Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan

Bayang-Bayang

DALAM malam, aku memandangmu. Dari kejauhan. Sama sepertimu. Hanya saja, kita sama-sama berdiam. Membiarkan gerak angin mendekap namaku, namamu. Melambungkan, menghempasnya sekaligus. Seperti lenguh yang kau ciptakan di akhir percakapan. Lalu sunyi, kembali bekerja. Dalam hatimu, hati kita.


Kau masih saja bungkam. Mengunci bahasa-bahasa yang kian memberontak, yang lahir dari tubuhmu. Mengurungnya dalam sekat tak bernama.

Aku ingin mengenangmu. Menyusuri jejakmu pada lintasan berdebu, pohon-pohon tua, trotoar-trotoar, dan riuh pedagang di emper-emper pertokoan. Ketika itu, hari-hari masih bernama, meski tetap bersetia dengan rahasia.

Kisah kita adalah malam: gelap yang tertikam dalam-dalam kesunyian. Sunyi yang melahirkan suara-suara di kedalaman.

Seperti suaramu, membawaku melebur dalam tubuhmu, lalu menjelma bayang. Berlalu, dan pergi.
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Tanpa Judul....

Selamat malam, semesta

Ijinkan aku kembali pulang,

menghampiri setiap jejak di kota hitamku....
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Menyepi di Ruang Tunggu

Bukanlah hidup yang kunikmati, hanya kematianlah yang ingin kurayakan. Mungkin, aku terlalu lama tenggelam dalam hingar bingar upacara ini.

Di sudut ruangan, ijinkan aku untuk tak beranjak. Sesaat saja. Upacara ini terlalu bising bagiku, menyudutkanku dengan berbagai kenyataan. Mungkin aku memang belum siap melakoninya. Atau jangan-jangan, ini bukan duniaku?

Aku ingin menyepi sejenak. Melepaskan diri dari berbagai prosesi upacara yang selama ini akrab kulakoni. Upacara itu memang tak pernah menuntutku. Tak pernah berharap lebih atas keberadaanku sebagai upakara pelengkap sebuah upacara di negeri yang entah ini.

Ah, aku kembali teringat pada sahabatku. Kasih, perhatian dan kesetiaannya telah mencabikku dengan berbagai kemelut di hatinya. Aku mencoba memahaminya. Mencoba merasakan apa yang dideritanya, hingga aku mengambil sebuah keputusan; menyepi di ruang tunggu!

Sungguh, aku tak ingin membuatnya sedih. Mungkin hari ini, ia telah kembali ceria dengan kehadiranku. Berbincang kembali hingga jauh malam seperti hari-hari sebelumnya. Sebelum pekat menyelimuti kotaku!

Tapi ini bukanlah satu-satunya alasan keinginanku untuk menyepi. Belakangan ini, aku mulai galau pada setiap kicau burung yang selalu menghiasi tiap sudut peraduanku. Meski, kicau itu sangat merdu! Bahkan, selalu menuntunku kepada mereka yang selama ini menjadi teman sepiku.

Bukanlah hidup yang kunikmati, hanya kematianlah yang ingin kurayakan. Maka, ijinkan aku menyepi di ruang tunggu ini. Sembari berharap, kicau burung itu akan tetap setia menyambutku. Membawaku menyatu kembali dalam upacara ini. Semoga….
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Kisah Tentang Perjalanan

Aku adalah pejalan jauh. Menyusuri setiap rumah, melintas di antara perbatasannya. Berapa lama sudah aku mengembara di dunia yang teramat asing bagiku. Dibawa belaian angin yang menuntunku ke setiap rumah. Entah berapa rumah sudah yang aku singgahi, berharap menemukan kekasih yang setia menyambutku. Aku ingin menyusuri jejak-jejak itu.

Di setiap rumah yang kukunjungi, ada saja hal baru yang kutemukan. Ada keramahan, bahkan sikap acuh sekalipun. Ah, mungkin itu hanya pikiranku saja. Mungkin aku terlalu gampang menjatuhkan vonis. Sudahlah, aku tak ingin bertikai dengan pikiranku sendiri. Siapalah aku selain sepenggal kata dalam semesta ini?

Aku melanjutkan pengembaraanku. Tetapi perjalanan terlampau jauh. Rumahku sendiri hancur. Lenyap atas kecerobohanku sendiri. Ya, aku terlalu ambisius. Aku selalu bermimpi memiliki rumah seperti yang sering aku jumpai dalam pengembaraanku. Aku tersesat hingga lupa jalan pulang. Rumah itu telah usang, rusak! Dan aku menguburkannya di kedalaman hatiku, bersama alamat karib yang hingga kini masih terus kutelusuri….

*****

Perlahan, aku kembali membangun rumahku. Kini aku membubuhi warna hitam di rumah baruku. Pekat, sekelam hatiku ketika mulai membangunnya kembali. Tapi ada satu yang tak berubah, aku tetap ingin menggelorakan semangatku. Ingin tetap memerdekakan pikiran, untuk kemudian kumuntahkan bersama segala beban yang selama ini mengganjal di hatiku.

Rumah itu telah berdiri. Menyambut setiap karib yang masih iklas mengunjungiku. Menyuguhkan mereka dengan sisa-sisa semangat yang masih kumiliki. Ah, aku tak mau hanya berdiam diri saja. Aku harus kembali mengembara, menuju ke setiap rumah yang entah, di rumah yang entah dan negeri yang entah. Ke sebuah tempat yang masih asing bagiku.

Ku susuri kembali jejak demi jejak itu. Ternyata alamat-alamat itu cukup mudah ku temukan. Dunia ini terlampau ramah untuk dikunjungi. Di setiap rumah, aku menemukan (kembali) beberapa alamat yang dulu terkubur di rumah lamaku, juga alamat baru yang tentu akan kusinggahi.

Dari sekian banyak rumah yang kukunjungi, aku menemukan kehangatan di rumah milik seorang perempuan yang khas dengan cerita-cerita senjanya. Ada keteduhan yang kurasakan di sana. Aku betah berlama-lama di sana. Cerita-ceritanya selalu menarik untuk dinikmati. Entah itu, tentang kerinduannya terhadap kehadiran senja, ataupun tentang kekesalannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ah Senja, engkau memang selalu hadir dengan keindahan senjamu.

Dari Senja pula, aku mulai menyusuri setiap rumah yang lain. Hingga akhirnya aku berlabuh ke sebuah rumah yang menjadi tempat belajarku. Rumah itu milik seseorang yang mengaku bernama Firdaus. Pengembaraan kulanjutkan hingga terdampar ke rumah seseorang yang luar biasa. Kemampuannya dalam menyajikan setiap permasalahan sempat membuatku terpana. Siapakah dia hingga membuatku betah berlama-lama berada di rumahnya. Aku menemukan sensasi yang lain. Sesuatu yang entah. Tapi pastinya, aku menangkap sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak (belum) ketemui di rumah-rumah lainnya.

Tapi bagaimanapun, aku tak bisa berlama-lama di sana. Maka kuputuskan untuk kembali melangkah. Menyusuri jejak demi jejak yang entah akan membawaku kemana. Ah, di sebuah kotak pos (entah di rumah yang mana), aku membaca sepucuk pesan dari seseorang yang belakangan ini baru ku ketahui memiliki banyak nama. Tak kuasa membendung penasaranku, aku melacak, menyusuri hingga kutemukan rumah itu. Ternyata rumah itu adalah adalah sebuah rumah yang sudah kukenal. Kediaman seorang perempuan. Rumah itu sangatlah ramai. Mungkin, rumah itu juga menjadi rumah bagi setiap orang.

Aku mulai betah bercengkrama dengan pemilik rumah. Berkenalan dengan para penghuni lainnya, termasuk sebuah alamat yang sangat bersahaja. Sungguh, ia sangat ramah. Sangatlah pantas jika kemudian ia menyebut dirinya abang bagi setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya. Tapi kini, entah karena apa, ia menghilang. Ah, mungkin ia sibuk….

Alamat-alamat itu hanyalah sebagian kecil dari rumah-rumah yang pernah kukunjungi. Satu hal yang ku pahami, di setiap rumah, aku menemukan sesuatu baru. Aku mendapatkan pelajaran baru. Ilmu hidup; tentang cinta dan permasalahan-permasalahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah proses yang bernama kehidupan

*****

Entah berapa lama sudah kutinggalkan rumahku. Aku ingin pulang. Tak seperti pengembaraan sebelumnya, aku telah meninggalkan jejak yang akan membawaku kembali pulang. Di rumah ini, aku sangat bahagia, dengan segala cinta yang kudapatkan dari teman-teman yang entah. Aku tidak begitu mengenal mereka. Aku tak begitu paham mereka. Yang aku tahu, sampai saat ini, ada dorongan erat yang selalu membawa kerinduanku untuk sesekali ke alamat-alamat yang menjadi persinggahanku. Aku akan tetap menjadi aku yang terus mengembara dan mencatat setiap kisah perjalananku ke setiap rumah yang menjadi cinta buatku.

Aku hanya ingin kembali mengingat perjalanan di negeri bayang-bayang ini.
Maaf bagi alamat-alamat lain yang tak sempat kusebutkan

Penting!!!
Tulisan ini sudah kadaluwarsa setelah menggunakan template ini....
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Award (Lagi) dan PR...

Wah, saya dapat award dan PR nie.. Award “Sahabat Senja 2008” ini saya terima dari perempuan yang khas dengan cerita-cerita senjanya..


Kemudian dapat lagi dari Dinda..

Untuk award dari Dinda ini ada aturannya:

1. Anda harus memilih 5 orang blogger yang menurut penilaian Anda berhak mendapatkan award ini berdasarkan kreatifitas, desain, tulisan-tulisannya yang menarik, dan juga sumbangannya bagi komunitas blogger, tanpa dibatasi oleh bahasa yang mereka pergunakan pada blog-nya.


2. Cantumkan nama-nama blogger yang diberikan award ini beserta link ke blog mereka.


3. Penerima award harus mencantumkan nama dan link dari blogger yang memberikan award kepada mereka.


4. Tolong cantumkan juga link ke the “Arte Y Pico” blog sehingga dapat diketahui darimana asal mula award ini.


Award ini saya berikan untuk
1. Jovie
2. Kang Gus
3. Bang Andi
4. Senja
5. Riasmaja


Trus dapat PR dari mbak Jovie nih. Sorry mbak baru saya kerjain. Ini PR-nya:

1. Kamu ce apa co? Cowok
2. Kamu abis ini mau kemana? Gak ada kemana-mana, mau tidur nyenyak
3. Kamu suka makan spaghetti gak? Kagak
4. Warna mousepad kamu apa? Hitam
5. Apakah kamu orang yg pendendam? Ah, tidak!
6. Kamu lagi pengen dicium? Tergantung, kalo dicium aspal gak usah aja
7. Kamu pernah ngga makan nasi pake jeruk sama sambel? Perasaan sih, gak
8. Kamu lagi pengen ngapain sekarang-sekarang ini? Pengen tidur. Capek banget
9. Apa kamu sedang mengharapkan sesuatu? Hmm, pengen apa ya?? Entahlah..
10. Kamu mau ngga kalau misalnya pacar kamu datang bawa bunga buat kamu? Mau banget
11. Apa kamu lagi deket sama seseorang? Pasti donkz…
12. Apa yang akan kamu lakukan kalau misalnya kamu dapet uang 10 Milyar? Entahlah, malah bingung sendiri. Pake apa ya? Ada ide??
13. Mau ga dpt uang segitu? Mau donkz. Masak ditolak??!
14. Apa sifat buruk kamu? Cepet bosen
15. Kamu berencana menikah dekat-dekat ini? Kagak
16. Kamu lagi benci sama siapa? Gak ada tuh. Tapi saya lagi kesel sama berita buruk di koran dan televisi
17. Makanan terakhir yang kamu makan? Makan angin.. dingin banget di jalan
18. Jenis permen yang lagi kamu suka? Kopiko
19. Keadaan hati/pikiran kamu detik ini? Pusing bikin PR dari mbak Jovie
20. Suka warna apa? Hijau
21. Bunga yang paling indah menurut kamu? Jepun/kamboja
22. Pernah berantem sama sahabat sendiri? Sering
23. Ngeliat mantan kamu jalan sama co/ce lain? Hak dia-lah mau jalan ma sapa..
24. Buah yang paling kamu suka? Pisang
25. Nyaman sama kehidupan kamu? Sangat nyaman
26. Hal yang buat kamu lega detik ini? Belum ada
27. Punya alamat MSN/YM? Punya YM aja
28. Teman dalam minggu-minggu ini? Banyak sich.. diantaranya Senja dan Jovie
29. Binatang yang paling kamu takuti? Ular
30. Roti yang paling kamu suka? Roti coklat
31. Suka berdoa? Jarang
32. Teman lawan jenis kamu yang paling sering kamu ajak curhat? Gadis kecil
33. Keadaan keluarga kamu sekarang? Sangat baik
34. Kabar baik yang kamu terima hari ini? Belum ada kabar baik
35. Hari ini habis darimana aja? Gak ada kemana-mana. Sibuk ngerjain PR ini
36. Lagi pengen makan apa? Cepet-cepet nyelesein PR
37. Siapa orang yang kamu inginkan untuk menemani kamu sekarang? Gadis kecil
38. Orang yang paling kamu sayangin? Ibu
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Untuk Laurencia, kakakku....


Hari ini adalah sekian tahun yang lalu. Ini bukanlah tentang berbedanya kita. Tetapi, betapa besarnya persamaan yang ada, hari ini dan di masa mendatang.

Sekarang, ada beberapa perubahan dalam dirimu, kakak. Usiamu, tubuhmu, hingga rambutmu yang terurai indah. Tapi ada satu hal yang selalu ingin kutanyakan; semangatmu! Masihkah seperti yang kemarin?

Hari ini adalah sekian tahun yang lalu. Kembali ingin kupertanyakan, kakak. Dimana lagi kau cari bahagia itu? Selain dalam hatimu dan Andrew, wujud cinta teragungmu. Janganlah sekali-sekali kau cari bahagiamu itu. Karena semuanya, telah nyata dihadapanmu. Di hadapan kita, di hadapan dunia.

Jangan pernah merasa sendiri, kakak. Dunia tak pernah meninggalkanmu….
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Award Lagi...!!


Dari “kakakku” Laurencia. Trims ya mbak….

Rules:
  • Copy paste gambar di atas untuk diteruskan;
  • Pilih beberapa orang yang hendak diteruskan;
  • Berikan alasannya;
  • Kirim pesan kepada "sang terpilih".

Ini award kedua saya. Yang pertama, baru kemarin saya dapat, hehehe..... Bingung juga nie mau ngasi award ke siapa....


Jiwa: Gak usah bingung wen', kasi aja ke orang2 yang sering ngasi comment di postinganmu!

Hati: Siapa donkz???? Cukup banyak yang ngasi comment. Aku bingung..!!!!

Jiwa: Kalo masih bingung, pilih acak aja, gggrrrrrrr......

Hati: **#&$**#Hati: **#&$**#$&*?????!!!!!


Siapa ya??? Udahlah, saya mau kasi award ini untuk 5 orang saja:


Blogger Addicter; yang tetap menyempatkan diri ngeronda di sudut mata

Gelly; teman yang sempat menghilang dan baru hari ini muncul lagi, hahahaha...

Mas Enchipz; blogger yang (menurutku) paling bersemangat

Gadis Rantau; tetap semangat ya, mbak

Elmo; trims atas guyonannya


*****
Jiwa: Trus yang lainnya gimana, Wen'?

Hati: Katanya disuruh acak?? Gimana sich?!!

Jiwa: **#&$**#$&*?????!!!!!
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Dapat Award!

What??!!!! Di sela-sela kesibukan ternyata saya dapat berkah; AWARD!!! Hahahaha… Award pertama ini saya terima dari Dinda. Trims ya….


The rules are:
1. Put the logo on your blog,
2. Add a link to the person who awarded you,
3. Nominate at least 7 other blogs,
4. Add links to those blogs on yours,
5. Leave a message for your nominees on their blogs,

And this award goes to:
Nanoq da Kansas;
guru, kakak, sahabat, sekaligus rival yang selalu iklas membimbingku

Designer Gila (MC);
yang sangat berjasa pada layout sudut mata

Cerita Senja;
untuk semua persahabatannya (kita udah bersahabat belum ya??? hehehe…)

Arjuna;
adek kecil yang menyenangkan

Dede;
trims untuk komentar membangunnya

Dadap;
aku suka dengan gagasan-gagasan nyelenehnya

Jovie;
top commentator
sudut mata

Terima kasih untuk semua dan……… MUNTAHKAN PIKIRANMU!!!!
Muntahkan pikiranmu, sobat...

Aku “Benci” Indonesia

Tanah ini tak subur lagi. Ia ditikam berbagai permasalahan dan “keangkuhan” masa lalunya. Air ini tak menyejukkan lagi. Ia menjelma tangis ditengah badai yang menyayatnya.

Aku “benci” Indonesia. Setiap detik, selalu saja terdengar jeritan anak bangsanya. Menjadi bagian peradaban bangsa ini, tak ubahnya hidup dengan berbagai harapan. Harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera secara berkeadilan, yang kemudian (mungkin), menjelma mimpi-mimpi semata.

Aku “benci” Indonesia. Aku “benci” dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk yang setiap saat terjadi. Sejarah telah mencatat berbagai tragedi yang menimpa bangsa ini. Ironisnya, itu dilakukan anak bangsanya sendiri! Belum lagi selesai satu permasalahan, muncul lagi permasalahan lainnya. Bahkan yang lebih parah, sebuah permasalahan terkesan memang sengaja diciptakan untuk menutupi permasalahan lainnya.

Aku “benci” Indonesia. Bahkan saking besarnya rasa “benci”-ku ini, rasa itu berubah menjadi rasa sayang. Rasa sayang yang teramat sangat! Aku selalu bermimpi. sejarah tak lagi mencatat perjalanan bangsa ini dengan catatan-catatan kelamnya. Aku menginginkan, Indonesia mampu menjadi sebuah negara yang benar-benar berdaulat dan mampu membawa kesejahteraan masyarakatnya secara berkeadilan. Tapi tentunya, tetap mengutamakan prinsip persamaan hak!

Aku menginginkan, bangsa lain menghormati bangsa kita karena derajat dan martabatnya. Aku menginginkan bangsa lain menghormati dan memberi “penghargaan” terhadap bangsa kita atas perilaku mulia anak bangsanya. Aku ingin Indonesia menjadi bangsa yang rendah hati, tapi tetap bermartabat dan menjaga jati dirinya sendiri.

Ternyata di balik kebecianku, aku memiliki rasa sayang yang teramat besar kepada bangsa Indonesia. Aku akan tetap setia dan menjadi bagian bangsa ini untuk mewujudkan segala impian, yang mungkin saja, juga menjadi impian seluruh anak negeri ini.

Ya, ternyata dibalik ke-”benci”-anku, aku sangat mencintai bangsa ini; INDONESIA….
Muntahkan pikiranmu, sobat...

 
Wendra Wijaya

Buat Lencana Anda