Pemilu Oh Pemilu....

BERGEGAS! Mungkin istilah ini sangat tepat untuk menggambarkan hiruk-pikuk persiapan pesta demokrasi Pemilu 2009. Bisa kita lihat, bagaimana jumlah partai politik peserta Pemilu yang berjibun hingga lebih dari 30 partai, hingga peraturan perundang-undangan yang lahir untuk mengatur perilaku terkesan lebih diciptakan atas sebuah reaksi, bukan dipersiapkan sebagai sebuah antisipasi secara konseptual.

Belum lagi jika kita menilik pemahaman dan penafsiran akan peraturan perundang-undangan yang ada, benar-benar membuat para Pemilu 2009 ini menjadi wilayah hingar-bingar yang tidak bertuan. Saat ini tidaklah pernah menjadi jelas, siapa pemain dan siapa penyelenggara. Semuanya gamang atau dibuat gamang. Entahlah! Maka, tidaklah berlebihan kalau kemudian masyarakat awam mengeluh atas persiapan penyelenggaraan pesta demokrasi ini.

Kondisi politik demokrasi bangunan peradaban bangsa menjelang Pemilu 2009 memang hingar bingar. Ini tidak hanya terjadi di lingkup pusat saja, tapi secara tak langsung juga sudah menurun hingga ke daerah-daerah. Apalagi jika dilihat dari fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, tumpang tindih aturan yang dibuat masing-masing lembaga membuat persiapan Pemilu 2009 mendatang bak benang kusut yang tak berujung pangkal. Darimana mulai mengurainya, entahlah!

Banyak kalangan menyatakan, Pemilu 2009 ini dilakukan secara bergegas. Salah satu contoh masalah yang mendasarinya terkait dengan sistem pencoblosan yang belum sepenuhnya siap. Artinya, sistem contreng yang kini diberlakukan masih menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Tetapi mau bagaimana lagi, sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, keniscayaan yang terjadi di dalam prosesi ini haruslah dilakukan dan dilalui, apapun tantangannya.

Pelecehan demokrasi
Permasalahan yang mengemuka ternyata tidak hanya sebatas itu, tetapi juga terjadi di internal partai politik peserta Pemilu sendiri. Jika kita mau memandangnya secara arif, sebenarnya tidaklah banyak partai yang siap bertarung dalam prosesi politik demokrasi yang bernama Pemilu. Pembentukan partai-partai baru tak lebih dari sebuah bentuk ketidakpuasan.

Yang sangat disayangkan, pembentukan partai baru yang dibuktikan dengan berjibunnya jumlah partai politik peserta Pemilu ini telah mengabaikan esensi demokrasi itu sendiri. Dengan kata lain, kata demokrasi telah dijadikan alasan untuk membentuk sebuah partai baru yang sayangnya mengabaikan esensinya. Maka tak berlebihan jika ada pandangan yang menyatakan bahwa hal ini merupakan sebuah bentuk pelecehan demokrasi.

“Bukankah esensi pembentukan partai itu adalah sebagai wadah untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat? Partai politik adalah sebuah alat perjuangan. Tapi realitanya, kebanyakan parpol hanya berorientasi untuk mengejar kekuasaan saja, bukan mengusahakan peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Ketika tujuan parpol terpenuhi (memenangi Pemilu), selesai sudah. Keadaan rakyat tetap sama, tak terjadi perubahan sedikit pun. Keadaan ini sudah dapat dibaca dengan sangat jelas. Eforia (pembentukan partai politik) ini memang telah membuat orang lupa diri. Tetapi mau bagaimana lagi?” demikian pandangan beberapa kalangan.

Pertanyaan demi pertanyaan memang tengah mengemuka di dalam benak masyarakat, mulai dari aturan perundang-undangan yang tumpang tindih hingga keberadaan puluhan parpol peserta Pemilu. Sementara itu, jumlah pemilih masih tetap sama. Jika mengalami perubahan, itu pun tidak seberapa. Berdasarkan data KPUD Jembrana, jumlah pemilih yang sudah tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 202. 455 pemilih.

Jika melihat berbagai permasalahan yang mengemuka menjelang pesta demokrasi ini, maka pantaslah masyarakat menjadi bingung. Tetapi mau apa lagi? Sekali lagi, inilah sebuah keniscayaan demokrasi yang harus dilalui. Lantas, apa yang dapat diharapkan dari sebuah proses demokrasi bergegas ini? Entahlah!

Lihat Tulisan Lainnya:



10 komentar sahabat:

JoVie mengatakan...

pertamaxx dulu akh..nyobain corat coret di baju barunya Wendra :D

subagya mengatakan...

keduaaaax..... mungkin demokrasinya lagi kejar setoran.. karena ini ladang duit juga buat para politikus-politkus itu.... btw bajunya baru euuy....

pak de'a mengatakan...

Mau gimana lagi. Kita dibawah cuma bisa nerima aja. Nasiiibbb...!!!

gadis kecil mengatakan...

Wah, aku sich belum tau nie tentang Pemilu. Maklum, Pemilu sekarang pertama kalinya nyoblos, hehee..

Tapi kalau membaca tulisan ini, sepertinya kok Pemilu itu ribet banget ya, heheee...

atca mengatakan...

ya kita ikuti sesuai hati nurani..
he3...sok tau nihh

gdenarayana mengatakan...

makin mantap dengan tampilan dan wajah baru sekaligus biz nya ;)

sukses bro :)

utk pemiluxxx saya engga terlalu doyan bro...kekekeke

Secret 4 SEO mengatakan...

enaknya pemilu bsk ikut gak yah sikap peduli bangsa harus tumbuh nih ^^

Anonim mengatakan...

Traditionally, Ugg Boots rugby boots were of a high cut Uggs above the ankle to provide additional Cheap Ugg Boots ankle support. This was seen as appropriate Ugg Boots UK given the nature of the game,UGG Australia particularly the stresses of forward play, Ugg Boots Sale and the amount of physical contact involved and to provide protection against knocks

Posting Komentar

 
Wendra Wijaya

Buat Lencana Anda