya gimana, Wen'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati: Katanya disuruh acak?? Gimana sich?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: **#&amp;amp;$**#$&amp;amp;*?????!!!!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-874993749744404859?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/874993749744404859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/award-lagi_30.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/874993749744404859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/874993749744404859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/award-lagi_30.html' title='Award Lagi...!!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SJCNQlcxf1I/AAAAAAAAAVQ/qpSer78B45E/s72-c/award+lagi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-865577690007474341</id><published>2008-07-30T12:52:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:52:38.823+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Dapat Award!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;What??!!!! Di sela-sela kesibukan ternyata saya dapat berkah; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt;AWARD&lt;/span&gt;!!! Hahahaha… Award pertama ini saya terima dari &lt;a href="http://adindaandianas.blogspot.com/"&gt;Dinda&lt;/a&gt;. Trims ya….&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SI_1toxROYI/AAAAAAAAAU4/vuGr74z6FhY/s1600-h/award.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SI_1toxROYI/AAAAAAAAAU4/vuGr74z6FhY/s400/award.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228667856787421570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0); font-weight: bold;"&gt;The rules are:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;1. Put the logo on your blog,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;2. Add a link to the person who awarded you,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;3. Nominate at least 7 other blogs,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;4. Add links to those blogs on yours,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;5. Leave a message for your nominees on their blogs,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;And this award goes to:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt; &lt;a href="http://nanoqdakansas.blogspot.com/"&gt;Nanoq da Kansas&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;guru, kakak, sahabat, sekaligus rival yang selalu iklas membimbingku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.most-crazy.co.cc/"&gt;Designer Gila (MC)&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;yang sangat berjasa pada layout sudut mata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;Cerita Senja&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;untuk semua persahabatannya (kita udah bersahabat belum ya??? hehehe…)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://arjunavalentino.blogspot.com/"&gt;Arjuna&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;adek kecil yang menyenangkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://ratubaris.blogspot.com/"&gt;Dede&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;trims untuk komentar membangunnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://dadapsblog.blogspot.com/"&gt;Dadap&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;aku suka dengan gagasan-gagasan nyelenehnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://jovieblog.blogspot.com/"&gt;Jovie&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;br /&gt;top commentator&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; sudut mata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terima kasih untuk semua dan………    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUNTAHKAN PIKIRANMU&lt;/span&gt;!!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-865577690007474341?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/865577690007474341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/dapat-award.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/865577690007474341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/865577690007474341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/dapat-award.html' title='Dapat Award!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SI_1toxROYI/AAAAAAAAAU4/vuGr74z6FhY/s72-c/award.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-5396988337473417349</id><published>2008-07-26T15:02:00.000+08:00</published><updated>2008-08-01T19:55:32.959+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Komersialisasi Pendidikan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia pendidikan tak ubahnya sebuah mata air kehidupan yang senantiasa harus dijaga dan terjaga kejernihannya. Komitmen ini tentunya harus tetap dipegang teguh seluruh warga negara, terutama para penyelenggara pendidikan itu sendiri, sebagai bentuk tanggung jawab moral mereka di dalam wilayah pencerdasan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIrNucGKYaI/AAAAAAAAAT8/MHr0gjV398w/s1600-h/SISWA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIrNucGKYaI/AAAAAAAAAT8/MHr0gjV398w/s400/SISWA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227216515216597410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi sayangnya, komitmen ini tidaklah pernah berjalan sesuai kesejatiannya. Potret buram dunia pendidikan di Indonesia masih saja tetap membayangi tahap demi tahap perjalanannya. Ironisnya, wilayah ini sering pula dijadikan “lahan basah” oleh para oknum untuk kepentingan pribadinya. Hal ini pun telah merasuk ke dalam tubuh dan sistem pendidikan itu sendiri. Ya, kini dunia pendidikan memang telah dikomersialkan. Ini adalah sebuah realita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Komersialisasi ini pun telah berdampak pada tingginya biaya pendidikan. Secara gamblang, masyarakat “disuguhi sesuatu” yang (seolah-olah) mengamini kondisi tersebut. Contoh sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan betapa banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan tahun ajaran sebelumnya tidak lagi dapat digunakan di tahun ajaran berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Siswa dipaksa menggunakan buku pelajaran baru sebagai pengganti buku lama yang konon “tidak layak” dipakai acuan lagi, dengan harga yang relatif tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya sama persis, tanpa ada “ilmu” baru yang dicantumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Permasalahan dunia pendidikan tentunya tidak hanya sebatas buku-buku pelajaran saja. Masih banyak pula bentuk-bentuk komersialisasi tak jelas, seperti pungutan-pungutan “sukarela”, namun dengan jumlah minimal yang telah ditentukan masing-masing lembaga pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sisi lain, pengelolaan dunia pendidikan kita juga masih  menggunakan konsep liberal. Artinya, konsep dunia pendidikan ini lebih mengutamakan kompetisi daripada persamaan hak untuk memperoleh pendidikan. Jika tetap mengedepankan pola ini, bagaimana nasib siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu? Begitu mudahkah sistem merampas hak-hak mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kondisi dunia pendidikan seperti sekarang ini semestinya tak perlu terjadi apabila dikelola secara iklas. Pemerintah harus lebih mengedepankan konsep Pancasilais dengan mengutamakan persamaan hak secara berkeadilan. Konsep ini berarti seluruh masyarakat memiliki hak yang sama di dalam menempuh pendidikan, tanpa ada batasan si kaya dan si miskin. Bukankah pendidikan merupakan hak dasar masyarakat yang telah dijamin UUD 1945? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, kita hanya bisa menunggu waktu hingga kesadaran dan keiklasan pemerintah dan oknum yang "bermain" itu tumbuh untuk menjaga kejernihan sumber mata air ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-5396988337473417349?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/5396988337473417349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/komersialisasi-pendidikan-di-indonesia.html#comment-form' title='38 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5396988337473417349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/5396988337473417349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/komersialisasi-pendidikan-di-indonesia.html' title='Komersialisasi Pendidikan di Indonesia'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIrNucGKYaI/AAAAAAAAAT8/MHr0gjV398w/s72-c/SISWA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6425747515410325867</id><published>2008-07-24T17:04:00.000+08:00</published><updated>2008-08-01T19:56:06.920+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media'/><title type='text'>Pers dan Demokrasi (Pemilu)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai media informasi komunikasi, pers memegang peran penting dalam proses demokratisasi di dalam bangunan peradaban sebuah bangsa. Tak terkecuali para insan pers di Indonesia. Bagaimanakah semestinya pers memposisikan dirinya, terutama di masa-masa perhelatan pesta demokrasi (Pemilu atau Pilkada) di sebuah wilayah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIhHSFuLXOI/AAAAAAAAAT0/2LPPD7hNEzI/s1600-h/pers.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIhHSFuLXOI/AAAAAAAAAT0/2LPPD7hNEzI/s400/pers.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226505743662537954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, utamanya pasca reformasi tahun 1998, negara memang telah memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada pers. Lebih spesifik lagi, jaminan kebebasan untuk mengemukakan pendapat. Tidak lagi seperti pra reformasi, pers pun semakin menunjukkan perannya dalam pembangunan demokrasi bangsa ini. Lebih bebas! Tapi sayangnya, beberapa pers justru terkesan memanfaatkan kondisi ini demi kepentingan komersial! Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepakat atau tidak, kita harus jujur bahwa tidak seluruh pers di Indonesia mampu memposisikan dirinya sebagai pilar keempat demokrasi. Bahkan saat ini, pers pun telah dikatakan sebagai sebuah industri. Artinya, sesuatu yang telah dinamai industri tentulah berkaitan langsung dengan angka-angka finansial yang akan dihasilkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memang tak dapat dinafikan, tanpa uang, sebuah media tidak akan bisa “hidup” dan bertahan lama. Namun setidaknya, kondisi seperti itu tidak serta merta harus menjadi dasar pijak berubahnya arah perjuangan pers. Mereka harus tetap menjadi batu karang untuk menciptakan suasana yang lebih demokratis dalam bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti yang terjadi di Bali. Salah satu perusahaan media besar terkesan lebih memilih bergerak di bidang industri daripada mendedikasikan dirinya pada pembangunan demokrasi. Tak ayal, setiap harinya tak satupun “berita baik” yang mereka angkat. Kalaupun ada “berita baik” (contohnya berita yang mengangkat tentang kebijakan pemerintah), itu pastilah advetorial (berita iklan alias bayar). Mungkin saja, mereka masih mengagungkan jargon lama; BAD NEWS IS A GOOD NEWS. Padahal kenyataannya, untuk saat ini, jargon itu telah mentah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepak terjang media kembali riuh pada saat menjelang perhelatan pesta demokrasi. Meski terlihat samar, rupanya insan pers turut memainkan perannya untuk memenangkan salah satu calon pemimpin. Nah disinilah kemudian permasalahannya. Jika media terlibat dan turut menjadi "bagian" tim pemenangan kandidat, salahkah jika ada pendapat yang menyatakan bahwa pers kini tidak lagi berada pada posisi poros tengah? Salahkah jika kemudian ada yang menyebutkan bahwa pers tidak lagi layak menjadi pilar demokrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan yang paling disayangkan, pers kita seolah-olah kehilangan idelisme perjuangannya. Ya, ini memang sebuah realita!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6425747515410325867?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6425747515410325867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/pers-dan-demokrasi-pemilu.html#comment-form' title='20 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6425747515410325867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6425747515410325867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/pers-dan-demokrasi-pemilu.html' title='Pers dan Demokrasi (Pemilu)'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIhHSFuLXOI/AAAAAAAAAT0/2LPPD7hNEzI/s72-c/pers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6006822691494974778</id><published>2008-07-23T00:20:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:53:09.395+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Ketika “Musim” Eksekusi Mati Tiba</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://danielpinem.wordpress.com/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIYNubIKcHI/AAAAAAAAATs/sPfejPqmC9I/s400/hukuman+mati.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225879508817178738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelumnya saya mau minta maaf sekaligus terima kasih kepada &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;Laurencia&lt;/a&gt;. Tulisan ini merupakan diskusi singkat saya dengannya. Sorry mbak....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, istilah eksekusi mati tiba-tiba menjadi populer. Bahkan saking populernya, istilah ini melebihi Pemilu 2009 ataupun korupsi. Ya, bangsa ini mungkin tengah terlena dengan istilah itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal penerapannya, istilah eksekusi mati tentu saja cukup membuat gempar masyarakat negeri ini. Masa sih bangsa Indonesia yang menganut “paham ketimuran” mampu melaksanakan hukuman itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi sekarang hukuman atau eksekusi mati itu memang benar-benar diterapkan. Bahkan, kita sudah latah mengucapkan istilah itu. Untuk di Indonesia, saya melihat hukuman mati belum layak diterapkan. Karena apa? Penyebab dari segala perilaku "korban" hukuman mati ini adalah orang-orang yang tertekan dan dipaksa oleh keadaan. Di satu sisi, kita memang sedih melihat perilaku tidak manusiawi yang dilakukan si terhukum. Tapi di sisi lain, justru hukuman yang dijatuhkan penegak hukum kepada si terhukum ini juga merupakan perilaku yang tidak manusiawi. Sama saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah. Selalu ada dua sisi yang bertentangan di dalam suatu peristiwa. Untuk di Indonesia, "korban" hukuman mati merupakan masyarakat kecil yang berusaha melawan segala tekanan, baik tekanan hidup (Sumiarsih dan Sugeng) maupun jiwanya (Amrozy cs). Dengan kata lain, mereka adalah perpanjangan tangan dari pihak-pihak yang menciptakan tekanan itu. Kalau memang bangsa ini mau jujur dan ingin menerapkan hukuman mati secara adil, tentunya "korban" tidak hanya sebatas Sumiarsih, Sugeng dan Amrozy Cs, tetapi juga para penguasa negeri ini (koruptor) dan gembong teroris di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Intinya, jika ingin menerapkan hukuman mati itu, bangsa ini juga harus melihat sisi keadilannya, bukan hanya menggunakan logika hukum saja! Tapi tetap saja, ini tidak akan menyelesaikan masalah. Bangsa ini memang harus memperbaiki dan membangun kembali mental anak bangsanya. Karena saya yakin, hukuman mati pun tidak akan membuat jera orang-orang yang merasa tertekan dan tertindas oleh keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teman saya &lt;a href="http://laurenciasdiary.blogspot.com/"&gt;Laurencia&lt;/a&gt; juga mengaku tidak sreg dengan penerapan hukuman mati itu. Karena menurutnya, kehidupan itu adalah milik Tuhan, bukan manusia! Jadi sebagai manusia, tidak selayaknya kita mengambil sesuatu yang bukan haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memang betul, beberapa perbuatan mereka itu keterlaluan, bahkan biadab. Tapi kalau kita juga melakukan hal yang sama, lalu apa bedanya kita dengan mereka, walaupun itu dilakukan dengan alasan yang “agak” berbeda. Mereka (si terhukum) membunuh karena alasan ekonomi atau lainnya. Korban-korbannya pun tidak bersalah. Mereka pun akhirnya dieksekusi mati karena perbuatannya sendiri. Untuk di Indonesia, seharusnya penerapan hukum hanya sampai pada hukuman seumur hidup saja. Toh dengan jalan ini, mereka telah diamankan dari berbagai kemungkinan untuk berbuat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, apa pendapat anda?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6006822691494974778?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6006822691494974778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/ketika-musim-eksekusi-mati-tiba.html#comment-form' title='30 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6006822691494974778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6006822691494974778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/ketika-musim-eksekusi-mati-tiba.html' title='Ketika “Musim” Eksekusi Mati Tiba'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIYNubIKcHI/AAAAAAAAATs/sPfejPqmC9I/s72-c/hukuman+mati.gif' height='72' width='72'/><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7506313722485036556</id><published>2008-07-20T17:07:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:53:30.786+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Aku “Benci” Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanah ini tak subur lagi. Ia ditikam berbagai permasalahan dan “keangkuhan” masa lalunya. Air ini tak menyejukkan lagi. Ia menjelma tangis ditengah badai yang menyayatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIMBgV-PXxI/AAAAAAAAATc/OnewIkgNVfI/s1600-h/Aku+Benci+Indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIMBgV-PXxI/AAAAAAAAATc/OnewIkgNVfI/s400/Aku+Benci+Indonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225021647845547794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku “benci” Indonesia. Setiap detik, selalu saja terdengar jeritan anak bangsanya. Menjadi bagian peradaban bangsa ini, tak ubahnya hidup dengan berbagai harapan. Harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera secara berkeadilan, yang kemudian (mungkin), menjelma mimpi-mimpi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku “benci” Indonesia. Aku “benci” dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk yang setiap saat terjadi. Sejarah telah mencatat berbagai tragedi yang menimpa bangsa ini. Ironisnya, itu dilakukan anak bangsanya sendiri! Belum lagi selesai satu permasalahan, muncul lagi permasalahan lainnya. Bahkan yang lebih parah, sebuah permasalahan terkesan memang sengaja diciptakan untuk menutupi permasalahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku “benci” Indonesia. Bahkan saking besarnya rasa “benci”-ku ini, rasa itu berubah menjadi rasa sayang. Rasa sayang yang teramat sangat! Aku selalu bermimpi. sejarah tak lagi mencatat perjalanan bangsa ini dengan catatan-catatan kelamnya. Aku menginginkan, Indonesia mampu menjadi sebuah negara yang benar-benar berdaulat dan mampu membawa kesejahteraan masyarakatnya secara berkeadilan. Tapi tentunya, tetap mengutamakan prinsip persamaan hak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku menginginkan, bangsa lain menghormati bangsa kita karena derajat dan martabatnya. Aku menginginkan bangsa lain menghormati dan memberi “penghargaan” terhadap bangsa kita atas perilaku mulia anak bangsanya. Aku ingin Indonesia menjadi bangsa yang rendah hati, tapi tetap bermartabat dan menjaga jati dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata di balik kebecianku, aku memiliki rasa sayang yang teramat besar kepada bangsa Indonesia. Aku akan tetap setia dan menjadi bagian bangsa ini untuk mewujudkan segala impian, yang mungkin saja, juga menjadi impian seluruh anak negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, ternyata dibalik ke-”benci”-anku, aku sangat mencintai bangsa ini; INDONESIA….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7506313722485036556?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7506313722485036556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/aku-benci-indonesia_20.html#comment-form' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7506313722485036556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7506313722485036556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/aku-benci-indonesia_20.html' title='Aku “Benci” Indonesia'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SIMBgV-PXxI/AAAAAAAAATc/OnewIkgNVfI/s72-c/Aku+Benci+Indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4685014390404621164</id><published>2008-07-16T18:12:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:54:09.418+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Apakah Kita Seorang Nasionalis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;….//Di sana tempat lahir beta//Dibuai dibesarkan bunda//&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Tempat berlindung di hari tua//Sampai akhir menutup mata//&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SH3K_YTkVaI/AAAAAAAAAS4/23TCK2ysCD4/s1600-h/Nasionalis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SH3K_YTkVaI/AAAAAAAAAS4/23TCK2ysCD4/s400/Nasionalis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223554333024736674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Entah kenapa tiba-tiba saja saya teringat lagu ini. Sebuah lagu nasional yang sering saya nyanyikan waktu kecil dulu. Ada cinta, kekuatan, sekaligus rasa kebangsaan yang begitu besar, yang tiba-tiba saja saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang teman pernah mengatakan, cara paling gampang untuk menumbuhkan rasa nasionalisme kita adalah dengan menyanyikan lagu-lagu nasional. Kala itu, saya sama sekali tidak percaya. Masak sich…???!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah. Hari demi hari saya tidak pernah sepakat akan pendapat itu. Tapi sekarang, saya justru “menemukan” kekuatan di balik lagu ini. Saya juga gak tahu pasti apa penyebabnya. Yang saya tahu, ketika menyanyikan lagu ini, saya merasakan sesak yang amat sangat. Sebuah rasa yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Rasa itu kemudian diikuti dengan  perasaan dan semangat menggebu-gebu; INDONESIA!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai sekarang, rasa itu masih ada dan terus tumbuh. Apakah perasaan seperti itu dapat dikatakan sebagai awal tumbuhnya rasa nasionalisme? Saya pun tak tahu. Apakah ada yang tahu bagaimana ciri seorang nasionalis? Apakah hanya orang-orang yang secara kasat mata membela negara saja yang bisa disebut sebagai nasionalis? Entahlah. Tapi yang pasti, saya hanya ingin menjadi seorang nasionalis dengan cara sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4685014390404621164?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4685014390404621164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/apakah-kita-seorang-nasionalis.html#comment-form' title='23 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4685014390404621164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4685014390404621164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/apakah-kita-seorang-nasionalis.html' title='Apakah Kita Seorang Nasionalis?'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SH3K_YTkVaI/AAAAAAAAAS4/23TCK2ysCD4/s72-c/Nasionalis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-7036606612551097619</id><published>2008-07-07T09:24:00.000+08:00</published><updated>2008-08-01T19:59:21.882+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Nurani Atau Kepentingan???</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bali semakin panas! Seperti lazimnya yang terjadi di Indonesia, kondisi sosial masyarakat Bali ”menegang” menjelang pesta demokrasi dan politik (baca: Pilkada). Masa-masa kampanye telah dilalui. Masyarakat disuguhi berbagai janji dan program-program muluk untuk memajukan Bali, yang entah akan ditepati atau tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SHFxWOlLbAI/AAAAAAAAASE/1yAGxxHqTdw/s1600-h/kepentingan+ato+nurani.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SHFxWOlLbAI/AAAAAAAAASE/1yAGxxHqTdw/s400/kepentingan+ato+nurani.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220078069784210434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbagai aktor politik memainkan perannya. Mempengaruhi massa hingga menyudutkan kandidat, telah menjadi sesuatu yang wajar. Masyarakat diberikan ”pendidikan penting”, bagaimana cara-cara mempengaruhi serta membujuk seseorang untuk masuk dan mengikuti keinginan politik calon atau partai politik tertentu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saling mempengaruhi ataupun keinginan orang bergabung setelah mendapat pengaruh, tentulah menjadi masalah atau hak personal masing-masing. Tapi entah kenapa, saya selalu ingin tahu bagaimana cara membedakan kalau masyarakat memang benar-benar menuruti hati nuraninya, atau karena terkena pengaruh tim sukses dalam memilih seorang kandidat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi beberapa orang, pertanyaan ini tentu tidaklah begitu penting. Bahkan, mungkin saja pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan lawas yang tidak akan mendapat jawabannya. Tapi bagi saya, masalah ini tak sesederhana itu. Pemimpin yang dipilih masyarakat karena adanya pengaruh atau ajakan seseorang (tim sukses kandidat), bagi saya adalah sebuah langkah awal menuju kehancuran yang lebih besar (mudah-mudahan saya salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai hari ini, saya masih memimpikan sebuah proses demokrasi yang dilakukan dengan cara-cara yang ”jujur”. Saya sangat merindukan sosok pemimpin yang memang murni merupakan pilihan masyarakat Bali. Saya merindukan sosok pemimpin yang lahir dari sebuah proses panjang dalam masyarakat untuk membawa Bali ke arah yang lebih baik. Ya, saya merindukan itu.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-7036606612551097619?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/7036606612551097619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/nurani-atau-kepentingan.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7036606612551097619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/7036606612551097619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/nurani-atau-kepentingan.html' title='Nurani Atau Kepentingan???'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SHFxWOlLbAI/AAAAAAAAASE/1yAGxxHqTdw/s72-c/kepentingan+ato+nurani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-3627421132841538045</id><published>2008-07-04T01:11:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:54:40.072+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Media'/><title type='text'>Masih Layakkah Pembredelan Terhadap Media?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;~ pandangan awam tentang kasus "pemberedelan" Jimbarwana TV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh! Itulah kata pertama yang terlintas di pikiranku. Mungkin juga, kata itu menjadi kata pertama bagi semua orang. Ternyata dalam sebuah negara yang telah menjamin kebebasan pers, masih saja ada pemberedelan terhadap media!&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219020532071198354" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SG2vhbmS7pI/AAAAAAAAAR8/JGxfu7I7X-g/s400/posting+media.jpg" border="0" /&gt;Seperti yang terjadi di sebuah kota kecil bernama Jembrana-Bali, pemberedelan ini sedang berlangsung. Jimbarwana TV sebagai media pemerintah menjadi sasaran oknum yang mengatasnamakan hukum untuk memberangus keberadaannya. Ah, Bali memang sedang panas menjelang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 9 Juli 2008 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi sebagian besar masyarakat, termasuk saya sendiri, penghentian paksa siaran Jimbarwana TV ini tak lebih dari kepentingan politis menjelang Pilkada. Adalah Bupati Jembrana, Prof. I Gede Winasa, menjadi salah satu calon kuat dalam Pilkada Bali ini. Melihat berbagai realita yang menimpanya (sebelum “pemberedelan” itu terjadi), tampaknya Winasa telah dijadikan “musuh bersama”, terutama oleh calon dari mantan “tuan rumahnya”. Alasannya? Winasa lebih memilih mencalonkan diri melalui partai lain daripada hanya mendekam di dalam kandang tanpa bisa berbuat apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi beberapa orang (terutama kader fanatik partai), perilaku “kutu loncat” itu tentunya tidak dapat dimaafkan. Tapi di sisi lain, justru sikap politik yang diambilnya mendapat apresiasi yang luar biasa. Langkah Winasa dinilai sebagai sikap seorang negarawan, bukan elit politik partai tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Posisi Winasa sebagai “musuh bersama” pun berimbas pada segala hal yang berhubungan dengannya. Dan yang teranyar, tentunya pemberangusan terhadap media Pemkab Jembrana, Jimbarwana TV, yang selama ini cukup gencar mempublikasikan langkah dan kerja Winasa untuk memajukan Jembrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah! Kekesalan dan berbagai tanda tanya memang sedang melayang-layang di dalam pikiran banyak orang, terutama masyarakat Jembrana. Apanyakah yang salah sehingga Jimbarwana TV menjadi korban? Kenapa televisi lokal lainnya masih diberi kesempatan untuk tetap siaran meski letak kesalahannya sama? Dimanakah letak keadilan di negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masih pantaskah pemberedelan ini diteruskan? Haruskah sebuah pesta demokrasi mengorbankan hidup puluhan karyawan yang bernaung di bawahnya? Atau jangan-jangan, saya memang tengah hidup dalam sebuah massa dimana arogansi kekuasaan kembali menunjukkan taringnya? Entahlah! Sampai saat ini pun, pertanyaan-pertanyaan ini masih menjejali pikiran saya. Entah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-weight: bold; font-style: italic; text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Sebuah celotehan ngelantur.....&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan ini&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;adalah pemikiran yang salah!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-3627421132841538045?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/3627421132841538045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/masih-layakkah-pemberedelan-terhadap.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3627421132841538045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/3627421132841538045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/07/masih-layakkah-pemberedelan-terhadap.html' title='Masih Layakkah Pembredelan Terhadap Media?'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SG2vhbmS7pI/AAAAAAAAAR8/JGxfu7I7X-g/s72-c/posting+media.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-952111749297314223</id><published>2008-06-27T17:36:00.001+08:00</published><updated>2009-02-17T12:45:28.614+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourism'/><title type='text'>Bali Dalam Pigura</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sebagai salah satu kawasan wisata yang paling diminati dunia, Bali yang mulanya hidup berbasiskan pertanian mulai beralih ke industri pariwisiata, dengan “jualan” produk kesenian dan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS07qOynNI/AAAAAAAAAOc/-gey_9usO8U/s1600-h/PULAU+BALI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216493205443484882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: pointer; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS07qOynNI/AAAAAAAAAOc/-gey_9usO8U/s400/PULAU+BALI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbicara tentang industri, maka kita akan terperangkap dengan angka-angka finansial yang dapat dihasilkannya. Inilah yang harus disadari. Selama ini, industri pariwisata di Bali dipandang sebagai mesin penghasil devisa bagi negara. Ironisnya lagi, masyarakat dibuat beranggapan bahwa industri pariwisata yang dijalankan merupakan ”dewa penolong” atas segala keterpurukan yang menimpa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal sejatinya, dengan mengedepankan konsep pariwisata budaya, keberadaan pariwisata bagi Bali bukankah semata-mata berurusan dengan berapa banyak devisa yang dihasilkannya. Tetapi, lebih pada menjaga bangunan peradaban dan budaya Bali itu sendiri. Toh realitanya, industri pariwisata Bali belumlah juga mampu menciptakan kesejahteraan yang merata bagi masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Miris rasanya melihat kenyataan-kenyataan getir seperti itu. Sekarang, begitu mudahnya kita menemukan seni budaya Bali dijadikan sebagai ”sajian penyambut” wisatawan. Dan ironisnya, sebagian besar seniman kita rupanya rela dan mengikhlaskan dirinya untuk diangkut dengan truk ketika akan pentas di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika kita mau kembali ke masa lalu, bukankah para wisatawan yang berburu seni dan budaya itu? Bukan justru sebaliknya, kita yang menjajakannya untuk mereka yang berpotensi menghapus nilai-nilai kebudayaan itu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inilah yang harus dijaga. Kesenian dan kebudayaan bukanlah suatu komoditi yang dapat ”diperjual-belikan” kepada wisatawan. Kalau tidak, keberadaan Bali sebagai pesona pariwisata budaya dunia akan tinggal kenangan. Atau juga, Bali hanya akan berakhir pada sebuah pigura yang menyisakan kenangan-kenangan manis (atau getir?) atas pesona seni dan budayanya sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-952111749297314223?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/952111749297314223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/bali-dalam-pigura_27.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/952111749297314223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/952111749297314223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/bali-dalam-pigura_27.html' title='Bali Dalam Pigura'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS07qOynNI/AAAAAAAAAOc/-gey_9usO8U/s72-c/PULAU+BALI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-8505130946597257223</id><published>2008-06-27T17:29:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:55:12.302+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Indonesia, Bukan Negara Islam!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS2PecMPMI/AAAAAAAAAOk/2ahyiSO61cM/s1600-h/bendera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS2PecMPMI/AAAAAAAAAOk/2ahyiSO61cM/s200/bendera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216494645387476162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ribut lagi, ribut lagi! Kayaknya bangsa ini gak ada capek-capeknya. Belum lagi selesai satu masalah (baca: kenaikan BBM), bentrok sesama muslim kembali terjadi. Monumen Nasional (Monas) menjadi saksi retaknya harmoni bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kapan sih Indonesia bisa tenteram dan damai? Apakah bangsa ini memang sengaja ”diciptakan” hanya untuk menyaksikan kegetiran demi kegetiran yang dilakukan rakyatnya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BBM naik, barang ikut naik. FPI bentrok dengan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Hmmmm.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepengetahuan saya (maaf kalau salah, tolong dikoreksi), bentrokan-bentrokan yang mengemuka di dalam bangunan peradaban bangsa ini selalu menempatkan umat Muslim sebagai tokoh utamanya. Insiden Monas 1 Juni silam itu salah satunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sangat ironis jika membayangkan bentrokan sesama Muslim ini menjadi titik awal retaknya persatuan dan kesatuan bangsa ini. Sekecil apapun, potensi itu tetap ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka kemudian yang menjadi pertanyaan terbesar saya adalah, apakah bangsa ini memang sedang mengarah dan menjadi Negara Islam? Jika memang itu yang terjadi, untuk apa negara menjamin kebebasan beragama? Mudah-mudahan itu hanyalah sebuah pemikiran yang salah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin perlu ditegaskan kembali, bangsa ini terdiri dari beberapa agama. Bukan hanya Islam, walaupun Indonesia memang didominasi oleh umat Muslim! Dan ada baiknya pula, ketika mengambil suatu tindakan —apalagi yang bersentuhan dengan perilaku anarkis— mereka harus memandangnya sebagai sebuah persoalan bangsa yang lebih luas dan lebih mengedepankan nilai-nilai moral sebagai bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi dan keberagaman. Kita, rakyat Indonesia perlulah lebih ikhlas memandang sebuah permasalahan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba-tiba saja saya kembali teringat pada sebaris kalimat pamflet yang (bagi saya) dapat menjadi pondasi kita dalam memandang setiap permasalahan secara lebih bijaksana: Karena kita sudah sepakat berdemokrasi, maka sesungguhnya kita pun tak bermasalah dengan perbedaan. Ah, ternyata kita memang belum siap menerima keberagaman dan perbedaan sebagai sebuah kenicayaan di negeri ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Sebuah ocehan ngelantur atas Insiden Monas, 1 Juni 2008.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, otak dan tangan saya ikut bertikai saat membuat celotehan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-8505130946597257223?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/8505130946597257223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/indonesia-bukan-negara-islam.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8505130946597257223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/8505130946597257223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/indonesia-bukan-negara-islam.html' title='Indonesia, Bukan Negara Islam!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGS2PecMPMI/AAAAAAAAAOk/2ahyiSO61cM/s72-c/bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-6520717267002293995</id><published>2008-06-27T17:19:00.001+08:00</published><updated>2009-09-24T17:55:52.019+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum'/><title type='text'>Stop Anarkisme!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gak cukupkah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyak nyawa yang hilang dan terbuang percuma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berapa lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyak korban berceceran darah tak berdosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Putihmu yang suci jangan ternoda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merahmu yang berani diterpa hujan badai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Bendera Setengah Tiang — Slank)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Romantisme akan kedamaian dan ketenteraman di masa lalu, untuk saat ini, sangatlah sulit didapatkan. Berbagai persoalan silih berganti mengiringi perjalanan peradaban bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika kita mau berpikir secara jernih, kekhawatiran demi kekhawatiran akan nasib bangsa ini sudah pula diteriakkan oleh masyarakatnya. Tak terkecuali oleh Slank. Lewat lagu ”Bendera Setengah Tiang”, kelompok musik Indonesia papan atas itu berusaha menyadarkan masyarakat bangsa ini akan kealpaan terhadap nasib dan arah bangunan peradaban bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sini, saya tidak hendak menyanjung dan mengagungkan Slank berikut lagu Bendera Setengah Tiang-nya. Tapi, saya hanya ingin mengajak anda dan kita semua kembali bercermin atas perilaku kita sebagai rakyat bangsa ini. Makna apa yang bisa kita dapatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bercermin dari realita yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, rupanya perilaku rakyat, terutama yang mengatasnakan rakyat (atau agama?) demi kepentingan pribadi atau kelompok, sangatlah berpengaruh besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Entah itu berdampak buruk ataupun baik. Tapi sayangnya, sebagian besar perilaku ini telah berdampak buruk, terutama yang perilaku yang disertai aksi anarkisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sungguh sangat tragis! Indonesia yang memegang teguh hukum rupanya belumlah mampu mengatur perilaku masyarakatnya sendiri. Oknum masyarakat cenderung memilih aksi anarkis untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk menuntut perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kondisi ini tentunya sangat riskan terjadi di Indonesia. Disadari atau tidak, masyarakat bangsa ini sesungguhnya sangatlah mudah terprovokasi. Dan rupanya, ruang inilah yang sangat mudah dipolitisasi oleh kelompok-kelompok tertentu, yang berlindung di balik nama rakyat ataupun agama untuk memenuhi ambisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inilah gambaran bangsa kita saat ini. Bangsa yang kita harapkan dapat memberi kedamaian bagi rakyatnya rupanya digagalkan atau dipolitisi oleh masyarakatnya sendiri, dalam hal ini oknum yang berkepentingan. Tapi kondisi ini janganlah membuat kita menjadi lengah. Justru cobaan demi cobaan yang menerpa Indonesia harus dijadikan tonggak baru untuk lebih mempererat hubungan psikologis kita sebagai bagian bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jangan sampai bumi kembali menjadi saksi bisu dan menerima darah putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Maka marilah kita berpikir dan merenungkan kembali, apa yang telah dan akan kita perbuat untuk menjaga kibaran Sang Saka Merah Putih di atas bumi pertiwi ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Terinsipirasi dari &lt;a href="http://sekelebatsenja.blogspot.com/"&gt;cerita senja&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-6520717267002293995?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/6520717267002293995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/stop-anarkisme.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6520717267002293995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/6520717267002293995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/stop-anarkisme.html' title='Stop Anarkisme!'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1820258935300230562.post-4696826550469565047</id><published>2008-06-27T17:08:00.000+08:00</published><updated>2008-08-01T20:01:26.080+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Dimana Agama (Tuhan) Kita?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwasannya agama diciptakan untuk mengatur perilaku manusia sehingga menciptakan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam (dalam Hindu disebut sebagai Tri Hita Karana). Tapi jika kemudian terjadi bentrokan fisik antar massa yang mengatasnamakan agama, lantas dimanakah kesejatian agama kita?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGSvRA29-ZI/AAAAAAAAAOM/nR4X72SGdbM/s1600-h/bayi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGSvRA29-ZI/AAAAAAAAAOM/nR4X72SGdbM/s400/bayi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216486975225067922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Potret buram ini (masih) jelas terbayang di benak kita. Tak jarang pemeluk suatu agama terlibat bentrok fisik dengan pemeluk agama lainnya. Inilah adalah sebuah ironi di negeri ini. Kita yang telah sepakat menempatkan agama sebagai jalan keluar atas segala permasalahan duniawi seorang manusia ternyata dijadikan tameng untuk kepentingan pribadi atau golongan-golongan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Atau dengan kata lain, ada orang atau sekelompok orang yang dengan sengaja (atau tidak sengaja?) berlindung di balik nama besar agama dan ajaran-ajaran Tuhan untuk melakukan tindakan yang justru tidak sesuai atau menyimpang dari kesejatian ajaran agama itu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai contoh, kita boleh berkaca pada tragedi Bom Bali 1 yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat Bali. Yang lebih miris, pelaku (Amrozy, cs) justru mengklaim bahwa tindakannya itu sesuai dengan ajaran agama. Ia berdalih bahwa sedang melaksanakan jihad  untuk meluruskan perilaku-perilaku manusia yang telah menyimpang dari ajaran Islam yang dianutnya. Pekik Allahu Akbar pun selalu diteriakkannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Atau juga, peristiwa aktual yang terjadi diantara sesama kaum muslim. Aliran Amadiyah dianggap sebagai sebuah aliran sesat yang harus ”diberantas”. Maka, sesama umat muslim pun berbenturan, yang disertai pembakaran tempat ibadah sekelompok orang menganut aliran Amadiyah. Bahkan ironisnya, terlontar pernyataan bahwa membunuh orang yang menganut aliran tersebut dibenarkan oleh agama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara sederhana, tentunya kita digiring pada sebuah pertanyaan; dimanakah letak kesalahan aliran tersebut sehingga tidak diijinkan keberadaannya? Apakah sedemikian sesatnya aliran ini hingga membunuh pengikutnya bukanlah perbuatan yang berdosa? Atau, bukankah perilaku oknum-oknum yang telah melakukan pembakaran rumah Tuhan tersebut dapat digolongkan sebagai perilaku sesat seorang hamba Tuhan? Dan jika demikian keadaannya, dimanakah kesejatian agama kita? Apakah agama yang ada sekarang masih relevan digunakan setelah direcoki pandangan oknum-oknum yang mengatasnamakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi yang jelas, atas berbagai realita yang terjadi dalam kehidupan kekinian, saya menjadi ”takut” beragama! Cukuplah saya hanya memeluk agama cinta seraya berkeyakinan bahwa Tuhan itu memang ada. Dan saya yakin pula bahwa Tuhan tidak perlu dibela karena Ia telah memiliki caraNya sendiri untuk mengadili umatnya yang telah menyimpang dari perintahNya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti yang dituliskan teman saya, &lt;a href="http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/06/ngomongin-tuhan.html"&gt;Nanoq da Kansas&lt;/a&gt;, dalam esay &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngomongin Tuhan&lt;/span&gt;; "Saya dan Tuhan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; pernah saling ketemu. Tapi yang pasti, kami sama-sama saling sayang. Maka seringkali kami sama-sama diam sambil mengurus diri sendiri". Ya, Tuhan tidak perlu dibela. Dan kita, tidak perlu pura-pura sayang kepadaNya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1820258935300230562-4696826550469565047?l=sudut-mata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sudut-mata.blogspot.com/feeds/4696826550469565047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/dimana-agama-tuhan-kita.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4696826550469565047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1820258935300230562/posts/default/4696826550469565047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sudut-mata.blogspot.com/2008/06/dimana-agama-tuhan-kita.html' title='Dimana Agama (Tuhan) Kita?'/><author><name>wendra wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00242277739092799498</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SrtUEqu61tI/AAAAAAAAAlM/krhwA23HMgQ/S220/Profil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VrH4xvcHSjo/SGSvRA29-ZI/AAAAAAAAAOM/nR4X72SGdbM/s72-c/bayi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
