Ayu Laksmi dalam Sanur Village Festival; Bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion dan Nyanyian Dharma

Berdasarkan sejarah masa lalu, Sanur menjadi tempat para pendamba kedamaian yang berharap sinar suci Tuhan. Ini tidaklah terlepas dari aura spiritual yang terpancar demikian kuat, yang bersumber dari orang-orang suci yang (sempat) singgah di sana. Konon, di masa lalu, denting genta dan doa selalu bergema dari wilayah Sanur, hingga merambat ke relung-relung jiwa.


Aura yang memancar di Sanur inilah yang selalu membawa kerinduan Ayu Laksmi untuk sesekali datang ke sana. Meskipun bukan berasal dari Sanur, ia merasa intim dengan suasana alamnya, dengan keberadaan pohon-pohon besar yang masih terjaga. Sanur seolah selalu memanggilnya untuk kembali, untuk menziarahi masa lalu yang merupakan pusat pencarian dan penempaan spiritualitas. “Sinar matahari, bagi saya, adalah kesucian itu sendiri. Karena itu saya percaya, tempat dimana matahari terbit merupakan kawasan yang diselimuti aura putih, suci, dan bersih,” katanya.

Sanur dan masyarakatnya berkembang dengan mengedepankan spiritual dan upacara. Sebagaimana masyarakat Bali kebanyakan, setiap laku hidup masyarakat Sanur merupakan sebuah perayaan terhadap kehidupan, yang mana didalamnya menghasilkan produk seni budaya yang masih demikian kuat mengakar hingga sekarang.

“Mengingat Sanur merupakan salah satu destinasi pariwisata dunia, tentu kita harus memberi apresisasi positif bagaimana upaya masyarakatnya menjaga kesenian tradisi agar tetap mengada di tengah gempuran budaya asing. Salah satu yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan Sanur Village Festival. Mudah-mudahan Sanur tetap seperti ini, tetap menjadi desa budaya internasional,” ucap Laksmi.

Laksmi sendiri dijadwalkan pentas dalam event tahunan yang mulai diselenggarakan sejak tahun 2006 silam tersebut pada 4 dan 5 Agustus. Ia akan tampil sebagai performer tunggal pada pembukaan event, yang “dikawal” oleh Magic Finger Balawan and Batuan Ethnic Fusion. Jika merunut ke belakang, ini pertama kalinya Laksmi tampil sebagai performer tunggal, mewakili dirinya sendiri. Sebelumnya, ia selalu tampil bersama Tropical Transit, band legendaris dari Bali.

“Dalam event kali ini, saya juga bernyanyi bersama Nyanyian Dharma tanggal 5 Agustus. Jadi pada pembukaan saya main, besoknya main lain. Mudah-mudahan penontonnya gak bosan dengar Ayu Laksmi magending (bernyanyi), hahahaaa….,” katanya.


Tahun 2010 ini merupakan kali kelima Laksmi perform dalam Sanur Village Festival. Dengan demikian, ini berarti ia selalu didaulat untuk mengisi event yang tahun ini mengangkat tema “Saha Nuhur”, yang mengandung makna permohonan bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan sinar suci (nuhur atau nur) yang menjadi spirit dari berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat.

Ketua Umum Panitia, Ida Bagus Sidharta Putra, mengatakan keberadaan event tersebut merupakan sebuah penegasan jika pihaknya memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan warisan seni dan budaya. “Kegiatan komersial di Sanur selalu diiringi dengan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti yang dilakukan para pendahulu,” tutur pria yang akrab disapa Gus De.

Salah satu upaya pelestarian lingkungan yang dimaksud Gus De adalah keberadaan pohon intaran atau mimba atau neem (azadirachta indica) yang banyak tumbuh di wilayah Sanur. Seluruh bagian pohon tersebut bermanfaat bagi manusia. Nilai historis pohon intaran ini akan diangkat dan dikombinasikan dengan sejarah Sanur, yang sampai saat ini diabadikan menjadi nama kawasan desa wisata ini.

“Ini menjadi bukti kedekatan pohon intaran dengan Sanur. Program lingkungan ‘go green’ yang sempat diusung tahun lalu sangat erat kaitannya dengan program penanaman pohon intaran. Pohon ini pula akan dijadikan ikon Sanur yang ikut memberikan spirit dan harmoni antara alam, manusia, dan Sang Pencipta seperti filosofi Tri Hita Karana,” katanya.

Sementara untuk pertama kalinya, festival seni budaya masyarakat Sanur yang dijadwalkan berlangsung pada 4-8 Agustus mendatang akan menampilkan “The Art Kampoeng” atau kampung seni, yang menghadirkan suasana kehidupan masyarakat setempat pada tempo dulu. Suasana masa lalu itu akan dihadirkan pada area khusus, yang menampilkan berbagai kegiatan, yang didesain menjadi tempat berkumpulnya para seniman.

“Di sana mereka akan dapat berinteraksi serta menikmati karya seni rupa kontemporer di luar lingkungan galeri atau ruang pamer konvensional,” demikian Gus De.

Lihat Tulisan Lainnya:



0 komentar sahabat:

Posting Komentar

 
Wendra Wijaya

Buat Lencana Anda